
"Kok sudah di siapkan? Sejak kapan?" Tanya Kia heran saat tiba-tiba dua buah paket berisi lengkap dengan seperangkat alat shalat juga sebuah kebaya berwarna putih sudah berada di hadapannya yang sedang memilih-milih berkas yang akan di perlukan di kantor urusan agama.
"Kan aku sudah bilang, lima tahun bukanlah waktu yang singkat untukku menunggu. Aku ga tahu, kebaya ini masih muat di tubuh mu atau tidak, karena memang sudah aku siapkan sejak lama." Jawab Alfan.
Kia tidak lagi bisa berkata-kata. Hanya bisa menatap dua buah paket yang sudah di hias dengan begitu indah bergantian dengan wajah Alfan.
"Aku akan mencobanya nanti, setelah selesai menyiapkan ini." Ucap Kia sambil tersenyum. Bersyukur? Yah, hanya ia dan Allah yang tahu berapa bersyukurnya ia hari ini, karena di beri kesempatan untuk bersama dengan orang-orang baik seperti keluarga Alfan.
"Jangan lama. Aku ngga sabar mau lihat seberapa cantik kamu mengenakan ini." Usap Alfan di atas kotak yang berisikan kebaya putih untuk Kia kenakan. "Oh iya, Mami juga sedang membantu Kayra berganti pakaian." Ucap Alfan lagi sebelum kemudian berlalu dari ruang keluarga tempat Kia sedang menyiapkan berkas yang akan di perlukan nanti.
Kia semakin tersenyum lebar, sambil memperhatikan tubuh tinggi Alfan yang semakin melangkah menjauh dari ruangan tempat dirinya berada.
"Terimakasih." Gumamnya walau tidak bisa di dengar olah Alfan.
Setelah Alfan tidak lagi terlihat, Kia kembali melanjutkan pekerjaannya agar cepat selesai. Kemana aja di selama lima tahun ini, hingga harus menjalani pernikahan yang begitu terburu-buru seperti hari ini. Seharusnya, lima tahun ini, ia bukan hanya terus menerus menolak ajakan Alfan untuk menikah, akan tetapi lebih ke mempersiapkan diri jika sewaktu-waktu dirinya bersedia seperti hari ini.
Ah, dasar dirinya saja yang labil. Benar-benar kehidupan yang di penuhi oleh keraguan. Tapi, bukankah kebanyakan wanita yang pernah berada di situasi menyedihkan karena di tinggal suami, akan melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan?
Menerima cinta yang baru, setelah di lukai oleh cinta yang lama, memang akan sulit di lakukan oleh seorang wanita seperti dirinya. Karena, jika menikah, bukan hanya tentang dirinya sendiri. Bukan hanya mencari laki-laki yang bisa menerima dan mencintai dirinya, tetapi juga harus bisa menerima dan mencintai putri nya.
Karena apapun nanti, dirinya dan Kayra adalah sepaket yang sampai kapan pun tidak akan bisa di pisahkan.
Beberapa saat kemudian, Kia beranjak dari sofa tempat ia duduk. Membawa sisa-sisa berkas yang tidak di perlukan untuk di bawa kembali ke dalam kamar, dan menyimpan rapi berkas yang sudah ia siapkan serta kotak berisi seperangkat alat shalat di atas meja sofa
Ia lalu melangkah menuju kamar tidur bersama satu buah paket berisi kebaya yang akan ia kenakan hari ini.
__ADS_1
Sepeninggal Kia menuju kamar, Alfan yang sudah rapi dengan pakaian yang formal lengkap dengan jas yang biasanya ia kenakan saat bertemu klien penting, sudah kembali ke ruangan yang tadinya sedang Kia gunakan untuk menyiapkan berkas yang akan mereka perlukan nanti.
Beberapa saat kemudian, Danira dan Arion serta Kayra juga ikut masuk ke dalam ruangan itu. Seorang suami istri paruh baya itu, nampak begitu bahagia. Meskipun pernikahan anak-anaknya terkesan buru-buru, keduanya tidak terlalu mempermasalahkan nya. Toh, megah dan meriahnya suatu acara, akan sama hasilnya, yaitu ingin meraih sakinah dan mawadah, itu saja.
