Kebaikan Sebuah Pernikahan

Kebaikan Sebuah Pernikahan
Bab 28. Ketakutan Alfan


__ADS_3

Di rumah Kia mengajak Bik Ida untuk ke rumah sakit. Jika dalam menurut dokter kandungan yang selama lima bulan ini memeriksa kehamilannya, belum saatnya untuk melahirkan. Namun, sejak semalam, rasa sakit di perut bagian bawah terus saja bertambah parah.


Suami Bik Ida, mulai melajukan mobil yang memang di sediakan Danira untuk keperluan Kia, menuju rumah sakit terdekat.


Sesekali ringisan kecil karena menahan sakit terdengar di bibir Kia. Wanita paruh baya yang sedang duduk di sampingnya, terus mengusap-usap perut buncit nya, berharap sedikit mengurangi rasa tidak nyaman di perut itu.


"Sakit ya, Bik." Lirih Kia.


Bik Ida mengangguk. Meskipun Tuhan tidak memberinya kesempatan untuk merasakan hal itu, ia tahu jika sakit melahirkan itu memang tidak bisa di bayangkan.


"Melahirkan memang sakit, Neng. Sabar ya." Ucapnya.


"Nggak, Bik. Saya belum waktunya melahirkan kok. Ngga tahu kenapa tiba-tiba jadi sakit begini." Jawab Kia.


Wanita itu tidak lagi menjawab dan hanya meminta Kia untuk tetap tenang. Merek akan ke rumah sakit, dan biarkan dokter yang memutuskan hal itu.


"Masih jauh ya, Pak?" Tanya Kia tidak sabaran. Terasa ada sesuatu yang ingin meledak di bawah sana jika ia terus menerus duduk di mobil ini.


"Sebentar lagi, Neng. Itu dia, gedung rumah sakitnya sudah kelihatan." Jawab laki-laki yang terus berkonsentrasi dengan kemudi, walau jantungnya selama ingin keluar dari tempatnya. Karena, selama beberapa bulan ini, Kia sama sekali tidak pernah mengeluhkan apapun pada mereka. Ini pertama kalinya wanita yang sudah menganggap ia dan istrinya ini sebagai orang tua, merengek seperti anak kecil.


"Tunggu di mobil saja, Neng. Biar Bibik panggilkan perawat agar membawa ranjang pasien kemari." Cegah Bik Ida saat Kia hendak keluar dari dalam mobil.


"Benar, Neng. Ibuk tunggu sini aja, biar Bapak yang panggilkan. Temani Neng Kia." Perintah laki-laki paruh baya itu pada istrinya.


Setelah mendapat anggukan kepala dari sang istri, laki-laki itu segera keluar dari dalam mobil, lalu melangkah cepat masuk ke dalam mobil rumah sakit. Jelang beberapa saat, di orang perawat keluar dari dalam gedung rumah sakit menuju mobil sambil mendorong satu buah ranjang untuk Kia.


Dan benar saja, saat tubuh Kia sudah terbaring di atas ranjang, cairan putih keluar membasahi terusan panjang hingg ranjang tempat Kia terbaring.

__ADS_1


Tanpa menunggu lama, perawat itu segera mendorong ranjang, dan kembali masuk ke dalam rumah sakit menuju ruang persalinan.


****


Di jalanan, Alfan mendapat telepon dari sang Mami. Mengabarkan Kia yang kini di bawa ke rumah sakit terdekat dari rumah. Panik tentu saja. Ia bahkan meminta Dimas untuk lebih menambah laju mobil, agar segera tiba di rumah sakit tempat Kia berada.


"Wah, calon anak aku bakal lahir ke dunia." Ucap Dimas dengan mata penuh binar. Tapi, laki-laki yang biasanya langsung mengamuk hanya terus melihat layar ponselnya. Memeriksa jika ada kabar terbaru dari sang Mami, tentang wanita yang ia cintai itu.


Jika saja Mami Danira memberinya izin untuk mendapat kabar Kia langsung dari Bik Ida, pasti ia tidak kan sepanik ini.


"Lebih cepat lagi, Dimas." Perintah Alfan.


