Kebaikan Sebuah Pernikahan

Kebaikan Sebuah Pernikahan
Bab 33. Rencana Pernikahan


__ADS_3

Waktu bergulir begitu cepat. Detik berganti menit, hingga tidak terasa acara yang memang hanya di hadiri oleh anggota keluarga itu telah usai. Anak-anak kecil yang begitu menikmati momen-momen bahagia, sudah terlelap di kamar bersama orang tua merek masing-masing.


Begitu pun dengan Kayra. Gadis kecil itu baru saja terlelap di atas ranjang milik laki-laki yang selalu ia sebut dengan panggilan Papa.


Setelah memastikan putrinya sudah terlelap dengan begitu nyenyak, Kia segera melangkah keluar dari dalam kamar itu. Tadi, sebelum berpamitan untuk menemani Kayra tidur, orang tua Alfan mengajaknya untuk berbicara mengenai rencana pernikahan.


Sejujurnya, ia tidak menyiapkan apapun untuk pernikahan. Karena selama ini, ia tidak pernah berniat menikah dengan siapapun meskipun Alfan sudah berulang kali melamarnya.


Terusan panjang lengkap dengan hijab yang di belikan Alfan tadi siang, masih melekat di tubuhnya. Ia melangkah perlahan menuju ruangan di mana orang-orang sedang menunggunya.


Sedikit canggung bercampur grogi begitu menggangu. Namun, Kia berusaha untuk terlihat biasa saja, karena hanya di rumah ini ia dan Kayra di terima dengan begitu baik oleh penghuninya.


"Maaf Kia sudah membuat kalian menunggu." Ucapnya saat sudah memasuki ruangan di mana kedua orang tua Alfan sedang menunggu.


"Ngga apa-apa. Kay sudah tidur?" Tanya Arion.


"Iya, Om." Jawab Kia sopan.


"Duduklah." Ucap Arion lagi.


Kia pun membawa tubuhnya dan duduk di sofa tunggal.


"Jadi rencana kapan?" Tanya Arion setelah memastikan Kia duduk dengan nyaman.


"Kia belum ada rencana apa-apa, Om. Ikut aja gimana baiknya." Jawab Kia.


"Kalau dia mau nikahin kamu malam ini, kamu ikut juga?" Tanya Danira terkejut. Belum pernah ia menemui wanita se-patuh ini.


Kia terkejut, sedangkan Alfan justru tidak bisa menahan tawanya saat melihat ekspresi ketakutan di wajah Kia.

__ADS_1


"Kamu mau konsep pernikahan yang seperti apa?" Tanya Arion lagi.


Kia menoleh, menatap Alfan yang masih saja memasang senyum di sebelahnya. Sedangkan laki-laki yang ingi ia mintai pendapat, hanya mengangkat bahunya.


"Mia ikut aja apapun yang di siapkan, Om. Alangkah lebih baik, nikahnya sederhana saja. Untuk menjaga perasaan Kayra." Ucap Kia pelan.


"Baiklah. Mengenai laki-laki yang bertemu dengan kalian tadi siang, jangan terlalu di pikirkan. Keluarganya tidak akan berani melangkah lebih jauh untuk merebut Kayra dari mu." Ujar Arion.


"Terimakasih, Om. Kayra adalah yang terpenting dalam hidup Kia." Ucap Kia sopan.


"Kami tahu kok. Dan keputusanmu menerima Alfan, sudah tepat. Karena kami akan memiliki hak yang sama untuk melindungi Kayra, jika kamu sudah resmi menjadi bagian dari keluarga kami."


Kia bernafas lega. Mendengar kalimat calon mertuanya, membuat sesuatu yang selama mengganjal l di dadanya, hilang begitu saja.


"Karena kamu hanya akan mengikuti rencana keluarga ku, jadi aku memutuskan kalau pernikahan kita akan di laksanakan tiga hari lagi. Semakin cepat semakin baik, Kia. Aku ingin segera mendaftarkan Kayra secara hukum sebagai anak ku. Aku yakin, setelah melihat mu dan Kay tadi, Aryan pasti tidak akan tinggal diam." Ucap Alfan.


