
"Nanti setelah aku menjadi halal untukmu, aku pasti akan mencintai mu juga, lebih dari rasa cinta mu padaku."
Kalimat singkat itu masih terus menari-nari di benak Alfan. Kalimat yang kembali memberinya harapan baru untuk hidup bersama wanita yang ia cintai itu, masih terus mengisi otaknya hingga mobil yang ia kendarai sudah memasuki pelataran apartment yang akan menjadi tempat tinggalnya untuk sementara waktu.
"Cie calon pengantin akhirnya pulang juga. Sibuk banget ya kamu, sampai-sampai aku harus bekerja hingga lupa mengantar hadiah ulang tahun untuk Arkana." Ujar Dimas kesal saat Alfan memasuki apartemen.
Alfan tersenyum mendengar kalimat sindiran penuh kekesalan dari sahabatnya.
"Senyum aja! Kamu tahu ngga, pinggang aku ini hampir patah karena tugas dan tanggung jawab mu." Ujar Dimas lagi masih dengan suara penuh kekesalan.
"Tenang aja, Dim. Nanti setelah aku nikah, kamu akan jauh lebih repot dari ini. Karena waktu ku akan lebih banyak di dalam kamar bersama Kia dari pada di kantor bersama mu." Jawab Alfan kemudian berlalu dari ruangan itu, meninggalkan sahabatnya yang sudah mengeluarkan tanduk kerbau.
Karena Alfan sudah menghilang di balik pintu kamar yang sudah tertutup rapat, Dimas kembali melanjutkan pekerjaannya dengan bibir yang terus mengomel, mengumpat dan memaki sahabat sekaligus atasannya.
"Aku mau tidur aja. Ah,, kenapa pekerjaan ini banyak sekali. Untung aja kamu bayar aku banyak, kalau ga aku tinggalin kamu sendirian." Omelnya lagi walau sudah tidak bisa di dengar oleh Alfan.
Di dalam kamar, Alfan berbaring di atas ranjang. Mengusap-usap layar ponselnya yang menampilkan gambar Kia dan Kayra saat masih bayi. Gambar yang ia ambil lima tahun lalu itu, ia pandangi dengan jantung yang terus berdebar.
Sejak dulu, hanya Kia yang mampu membuat kehidupannya jungkir balik. Dari seorang lelaki humoris, perpindah menjadi es balok berjalan. Lalu waktu kembali merubahnya menjadi sosok yang hangat layaknya seorang Ayah yang harus mematikan putrinya bahagia, yaitu ketika Kayra lahir ke dunia. Dan lebih membuat hatinya bahagia adalah, begitu baik rencana yang Allah tuliskan untuk hidupnya.
__ADS_1
Benarkah? Apakah Kia akan sangat mencintainya, sama seperti saat Kia begitu mencintai Aryan dulu? Bahkan ketika laki-laki itu marah, Kia tetap terlihat begitu lembut menghadapi laki-laki itu.
"Aku akan mencintaimu, lebih dari cinta yang akan kamu berikan untukku."
Begitulah kalimat Kia tadi sebelum ia meninggalkan pelataran rumah milik orang tuanya. Tidak, cinta nya untuk Kia tidak akan pernah ada yang bisa menandingi, kecuali cintanya pada sang pemilik kehidupan.
Alfan meletakkan ponsel itu di atas dada. Menutup matanya perlahan, laku tersenyum dengan begitu hangat. Berharap, mimpi indah malam ini, tidak akan pernah usai.
****
Di dalam kamar yang di dominasi warna abu, Kia masih duduk di atas sajadah nya. Mukenah yang entah kapan tersedia di dalam kamar itu, masih membalut tubuh nya. Jantung nya masih berdetak dengan begitu cepat, karena pengakuan Alfan tadi.
"Ya Allah jangan biarkan aku mencintainya, melebihi cintaku pada-Mu. Aku takut Engkau akan kecewa jika nanti terlalu mencintai manusia." Lirih Kia sambil menekan dadanya yang terus berdetak tidak karuan.
