
Sama seperti yang terjadi di dalam kamar di mana Kia berada, di ruang kerja nya, Aryan pun tidak bisa memejamkan matanya. Lelaki itu menutup kedua mata nya menggunakan lengan, namun, lelap yang ia inginkan tak kunjung menyapa. Rindu, yah bahkan baru beberapa jam saja ia tidak memeluk tubuh mungil Kia saat ingin beristirahat dari lelahnya hari, sudah begitu menyiksa. Lalu, bagaimana nanti jika wanita yang ia cintai itu benar-benar akan pergi meninggalkan dirinya sendirian?
"Argghhh.." Teriak Aryan frustasi. Ia bangun dari baring nya, lalu duduk di atas sofa tempat ia berada. Mengusap rambut dan wajah nya dengan kasar, kemudian beranjak dari sofa tersebut dan gegas melangkah keluar dari dalam ruangan itu. Jangan di tanya lagi ke mana tujuannya, tentu saja menuju kamar di mana istri kecil nya berada. Terlelap tanpa memeluk Kia, sungguh begitu menyiksa.
Tidak membutuhkan waktu lama, Aryan sudah berada di depan pintu kamar yang biasanya ia dan Kia gunakan untuk melepas penat setelah seharian bertahan melewati berbagai masalah. Beberapa menit berlalu, Ia masih berdiri di depan pintu kamar tidur di mana Kia berada. Ingin sekali mengetuk pintu itu, namun, takut jika Kia akan semakin membenci nya.
"Sayang..." Panggilnya tanpa mengetuk pintu. Jantung nya berdetak, takut jika Kia akan kembali mengusirnya.
"Kia, aku masuk ya. Aku benar-benar ga bisa tidur di kamar lain." Ucap Aryan lagi, memohon.
Karena tidak mendapat jawaban dari dalam kamar, Aryan memberanikan diri memutar handel pintu, dan melangkah masuk ke dalam kamar itu dengan perlahan.
"Kamu sudah terlelap." Ucap nya lirih sambil menatap punggung Kia yang berbalut mukenah. "Kamu baru saja aduin aku pada Allah, ya? Ga apa-apa, laporin aja karena aku udah jahat banget sama kamu." Ucap Aryan lagi, sambil terus berdiri mematung di pinggir ranjang.
Kamar itu begitu tenang, tidak ada suara dari wanita yang sedang berbaring membelakangi nya di atas ranjang. Bahkan dengkuran halus khas orang tidur pun, tidak terdengar di ruangan itu.
Aryan kembali memberanikan diri melangkah lebih dekat ke samping ranjang di mana Kia tengah terlelap. Namun, betapa terkejut nya dia, saat mendapati Kia bukan sedang terlelap, tapi tak sadarkan diri dengan busa putih yang merembet keluar dari sudut bibir istrinya itu.
"Kia... Kia..." Teriaknya sekeras mungkin. Berharap wanita yang kini sudah berada di dalam dekapan nya, terjaga.
__ADS_1
"Kia, bangun Sayang.." Ucap Aryan dengan tubuh yang bergetar ketakutan. Beberapa saat manik yang selalu membuat nya jatuh cinta, terbuka. Namun, kembali tertutup rapat setelah menatap nya sendu.
"Kia jangan tinggalkan aku. Ya Tuhan, maafkan aku, Sayang." Meskipun lututnya seakan mau lumpuh, Aryan tetap membawa Kia keluar dari dalam kamar tidur, lalu menuruni satu per satu anak tangga menuju ruangan depan. Suaranya yang terus saja berteriak memanggil-manggil nama Kia, membuat penghuni lain di rumah itu ikut terjaga dari lelap mereka.
"Ada apa?" Tanya Aryo. Laki-laki itu mengikuti langkah adik nya yang begitu terburu-buru keluar dari rumah utama.