Dimas masih terlihat tenang. Ia tahu apa yang sedang di alami Kia saat ini, adalah hal yang lumrah di rasakan oleh ibu hamil. Yang terpenting wanita baik itu sudah berada di tempat yang tepat, yaitu rumah sakit.


"Jangan menundanya lagi, Fan. Mulai hari ini, kamu harus berusaha untuk dekat dengannya. Karena jika si Aryan itu mengetahui kelahiran darah dagingnya, dan saat itu Kia belum memiliki seseorang yang akan melindunginya, maka Kia pasti akan kembali terluka. Orang tua Aryan pasti akan melakukan apapun untuk membuat Kia menderita, dan jika kamu tidak memiliki hak untuk membatunya, semua yang kita lakukan selama ini akan menjadi sia-sia." Ujar Dimas memperingati.


Di tengah situasi seperti ini, Dimas masih sempat-sempat berceramah mengenai perasaan nya pada Kia.


Beberapa waktu mereka berdebat di dalam mobil, kini mobil itu sudah berhenti di depan sebuah rumah sakit yang ada di kota tempat Kia tinggal. Tanpa mengatakan apapun, Alfan segera keluar dari dalam mobil dan masuk ke dalam gedung rumah sakit.


"Pasien atas nama Adzkia?" Tanya Alfan terburu-buru.


"Bik Ida..." Panggilnya kemudian saat melihat wanita paruh baya yang sangat ia kenali sedang melangkah cepat menuju ke arah nya..


"Bagaimana dengan Kia, Bik?" Tanyanya tanpa menunggu penjelasan dari perawat yang bertugas di meja resepsionis.


"Neng Kia sudah di bawa masuk ke ruang operasi, Den." Jawab wanita paruh baya itu.

__ADS_1


"Kok bisa? Apa sesuatu terjadi padanya?" Tanya Alfan ketakutan.


"Tidak ada hal buruk, Den. Itu hal yang normal kok." Jawab Bik Ida.


Alfan mengangguk mengerti. Ia lalu ikut melangkah menuju ruang tunggu di mana suami Bik Ida sedang menunggu.


Dimas yang tadinya di tinggalkan seorang diri tanpa pamit di dalam mobil, kini sudah bersama mereka dan ikut melangkah menuju ruang operasi.


"Bukannya kalau terpaksa di operasi itu karena sesuatu yang buruk ya, Bik?" Tanya Dimas sengaja membuat Alfan ketakutan.


Bik Ida langsung melirik ke arah putra majikannya, lalu menggeleng.


"Neng Kia baik-baik saja. Dia hanya terkejut dengan kontraksi dadakan hingga kehilangan kesadaran. Jadi dokter memutuskan untuk melakukan operasi Caesar." Jelas nya pada Alfan.


Wajah Alfan pias. Sumpah demi apapun, ia belum ingin kehilangan Kia. Bagaimana bisa ia harus mengubur perasaannya ini hingga mati nanti.


Di samping Alfan, Dimas justru terkekeh karena melihat wajah bos nya yang seakan tidak lagi memiliki aliran darah.


"Tenang aja, Allah tahu kok perasaan kamu." Ucapnya meledek.


Cukup lama mereka menunggu, hingga pintu ruangan terbuka. Seorang perawat keluar dari dalam ruangan sambil mendorong box kaca yang berisi bayi menggemaskan.


"Mana Ayahnya?" Tanya perawat tersebut.


Dimas segera menunjuk ke arah Alfan, membuat sahabat sekaligus bos nya itu salah tingkah. Bik Ida pun tersenyum melihat tingkah putra majikannya itu. Ia sudah mengetahui tentang Alfan dari Danira, untuk itu ia tidak pernah merespon jika Alfan bertanya mengenai Kia. Semua itu atas perintah Danira dan Arion.


"Ayo sana, bayi nya butuh nama dan di adzanin Papa nya." Ucap Bik Ida sambil menepuk pelan punggung Alfan.

__ADS_1


Alfan perlahan beranjak dari tempat duduknya, lalu ikut melangkah bersama perawat itu menuju ruangan khusus bayi.


__ADS_2