
Malam yang panjang dan indah telah berakhir. Kini, cahaya matahari mulai menerangi kediaman di mana Kia berada. Pernikahan dadakan hingga menuai banyak protes dari kedua kakak serta adik Alfan, telah di tutup dengan adegan panas semalam.
Pagi ini, usai membantu ibu mertua serta asisten rumah tangga untuk menyiapkan sarapan, juga menyiapkan putrinya, Kayra, kini Kia kembali melangkah menuju kamar tidurnya guna membantu Alfan yang katanya hari ini ada pekerjaan dadakan di kantornya.
Setelah semuanya siap, sepasang pengantin baru itu kembali menuruni anak tangga untuk sarapan bersama Kayra dan kedua orang tua mereka.
Senyum bahagia terukur dengan begitu jelas di wajah Kia, saat menuruni satu persatu satu anak tangga sambil terus di goda oleh suaminya. Hingga saat keduanya sudah tiba di ruangan keluarga, senyum bahagia di wajahnya seketika lenyap kala mendapati Aryan sudah duduk di sofa yang ada di ruangan itu tepat di hadapan Ayah dan Ibu mertuanya juga Kayra. Entah ada keperluan apa, hingga laki-laki ini sudah bertemu di kediaman orang lain di waktu pagi seperti ini.
"Sini, Nak." Ajak Danira sambil menepuk sofa kosong di sampingnya, agar Kia duduk di sana.
Kia mengangguk patuh, lalu melangkah menuju sofa dan duduk di samping ibu mertua nya.
Melihat Kia yang terlihat tenang, Danira dan Arion mengajak cucu cantik mereka dan meninggalkan ruangan itu. Memberikan waktu luang untuk Kia menyelesaikan semuanya.
****
"Aku hanya ingin melihat Kayra." Ucap Aryan pelan, karena sepasang suami istri paruh baya, sert gadis kecil yang ia tahu adalah putrinya belum benar-benar menjauh dari ruangan itu.
Kia menarik nafasnya dalam-dalam.
"Maafkan Papa dan Mama." Ucap Aryan lagi, namun, Kia masih saja membisu.
"Jangan membahas masa lalu ku di hadapan Kayra. Aku tidak ingin Kay mengetahui bagaimana menyedihkan nya kehidupan ibu nya dulu." Jawab Kia dingin.
__ADS_1
Alfan melangkah mendekati sofa di mana Kia sedang duduk, lalu ikut mendudukkan tubuhnya di samping istrinya itu.
"Papa berniat mengajukan tuntutan ke pengadilan atas hak asuh Kayra." Ujar Aryan.
Kia mengangkat sudut bibirnya karena gemas dengan sikap keluarga dari mantan suaminya ini.
"Apa papa kamu itu sudah hilang kewarasannya, hingga mau menjilat ludah yang sudah dia buang?" Ujar Kia kesal.
Aryan terkejut mendengar kalimat sinis itu bisa keluar dari mulut mantan istrinya yang dulu selalu sopan dan begitu menghormati kedua orang tuanya.
"Kayra anak ku, ada darah daging mereka yang mengalir di tubuhnya." Jawab Aryan sedikit kesal karena orang tuanya di hina oleh mantan istrinya.
Kia melipat tangannya di atas dada, lalu menatap jijik pada laki-laki yang ada di hadapannya.
"Aku tidak pernah membuang mu, kamu sendiri yang pergi tanpa mengatakan kehamilan mu." Ujar Aryan.
"Oh ya? Tanyakan pada Kakak ipar mu apa yang sudah mereka lakukan terhadap aku dan Kayra. Mereka tahu di mana aku berada, bahkan mereka yang mengurus perceraian kita. Mereka yang mengatakan jika mereka tidak sembarangan menerima rahim yang akan mengandung keturunan mereka. Oh ayolah Aryan, berhenti membuat sensasi, aku benar-benar muak dengan mu. Sejak dulu, sampai detik ini kamu sama sekali tidak berubah. Kamu masih belum sadar, ha? Perpisahan di antara kita bukan hanya karena keluarga mu yang tidak menginginkan kehadiran ku, tapi juga karena otak bodoh mu itu." Kia masih menatap tajam ke arah Aryan yang sudah terdiam seribu bahasa.
