
Mendengar kalimat yang baru saja di ucapkan oleh sang Ibu, Alfan segera turun dari atas ranjang dan melangkah cepat keluar dari dalam kamar. Wanita yang baru beberapa hari yang lalu resmi menjadi istrinya, bahkan tidak ia hiraukan, dan hanya ia lewati begitu saja di ambang pintu kamar tidurnya. Tujuannya adalah ruang kerja sang Ayah. Tidak ada yang bisa melakukan hal lebih jauh, selain laki-laki berkuasa itu.
Tanpa mengetuk pintu seperti biasanya, Aryan langsung mendorong pintu ruang kerja Ayahnya. Bertepatan dengan itu, Anggi, Kakak iparnya juga sedang membahas entah tentang apa di ruangan laki-laki yang paling di hormati di rumah itu.
"Kamu benar-benar sudah kehilangan kewarasan mu karena wanita yang tidak jelas asal-usulnya itu!" Geram Pak Ganedra saat melihat putranya yang langsung menerobos masuk tanpa izin.
"Pa, tolong jangan pisahkan aku dengan Kia." Lirih Aryan memohon.
"Bukan kami yang mau memisahkan kalian, tapi wanita itu yang bersikeras ingin berpisah darimu." Ujar Ganedra kesal, terlebih melihat putranya seakan kehilangan separuh nyawanya hanya karena wanita seperti Adzkia.
"Bohong! Kia tidak mungkin melakukan hal itu. Kami saling mencintai, Pa. Aku sangat mencintainya, begitu pun Kia." Ujar Aryan.
"Berikan padanya." Perintah Ganedra pada menantunya.
Anggi menatap berkas yang baru saja ia letakkan di atas meja, lalu meraih berkas itu kembali dan menyerahkannya pada Aryan.
"Bukalah, itu surat pemberitahuan dari pengadilan. Hari ini, Kia mendaftarkan gugatan cerai." Ucap Anggi sambil mengulurkan amplop berwarna cokelat ke arah adik iparnya.
Aryan masih terdiam. Menatap bergantian, wajah kakak ipar dan juga ayah nya. Mereka benar-benar tidak mengerti, bagaimana hancurnya ia saat ini, karena Kia pergi entah kemana.
"Bohong. Sudah lebih dari seminggu aku mencarinya di sudut kota Jakarta, namun, aku sama sekali tidak menemukan keberadaan nya. Kalian pasti sudah mengatur semua ini, kan?" Ujar Aryan dengan suara bergetar.
"Biarkan saja, Anggi. Letakkan kembali berkas itu, dan keluarlah dari ruangan ini." Pinta Ganedra pada menantunya.
Anggi pun kembali meletakkan benda itu ke tempatnya, dan melangkah keluar dari ruangan Papa mertuanya.
__ADS_1
"Kak Anggi." Tahan Aryan di lengan kakak iparnya.
"Lepaskan dia!" Kesal Ganedra hingga berkas penting yang tersusun rapi di atas meja kerjanya melayang di wajah putranya. "Jadi laki-laki ngga punya harga diri, buat mau keluarga!" Cerca nya kesal namun, Aryan sama sekali tidak terpengaruh. Ia yakin, kakak iparnya ini mengetahui sesuatu, dan ia harus mencari tahu di mana istrinya kini berada.
"Maaf Aryan." Anggi melepaskan genggaman adik iparnya, lalu segera melangkah keluar dari ruangan itu.
Aryan hanya bisa menatap kepergian Anggi tanpa bisa melakukan apa-apa.
"Tanda tangani berkas itu, dan semua akan cepat selesai. Mulai lah hidup baru dengan Rika." Perintah Ganedra.
Aryan berbalik menatap ke arah sang Ayah. Tatapan penuh permohonan, agar Ayahnya tidak akan melanjutkan rencana yang akan membuatnya kehilangan separuh jiwanya.
"Bagaimana bisa Papa melakukan hal ini padaku. Apa salah ku, Pa? Aku sudah berusaha menjadi anak yang berbakti, walau terkadang permintaan kalian menyakiti Kia." Ujar Aryan memohon.
