Kebaikan Sebuah Pernikahan

Kebaikan Sebuah Pernikahan
Bab 20. Tidak di Inginkan


__ADS_3

Di sebuah kota yang masih begitu asri, Dimas terus mengikuti langkah Alfan yang sedang menyusuri ruangan sebuah rumah yang cukup mewah. Lelaki tampan itu nampak begitu bersemangat melihat isi di dalam rumah itu. Bahkan ada beberapa kotak yang berisi perlengkapan bayi, sudah berada di dalam rumah itu.


"Woi, dia bukan istri mu. Dan bayi yang ada di dalam kandungannya itu, juga bukan anak mu, kenapa kamu semangat sekali?" Ujar Dimas kesal, karena sejak pagi atasannya ini terus saja membuat dirinya sibuk dengan menyiapkan berbagai macam perlengkapan bayi.


"Masih mau nabung buat beli sawa, kan? Ayo lakukan saja apa yang aku perintahkan!" Jawab Alfan tidak kalah kesal. Dan benar saja, ancaman itu sangat manjur buat sahabatnya ini.


Dimas semakin kesal, namun, tidak berani melakukan apapun pada sahabat sekaligus atasan nya ini, dan hanya terus melakukan apa yang di suruh, karena dirinya masih mau berinvestasi di desa tempat ia tinggal dulu.


"Dasar perebut istri orang!" Gumam nya kesal.


Alfan tidak mempedulikan tuduhan itu, toh, ia tidak berniat merebut istri siapapun, tapi kalau Kia terluka, itu ceritanya lain lagi. Tidak ada satu orang pun di dunia ini yang akan membiarkan orang yang di cintai terluka.


"Nanti kamu akan tinggal di sini juga?" Tanya Dimas sambil merapikan kamar yang kata Alfan akan menjadi kamar untuk calon bayi Kia.


"Ya enggak lah, gila kali kalau aku ikut tinggal di sini. Nyawa ku cuma satu, Dim. Dan aku masih ingin hidup." Jawab Alfan.


Dimas tertawa geli mendengar jawaban sahabatnya.


"Lalu kenapa begitu bersemangat?" Tanya nya lagi.


Alfan hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu. Segitu bersemangat kah dirinya? Bagaimana tidak, Allah memberinya kesempatan untuk memastikan Kia baik-baik saja, sungguh tidak ada hal yang lebih baik dari ini. Semangat baru tumbuh di dalam hati, karena merasa tertantang untuk memperjuangkan sesuatu yang berharga baginya.


"Kapan mereka kemari?" Tanyanya mengalihkan topik pembicaraan. Cukup dirinyalah yang tahu, karena keinginannya ini, pasti akan di murkai Allah. Menyimpan rasa pada wanita yang sudah menjadi milik lelaki lain, adalah hal yang tidak boleh di lakukan olehnya. Namun, lihatlah dirinya sekarang, bahkan hanya membayangkan Kia akan tinggal di rumah yang sudah ia siapkan, sudah membuat hatinya semembuncah ini.


"Mungkin tiga jam lagi sampai. Itu sih kalau si Aryan belum menemukan Kia." Jawab Dimas sambil tertawa geli.


"Ngga akan, mana mau Kia kembali lagi. Ngga ada satu wanita pun mau di madu, Dimas." Ujar Alfan.


Dimas hanya tetawa dengan kalimat sahabatnya. Jika itu tentang cinta, tidak ada yang mustahil. Banyak di luar sana wanita yang rela menjadi bodoh, hanya karena sebuah kata cinta.


"Mereka punya anak, Fan. Banyak wanita yang mau terluka, demi anak nya." Ujar Dimas.

__ADS_1


"Dan semoga Kia bukan salah satu dari mereka." Ucap Alfan lirih.


*****


Di sebuah rumah yang sudah hampir seminggu ini Kia tinggali, terlihat begitu dingin. Danira terus duduk di samping Kia, guna memastikan tidak akan ada hal buruk terjadi pada wanita yang di cintai putranya ini.


"Jangan pernah datang menemui ku lagi." Kia mengulurkan sebuah map berwarna cokelat, berisi semua berkas yang di perlukan di pengadilan agama.


"Kenapa? Apa kamu takut bertemu Aryan dan dia tahu kamu sedang mengandung anaknya?" Tanya Anggi.


Kia terkejut. Ia menoleh pada wanita paruh baya yang sedang duduk tenang di sampingnya lalu menatap Anggi dengan tajam. Tidak ada orang yang mengetahui tentang kehamilan nya kecuali Alfan dan wanita yang sedang duduk di sampingnya ini.