"Tidak masalah jika kalian ingin mengajukan gugatan. Jangan lupa sampaikan pada Pak Ganedra, jika Pak Arion Pratama yaitu Ayah ku akan mempertaruhkan semua yang dia miliki untuk menjaga Kayra agar tetap berada di tempat yang seharusnya." Imbuh Alfan.
Sejak tadi dia hanya ingin menjadi penyimak, namun, lelaki di hadapannya ini seakan ingin terus menyudutkan istrinya atas kesalahan yang di lakukan oleh keluarga nya.
"Ini tidak ada urusannya dengan keluarga mu." Kesal Aryan. "Apa karena sekarang kamu memiliki keluarga yang kaya raya sehingga begitu berani membantah keinginan keluarga ku?" Aryan bertanya sambil menatap Adzkia.
__ADS_1
Kia tergelak dengan pertanyaan bodoh itu.
"Aku ngga berani membantah dulu, karena aku wajib mematuhi dan menghormati kedua orang tua mu, Aryan. Aku sebagai istri mu dan menantu mereka, wajib mematuhi aturan dan tuntutan dari kalian. Tapi sekarang, aku tidak lagi memiliki kewajiban atas itu semua." Jawab Kia dengan intonasi yang baik namun, mampu membuat Aryan terdiam.
"Lakukanlah.. Silahkan lakukan apa yang kalian mau, dan aku pun akan melakukan apapun agar Kayra tetap berada di tangan ku. Kamu dengar, kan tadi? Ayah mertua ku rela mempertaruhkan seluruh yang beliau miliki, agar Kayra tetap berada di tangan ku." Ujar Kia lagi semakin membuat Aryan terdiam tanpa kata.
Beberapa menit tidak lagi ada suara di dalam ruangan itu. Hingga akhirnya lelaki yang masih pagi-pagi sudah membuat masalah di rumah orang itu, beranjak dari sofa tempat nya duduk. Alfan pun ikut beranjak untuk mengantar laki-laki itu keluar dari rumahnya.
"Jika saja kamu datang ke rumah ini dengan cara yang baik, aku mungkin akan mempertimbangkan dan membujuk Kia, karena kamu Ayah biologis Kayra. Namun, karena kebodohan mu hari ini, Kayra akan semakin sulit untuk kau raih. Aku tidak akan membiarkan kalian menyentuh putri ku, walau hanya helaian rambutnya." Ujar Alfan sebelum kembali menutup pintu rumah yang baru saja di lewati Aryan.
"Kenapa kalian sampai seperti ini, padahal Kayra adalah darah daging ku?" Tanya Aryan. Sejujurnya masih banyak pernyataan di otaknya, mengapa keluarga terpandang ini begitu menginginkan darah dagingnya.
"Karena dia putri ku. Kayra adalah putri ku!" Jawab Alfan tegas.
"Tapi aku darah dagingnya." Ucap Aryan menyela.
Alfan menarik sudut bibirnya.
"Hubungan Ayah dan anak tidak selamnya hanya ikatan darah, Aryan. Jangan buat Kayra merasakan apa yang kamu rasakan. Cinta kasih dari keluarga, jauh lebih berharga dari apapun, termasuk masa depan yang selalu kamu idam-idamkan sehingga rela mengorbankan Kia dan putri mu yang masih berada di dalam kandungan."
Setelah mengatakan itu, Alfan menutup pintu rumah dengan rapat. Padahal Aryan masih berdiri di teras rumah itu.
Di luar, Aryan hanya bisa menatap pintu itu dengan nanar. Kebodohan yang kesekian kalinya kembali ia lakukan hari ini. Padahal keluarganya tidak akan melakukan apapun, ia hanya ingin bertemu Kia tapi tidak tahu harus memulai dari mana untuk membicarakan keberadaan putrinya. Dan kini, berakhirlah semuanya. Mungkin setelah ini, hingga ia mati tidak akan pernah bisa bertemu dengan Kia maupun putrinya.
__ADS_1