"Kia mana?" Tanya Danira. Wanita paruh baya itu sudah rapi dengan terusan panjang nya.
"Mungkin masih di kamar, Mi." Jawab Alfan.
"Kamu dari mana?" Tanya Danira lagi sambil memperhatikan putranya yang sudah rapi. "Maksud Mami, kamu mengganti pakaian kamu di mana?" Tanyanya lagi dengan tegas.
"Ya Allah, Mi. Kan bentar lagi sah. Udah
lah ga apa-apa." Jawab Alfan dan langsung mendapat pukulan dari Danira.
"Iya Alfan tahu kok. Tadi Alfan hanya mengambil baju ganti saja, lalu kembali ke kamar tamu saat Kia sedang sibuk di sini, menyiapkan berkas-berkas." Jawab Alfan sambil mengusap-usap bagian tubuhnya yang terkena pukulan.
Danira membawa tubuhnya dan duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
"Anak Papa cantik banget sih." Ucap Alfan lagi.
Gadis kecil yang sedang duduk di atas pangkuan kakek nya, tersenyum manis.
"Cantik kan, Pa. Ini Oma yang beli." Ucap Kayra dengan suara yang menggemaskan. Memamerkan gaun putih yang begitu cantik dan pas di tubuh kecilnya.
"Iya, cantiknya pake banget." Jawab Alfan membuat gadis kecil itu semakin tersenyum lebar.
__ADS_1
Cukup lama menunggu di ruang keluarga, Kia akhirnya tiba di ruangan itu dengan kebaya berwarna putih yang terlihat begitu pas di tubuh nya. Hijab berwarna senada, membuat wajah cantiknya semakin terlihat begitu menyejukkan bagi siapa saja yang menatapnya.
"Kia tidak bisa memakai make up berlebihan, Tan." Ucap Kia merasa bersalah.
"Ga apa-apa, kamu udah cantik kok." Jawab Alfan.
Danira langsung mengangguk mengiyakan ucapan putranya.
"Natural seperti ini, jauh lebih cantik. Mami yakin, penghulunya nanti pasti akan jatuh cinta padamu." Ucap nya membuat Alfan cemberut..
"Ayo." Ajak Alfan kesal.
"Semoga semuanya akan lancar-lancar saja. Bukan hanya hari ini, tapi nanti setelah pernikahan ini terlaksana." Ujar Arion menimpali.
Kia mengaminkan kalimat calon Ayah mertua nya di dalam hati. Yah, ini yang kedua kalinya ia memutuskan untuk memulai hidup bersama laki-laki yang sudah Allah pilihkan untuk nya.
Tidak banyak yang ia harapkan dari pernikahan ini, hanya meminta pada sang kuasa untuk tidak lagi menghadirkan luka yang sudah pernah ia rasakan dulu. Berharap kejadian hampir enam tahun yang lalu, hanya di ibaratkan sebagai hujan yang akan menghadirkan pelangi indah hari ini.
Berharap kejadian menyedihkan di pernikahannya bersama Aryan dulu, hanyalah sebuah ujian untuk membawa pada pernikahan yang jauh lebih baik bersama Alfan hari ini.
Setelah memastikan semuanya siap, keluarga itu segera keluar dari rumah menuju mobil yang sedang terparkir di pelataran rumah.
Alfan masuk ke dalam mobil tepat di depan kemudi. Begitu pun dengan Arion, setelah mematikan istri dan calon menantunya duduk dengan nyama. di bangku penumpang, ia pun ikut masuk dan duduk di samping putranya.
"Bismillah." Ucapnya. Berharap apapun langkah yang mereka tempuh hari ini, adalah yang terbaik. Meskipun terkesan begitu terburu-buru, ia berharap Allah senantiasa menjaga dan memastikan semuanya berjalan baik. Tidak ada hal yang paling membahagiakan bagi nya sebagai orang tua, selain bisa mengantarkan putranya menuju kehidupan baru.
__ADS_1