"Salah mu adalah sudah menikahi wanita yang tidak sederajat dengan kita." Jawab laki-laki paruh baya itu dengan acuh. Ia bahkan kembali melanjutkan pekerjaannya tanpa memperdulikan putra nya yang sedang memohon agar bisa bertemu dengan wanita yang ia cintai.
"Tanda tangani itu, dan keluarlah dari ruangan ini. Besok kembalilah ke kantor, ada banyak pekerjaan yang harus kamu selesaikan. Jangan merusak reputasi Papa dengan masalah kalian." Ujar Ganedra tegas.
"Baiklah. Tapi izinkan aku bertemu Kia. Setelah itu, aku akan mengikuti semua keinginan kalian." Ucap Aryan.
"Tanda tangani itu, dan segera keluar dari ruangan ini!" Ganedra melempar amplop berlogo pengadilan agama itu ke tubuh putranya.
Aryan menatap kertas berwarna cokelat itu dengan nanar, lalu meninggalkan ruangan tanpa melakukan apa yang baru saja di perintahkan oleh sang Papa.
Ganedra pun tidak peduli dengan sikap Aryan. Hanya melirik punggung putranya sekilas, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya. Suka atau tidak, perceraian putranya pasti akan di kabulkan oleh pengadilan. Tidak ada yang perlu ia cemaskan dengan perceraian itu.
__ADS_1
****
Di luar ruangan, Rika duduk dengan diam di sofa yang ada di sana. Setelah Aryan keluar dari dalam ruangan, ia langsung berdiri dan melangkah mendekat ke arah suaminya, meskipun kehadirannya pasti tidak akan di anggap oleh laki-laki itu.
"Kamu baik-baik saja, kan?" Tanyanya meraih lengan Aryan, namun, langsung di tepis oleh laki-laki itu.
Tanpa memperdulikan keberadaan Rika, Aryan semakin mempercepat langkah untuk kembali ke kamarnya.
"Aryan, aku ini istri mu." Ucap Rika pelan. "Bisakah kamu membuka hati walau sedikit saja untuk ku?" Ucapnya lagi, namun, Aryan sama sekali tidak memperdulikan kalimat menyedihkan itu, dan langsung menaiki anak tangga menuju kamar tidurnya.
"Apa yang mau Mama lakukan dengan barang-barang Kia?" Tanya Aryan kesal saat melihat barang-barang pribadi istri pertamanya sudah di masukkan ke dalam kardus besar.
"Ini akan menjadi kamar kamu dan Rika, dan barang-barang ini akan di simpan di tempat yang seharusnya." Jawab Ibu Dian.
"Ma, jangan seperti ini. Kia pasti akan datang mengambil barang-barang nya. Selama itu, tolong biarkan barang-barang nya tetap berada di sini. Aku akan menyiapkan kamar lain untuk Rika." Pinta Aryan memohon. Hanya kamar ini yang bisa ia gunakan untuk mengenang istri nya itu, dan ia tidak ingin jejak Kia di dalam kamar ini akan tergantikan dengan wanita lain.
"Baiklah, tapi kamu harus janji jangan tidur di sini sendirian. Kamu harus tidur di kamar yang akan Mama siapkan untuk Rika." Tegas Ibu Dian.
Aryan hanya diam. Sungguh, ia tidak tahu semu akan seperti ini. Ia pikir, ia bisa meyakinkan Kia jika pernikahan keduanya, hanya sebatas pernikahan politik tanpa ikatan apapun, dan Kia akan tetap menjadi wanita satu-satunya yang mengisi ruang di hatinya.
"Jika kamu tidak mau, Mama akan membereskan ini." Ibu Dian kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Iya, Ma. Baik, baik. Tinggalkan kamar ini, aku hanya akan membereskan barang-barang Kia dan akan kembali turun." Ucap Aryan.
Ibu Dian tersenyum, dan segera meninggalkan kamar tidur putranya itu. Tidak masalah, toh kamar yang berada di lantai atas itu, bukan satu-satunya kamar yang bisa di gunakan. Bahkan kamar yang di tempati Aryan dan Kia adalah kamar yang terbilang kecil.
__ADS_1
"Jangan lama-lama, Mama tunggu di bawah." Ujarnya memperingati.
Aryan tidak menjawab, namun, Dian tahu jika putranya itu pasti akan turun dan menuruti semua perintahnya.