"Mas, bantuin Aryan." Ucap Anggi. Wanita yang terlihat tidak begitu peduli dengan urusan pribadi keluarga mertuanya itu, tiba-tiba berucap lirih, hingga membuat Aryo menatap heran ke arah istri nya. "Pasti sesuatu yang buruk telah terjadi pada Kia." Sambung nya lagi.
Tanpa menjawab perintah istrinya, Aryo segera melangkah keluar menuju halaman rumah, menyusul adik nya.
"Biar aku yang menyetir. Aku ngga mau ambil resiko pernikahan kamu batal, dan Papa mengamuk." Ujar Aryo. Laki-laki yang hanya mengenakan piyama serta sweater rajut itu, masuk ke dalam mobil dan duduk di bangku pengemudi. "Sudah aku bilang, jangan paksa Kia bertahan dalam keluarga kita, tapi kamu begitu keras kepala, Aryan." Ujar Aryo lagi setelah tahu apa yang sedang terjadi pada adik ipar nya.
"Maafkan aku, Kia. Aku minta maaf karena sudah menyiksa mu sampai seperti ini." Aryan masih terus tersedu sambil memeluk erat tubuh Kia, bersamaan dengan mobil yang melaju kencang di jalanan Jakarta. Beruntung, saat ini sudah sangat larut, membuat jalanan yang biasanya di penuhi banyak kenderaan, nampak terlihat lenggang.
Setelah mobil yang sedang di kendarai Aryo berhenti di depan halaman rumah sakit, Aryan segera keluar dari dalam mobil, lalu membawa tubuh Kia menuju ruang gawat darurat. Kata maaf, masih terus terucap dari bibir nya yang bergetar.
"Tolong istri saya!" Teriak Aryan.
Beberapa orang perawat yang bertugas malam itu, segera mengambil brangkar, lengkap dengan alat-alat medis lainnya. Beberapa saat kemudian, wanita yang sedang mengenakkan jas putih dengan terburu-buru, ikut mendekati brangkar yang mulai melaju masuk ke dalam ruangan.
__ADS_1
"Mas turun kan aku. Aku bukan orang lumpuh." Suara lembut membuat Aryan teralihkan. Ia menatap sendu sepasang suami istri yang begitu saling menyayangi di ujung sana. Terlebih istri nya sedang hamil besar, dan mungkin sedang mempersiapkan diri untuk menanti buah hati mereka.
Setelah beberapa saat melihat adegan yang membuat nya iri, Aryan melangkah menuju kursi tunggu di depan ruangan di mana iatrinnya sedang di tangani oleh petugas medis.
Berbeda dengan Aryan yang terlihat iri, Azam justru melihat pasien yang baru saja melewati diri nya dan sang istri, dengan seksama. Ia merasa pernah melihat wanita yang sedang tak sadarkan diri di atas brangkar itu, namun, ia lupa di mana.
"Ada apa, Mas?" Tanya Trias.
Azam segera menggeleng. Ia masih melirik sejenak pintu ruangan yang sudah tertutup rapat, kemudian mengajak istrinya untuk kembali ke ruangan mereka.
"Mas gendong ya." Pinta nya lagi pada Trias. Namun, segera mendapatkan gelengan kepala dari istri nya itu.
"Banyak berjalan akan mempermudah proses persalinan, Mas." Jawab Trias.
"Kenapa ga di Caesar aja sih, Sayang." Ucap Azam.
"Aku ngga punya resiko yang memaksakan dokter untuk melakukan operasi, Mas. Aku dan bayi kita sehat-sehat aja. Lagi pula proses penyembuhan pasca melahirkan normal, jauh lebih cepat dari pada pembedahan." Trias sudah memeluk lengan Azam. Kecupan yang selalu membuat hatinya menghangat, kembali mendarat dengan sempurna di puncak kepalanya.
"Aku hanya takut kamu kesakitan." Ujar Azam, membuat Trias menyunggingkan senyum manis nya.
__ADS_1
Ia sungguh beruntung, kerana Allah menghadiahkan orang sebaik Azam untuk menjaga nya.