Selama ini ia berpikir, Alfan hanya tidak ingin menjauh dari Kayra dan di tuntut oleh usia, hingga berulang kali mengajaknya untuk menikah. Namun, tiba-tiba malam ini hal yang tidak pernah ia bayangkan, berhasil keluar dari bibir laki-laki itu.
"Astagfirullah." Wajah Kia bersemu saat mengingat kembali kalimat yang terlontar dari bibirnya sebelum kemudian Alfan masuk ke dalam mobil dengan senyum penuh bahagia. "Aku benar-benar sudah gila." Ucap nya lagi sambil menepuk-nepuk kedua belah pipinya.
Malam ini, tidak hanya Alfan yang akan terasa sulit untuk terlelap karena ungkapan rasa itu. Kia pun sama sulitnya. Entah sudah berapa lama waktu yang ia habiskan untuk bersimpuh di atas sajadah sambil memikirkan kejadian tadi.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Kia beranjak dari atas lantai lalu melepaskan mukenah yang melekat di tubuhnya. Melipat kain berwana putih itu, laku meletakkan nya di atas sofa yang ada di sana.
Setelah itu, Kia melangkah menuju meja yang tersedia di kamar Alfa. Ada satu pigura kecil yang berisi foto Kayra ketika masih bayi, tertata rapi di atas meja itu. Dengan perlahan, Kia mengulurkan tangannya, laku menyentuh pigura kecil itu dengan hati-hati.
Senyum di bibir tipisnya masih terukur dengan jelas. Jantungnya masih berdetak, juga hati yang semakin membuncah. Berulang kali ia mengingatkan dirinya sendiri, agar jangan Teena oleh keadaan yang begitu membahagiakan. Namun, tetap saja, saat mengingat bagaimana Alfan memperlakukan Kayra selama ini, membuat hatinya bahagia.
Selama mengandung, Kia khawatir putrinya tidak akan mendapatkan kasih sayang seorang Ayah seperti anak-anak lainnya. Namun, ternyata pikirannya itu salah. Laki-laki yang paling ia hormati, juga keluarga besarnya begitu menyayangi Kayra. Putrinya, sama sekali tidak kekurangan cinta, walau Ayah biologis serta keluarga besar dari laki-laki itu tidak menginginkan putri kecilnya ini.
Kia masih duduk di atas kursi. Namun, tubuhnya sudah berbalik menatap ke arah ranjang di mana putrinya sedang terlelap. Ia tahu, kamar yang ia dan Kayra gunakan malam ini adalah kamar Alfan, terbukti dengan begitu banyak pernak-pernik dari game online yang sering mereka mainkan bersama dulu.
Setelah beberapa saat terdiam di kursi kerja Alfan, Kia akhirnya beranjak dan melangkah menuju ranjang untuk berisitirahat. Di dalam hatinya ia memohon, agar sang pemilik takdir akan terus melindungi gadis kecilnya ini. Mempersatukan mereka dalam keluarga yang baik, juga meminta agar takdir yang ia harapkan malam ini, akan menjadi takdir terakhir ya hingga nanti kembali ke kehidupan kekal berikutnya.
"Selamat tidur." Ucapnya entah pada siapa.
Ah dia benar-benar sudah seperti seorang remaja yang baru saja jatuh cinta. Benarkan ia sudah jatuh cinta pada Alfan?
Kia mengangkat sebelah tangannya, kemudian menekan bagian dada yang terus saja berdetak.
"Jika detakan jantung ini di nyatakan sebagai cinta, maka itu berarti aku benar-benar telah jatuh cinta padamu bahkan sebelum kita terikat dalam ikatan suci pernikahan." Ucapnya sambil menutup mata.
__ADS_1
Malam ini, perasaan ini, dan pengakuan Alfan sudah membuat dirinya seperti orang gila karena terus berbicara sendirian.