"Jangan terlalu khawatir. Ayahnya kembali mengajukan diri sebagai bakal calon, dan semua anak-anaknya pasti akan lebih hati-hati lagi dalam bersikap."


"Tapi memang benar yang di katakan Alfan, Pi. Lebih cepat lebih baik." Danira menimpali pembicaraan. Bukan karena khawatir keluarga Aryan akan kembali mengganggu Kia. Baginya, untuk menjauhkan keluarga nya dari orang-orang seperti itu, adalah hal yang muda. Namun, yang ia inginkan adalah, agar Kia akan segera menetap di rumah nya ini. "Tiga hari lagi kalian akan menikah. Biar Mami yang siapkan semuanya, kamu hanya perlu mempersiapkan diri kamu sendiri." Sambungnya lagi.


"Iya, Tante. Terimakasih banyak untuk dukungannya selama hampir enam tahun ini. Entah akan seperti kehidupan Kia dan Kayra tanpa kalian." Ucap Kia.


Danira tersenyum.


"Karena pembicaraan telah selesai, kamu boleh boleh pergi." Usir nya pada sang putra.


Alfan cemberut. Sebenarnya ia masih ingin berada di rumah ini, dan bercerita banyak hal pada Kia. Namun, dari pada nanti pernikahannya akan di batalkan oleh wanita paruh baya ini, lebih baik untuk saat ini ia mengalah. Toh, setelah menikah nanti, ia dan Kia akan memiliki waktu yang banyak untuk membahas banyak hal di antara mereka berdua.


"Baiklah, Alfan pulang." Ucapnya.

__ADS_1


Lelaki itu beranjak dari atas tempat duduknya, lalu menyalami punggung tangan kedua orang tuanya takzim.


Melihat Alfan yang sudah melangkah menuju pintu keluar, Kia pun ikut beranjak dari sofa dan melangkah mengikuti Alfan hingga menuju pelataran rumah di mana mobil laki-laki itu sedang terparkir.


"Terimakasih, Fan. Dan hati-hati di jalan." Ucap Kia pelan.


Alfan yang tidak tahu jika Kia sedang mengikutinya, seketika berbalik.


"Kamu ikutin aku? Kalau pernikahan kita batal gimana?" Tanya Alfan khawatir sambil melirik pintu utama.


Kia menatap laki-laki di depannya dengan bingung. Memangnya apa yang dia lakukan hingga harus membuat pernikahan mereka batal.


"Masuk, di luar dingin." Ucap Alfan lagi. Kali ini sudah jauh lebih lembut dari biasanya..


Kia mengangguk.


"Sampai ketemu tiga hari lagi." Ucapnya.


"Nggak, besok aku akan datang lagi, bertemu kamu dan Kayra." Jawab Alfan.


Kia tersenyum.


"Baiklah, sampai bertemu besok." Ucapnya lagi lalu berbalik untuk kembali masuk ke dalam rumah.


"Aku mencintai mu, Kia." Ucap Alfan membuat langkah kaki Kia terhenti. Wanita itu kembali membalik tubuhnya, dan menatap lekat ke arah laki-laki yang juga sedang menatapnya lekat.


"Sejak dulu, sebelum kamu mengenal dia aku sudah lebih dulu jatuh cinta padamu." Ucap Alfan lagi membuat Kia semakin terperanjat "Aku aja yang terlalu pengecut menjadi laki-laki." Sambungnya dengan tawa meledek dirinya sendiri. Sedangkan Kia masih mematung di tempatnya berdiri, sambil terus memperhatikan laki-laki yang ada di hadapannya.


"Maaf, seharusnya aku bisa lebih berani mengungkapkan perasaan ku. Jika saja dulu aku lebih berani menawarkan sebuah kehidupan baru padamu, mungkin kejadian yang nyaris merenggut nyawa mu dan Kay di rumah sakit itu, tidak akan pernah terjadi." Ujar Alfan lagi.

__ADS_1


"Semua yang terjadi sudah menjadi rencana Allah. Aku tidak pernah menyesalinya. Namun, malam ini aku lebih bersyukur, karena lewat kejadian itu, aku di pertemukan dengan Tante Danira. Aku benar-benar berterimakasih atas semuanya, Fan." Jawab Kia sambil terus menatap lekat ke atas Alfan.


__ADS_2