"Rumah sakit tempat kamu di rawat adalah milik pemerintah, Kia. Akan sangat mudah bagi kami mencari tahu. Tapi tenang aja, keluarga Ganedra tidak sembarangan memilih dari rahim mana penerus mereka di lahirkan. Jadi akan lebih baik jika Aryan tidak mengetahui jika benihnya sedang tumbuh di dalam rahim kamu." Ujar Anggi, kemudian berlalu dari sana.


Kia terdiam tanpa kata. Setelah wanita yang baru saja mengucapkan kalimat penuh penghinaan itu menghilang di balik pintu rumah, air mata yang sejak tadi ia tahan, lolos dengan begitu mudah nya.


"Jangan berpura-pura kuat. Tapi, kamu tidak boleh berlarut dalam kesedihan. Bayi kamu butuh sosok ibu yang kuat." Ujar Danira iba. Ia tidak tahu jika keluarga terhormat seperti keluarga Ganedra, yang di gadang-gadang sebagai bakal calon orang nomor satu di negara akan melakukan hal seperti ini.


"Kalau begitu jangan katakan apapun. Cukup bilang pada bayi mu, jika kamu mencintainya. Sangat mencintainya, udah itu aja. Setelah ini, berusahalah hidup dengan bahagia, dan lupakan mereka. Anggap saja, di dunia ini hanya ada kamu, dan juga bayi mu."


Kia mengangkat wajahnya, lalu mengusap wajah itu dengan hijab yang menutup dadanya.


"Tidak akan ada pelangi tanpa hujan. Secerah apapun mentari, tidak akan bisa mampu menciptakan pelangi yang indah, tanpa adanya air hujan. Tahu kan bagaimana pelangi indah itu terbentuk? Jangan khawatir dengan takdir yang sudah di gariskan oleh Allah, karena Dia adalah sebaik-baiknya pengatur rencana." Danira menyentuh pipi wanita yang di cintai putranya itu dengan lembut.


Kia mengangguk mengerti. Tidak ada yang perlu di sesali, karena semua sudah menjadi ketentuan-Nya. Begitulah batinnya berkata, meskipun penghinaan ini terasa begitu menyakitkan.


"Ayo, kita pergi." Ajak Danira.


Kia mengerutkan keningnya.


"Ke mana, Tan?" Tanya Kia heran.

__ADS_1


"Ke tempat yang lebih aman. Salah satu dari mereka sudah tahu kamu berada di sini, dan tidak menutup kemungkinan yang lainnya pun akan tahu. Tante hanya tidak ingin mengambil resiko keselamatan calon bayi kamu. Wanita yang sedang hamil, tidak boleh terlalu banyak memikirkan masalah." Jawab Danira.


"Kia akan membalas kebaikan ini nanti." Kia menggenggam tangan wanita paruh baya yang sedang tersenyum di hadapannya.


"Janji ya, Tante akan menagih bayarannya nanti." Danira tertawa.


Tawa geli dari wanita yang tidak lagi muda itu seakan menular, hingga membuat Kia ikut tertawa.


"Kenapa lewat sini, Tan?" Tanya Kia heran.


"Udah ikut aja. Serahkan semua pada ku, kamu akan tahu nanti." Jawab Danira sambil terus menarik tangan Kia melewati pintu belakang rumah. Di sana, satu mobil mewah telah menunggunya.


"Semua dokumen penting milik kamu?"


"Aman, Tan." Jawab Kia sambil menepuk-nepuk tas yang ada di atas paha nya.


Danira tersenyum kemudian memerintahkan sopir pribadi yang dikirimkan oleh suaminya, berlalu dari sana.


"Jangan sampai ada yang mengikuti kami." Perintah nya setelah seseorang di ujung telepon menjawab panggilannya.


Setelah mengatakan itu, Danira menoleh pada jendela mobil. Melihat bangunan-bangunan yang di lewati oleh mobil miliknya. Berbagai macam pertanyaan hinggap di benaknya. Sudah benarkah apa yang ia lakukan hari ini? Sudah tepatkah ia membantu putranya? Padahal wanita yang kini duduk di samping nya, masih menjadi milik lelaki lain.


"Ada apa, Zam?" Danira menjawab panggilan di ponsel pintarnya.


"Mi, Trias bentar lagi mau lahiran. Mami di mana? Azam mau gila."


Danira terbelalak. Ia nyaris melupakan menantunya yang sedang bertaruh nyawa di rumah sakit.


"Mami akan segera ke sana, kamu jangan panik." Danira memutuskan panggilan. "Pak hentikan mobil nya." Perintah nya kemudian.


Lelaki paruh baya itu segera menghentikan mobilnya, dengan patuh.

__ADS_1


__ADS_2