
Pagi yang indah kembali menyapa. Kia duduk termenung di depan kaca besar yang menjadi dinding kamarnya. Hujan, jangan di tanya lagi. Kota yang di juluki kota hujan itu, akan selalu seperti ini, bahkan ketika bukan di musim penghujan.
Kia membungkus tubuhnya dengan selimut, lalu meringkuk di sofa yang tersedia di dalam kamar tidurnya. Rambut panjang yang hanya pernah di lihat oleh Aryan, terikat asal-asalan.
Rindu yang masih mengganggu. Bohong jika ia sudah melupakan laki-laki yang mencintai, sekaligus melukainya itu. Aryan masih memenangkan hati dan jiwanya hingga hari ini.
Tes...
Air mata menetes membasahi pipinya yang memerah karena suhu dingin di dalam ruangan. Air mata yang hanya bisa menetes, ketika dirinya sendirian, semakin deras membasahi selimut yang melingkar di tubuhnya.
Jika saja waktu bisa ia putar kembali, ia hanya akan memilih kaki-laki biasa yang strata sosialnya sama seperti dirinya. Memilih laki-laki yang mampu melakukan apa saja dan menegaskan untuk tidak mau melakukan hal yang salah di mata agama, meskipun atas permintaan orang tuanya.
Namun, semua itu hanya tinggal penyesalan. Karena waktu tidak akan bisa di putar kembali. Ia hanya bisa menangisi semuanya saat ia sendirian seperti pagi ini.
"Neng.."
Ketukan di pintu kamar, di sertai suara wanita yang entah tiba jam berapa di rumah ini, menyadarkan Kia dari lamunan. Gegas ia mengusap wajah sembabnya, dan langsung beranjak dari atas sofa menuju ranjang. Meraih hijab yang tergeletak di ranjang mewah itu kemudian mengenakannya.
"Iya, Bu?" Tanya Kia setelah membuka pintu kamarnya.
Wanita yang terlihat sudah berumur itu, tersenyum.
"Kita sarapan dulu, Neng." Ajak wanita paruh baya itu.
Kia mengangguk, lalu melangkah keluar dari dalam kamar tidurnya.
__ADS_1
"Saya ndak tahu makanan kesukaan Neng." Ucap wanita itu lagi.
"Saya makan apa saja, Bu. Asal jangan orang aja." Kekeh Adzkia membuat wanita paruh baya itu ikut tertawa.
"Ah si Neng ada-ada aja. Mana ada orang makan orang, Neng. Kanibal itu mah." Ucap wanita itu lagi.
Kia hanya tersenyum. Namun, hatinya bersyukur. Karena seberat apapun ujian yang menimpanya hari ini, ia masih bisa menjadi wanita yang waras dengan tidak berbuat hal yang di benci oleh Allah. Sebanyak apapun orang-orang itu memberinya luka, tak pernah terlintas di benaknya untuk membalasnya. Baginya Kia, semakin banyak ujian dalam hidup, akan semakin besar pula peluangnya untuk menjadi manusia mulia di sisi sang pencipta.
"Ibu mau ke mana?" Tanya Kia saat melihat wanita paruh baya yang baru saja mengajaknya sarapan, hendak berlalu dari ruang makan.
"Saya akan sarapan bersama Bapak di belakang, Neng." Jawab wanita itu sopan.
Kia mengerutkan keningnya.
Wanita paruh baya itu langsung menggeleng. Meskipun ia tahu bagaimana keluarga majikannya terdahulu memperlakukan orang-orang seperti mereka, namun, ia tidak mengenal dekat, seperti apa wanita yang ada di hadapannya ini.
"Saya ngga suka sendirian, Bu. Dulu saat masih tinggal di panti asuhan, makanan apapun akan terasa nikmat, karena kami menikmati makanan itu bersama-sama." Gumam Kia. Yah, dulu hidupnya begitu sederhana, namun, tidak pernah ia merasa sesepi ini. Beberapa bulan terakhir, hidupnya bagaikan istri seorang pangeran yang bisa mendapatkan apa saja, namun, kehidupannya seperti tak punya arti apa-apa, karena begitu banyaknya tanggung jawab sang pangeran untuk keluarganya.
"Jika saja saya menikah dengan anak yatim juga, pasti hidup saya akan tetap penuh makna ya, Bu." Ucapnya lagi di sertai senyum manis, namun, netra nya menyimpan begitu banyak kesedihan.
"Panggil saya Bik Ida, Neng. Neng Daniza, Den Alfan, Den Azam dan juga Den Aidar sudah seperti anak-anak saya.Saya bersyukur karena Nyonya Danira meminta saya kemari, dan bertemu dengan putri saya yang ke lima." Ucap wanita paruh baya itu.
Kia menatap wanita itu lalu tersenyum. Berusaha sekuat tenaga untuk menahan air mata yang menggenang, agar tidak jatuh. Yah, kehidupannya tidak pantas untuk di tangisi. Ia hanya perlu menguatkan kakinya agar bisa terus di pakai berdiri.
"Terimakasih, Buk. Saya senang, calon anak saya akan punya nenek nanti." Ucap nya lalu tertawa.
__ADS_1
Sebentar saya mau panggil Bapak dulu, kita sarapan sama-sama." Pamit pulang Bik Ida.
Kia mengangguk penuh semangat. Setelah wanita paruh baya itu menghilang di pintu pembatas ruangan, Kia segera mengusap lembut perutnya yang masih rata. Entahlah, saat mengingat ada buah cintanya dengan Aryan yang kini tumbuh di rahimnya,rasa rindu pada laki-laki itu seketika muncul di dalam hatinya.
Bukan karena dirinya takut membesarkan anaknya sendirian nanti, namun, tetap saja mengingat selama ini Aryan selalu mencintainya, membuat laki-laki itu memiliki tempat yang istimewa di dalam hatinya.
"Kok Neng belum makan?" Tanya Ibu Ida heran, karena piring yang ada di hadapan Kia masih kosong.
"Kan masih nungguin Ibu sama Bapak." Ucap Kia tersenyum.
"Cuacanya tiba-tiba jadi cerah ya, Bu." Ujar laki-laki paruh baya yang baru saja mendudukkan tubuhnya di kursi makan.
Kia dan Ibu Ida segera mengalihkan tatapan mereka keluar jendela, namun, cuaca di luar masih saja mendung di iringi gerimis.
"Iya cuacanya jadi cerah karena senyum Neng." Ucap lelaki paruh baya itu lagi membuat Kia tertawa. Sedangkan wanita lain yang ada di ruangan itu segera memukul bahu suaminya karena merasa di kerjai.
"Bapak pintar banget gombalnya." Ucap Kia. "Pantes Ibu awet muda." Sambungnya tertawa. Ia lalu mengambil sesendok nasi dan lauk ke piring nya.
"Makan yang banyak ya, Pak. Biar kuat godain Ibu." Ucap Kia lagi.
Wanita yang sedang cemberut karena ulah suaminya, ikut tertawa. Ia mulai mengisi piring suaminya dengan nasi dan lauk, kemudian mengisi piringnya juga.
Ketiga orang asing itu mulai menikmati makanan mereka seperti layaknya sebuah keluarga. Di dalam hatinya, Kia tidak henti-henti berucap syukur, karena di tengah kehidupannya yang begitu mengenaskan, Allah masih menghadirkan orang-orang baik ini dalam hidupnya.
Yah, ia tahu Allah adalah sebaik-baik pengatur rencana. Untuk itu, ia hanya akan mengikuti kemana rencana yang sedang Allah siapkan ini, berakhir. Tidak ada duka yang berlangsung selamanya. Ia yakin, di ujung cerita entah kapan, pasti akan ada sebuah kisah yang indah yang sudah Allah tuliskan di sana. Hari ini, ia hanya perlu bertahan, agar bisa melewati setiap ujian dan cobaan hingga nanti tiba waktunya ia memetik buah dari kesabarannya hari ini.
__ADS_1