Kebaikan Sebuah Pernikahan

Kebaikan Sebuah Pernikahan
Bab 13. Kunjungan


__ADS_3

Setelah mendapat penjelasan mengenai keadaan Kia, Alfan tidak langsung kembali ke ruangan di mana wanita yang ia cintai itu berada. Ia melangkah menuju taman rumah sakit untuk mencerna apa sebenarnya yang terjadi. Otak dan hati nya tidak sejalan. Hati berkata ingin melindungi wanita yang iq cintai itu, namun, otak meminta nya untuk jangan melangkah terlalu jauh.


"Dimas


"Kamu di mana sih?"


Kalimat nya belum selesai, laki-laki yang sedang berada di ujung ponsel nya segera menyela.


"Diam ga? Mau aku pecat biar kamu ga bisa beli sawah lagi?" Ancam Alfan karena asisten sekaligus sahabatnya itu terdengar kembali berbicara.


Mendengar ancaman itu, Dimas tertawa lucu.


"Iya ada apa?" Tanyanya kemudian.


"Kalau aku bawa Kia pergi, berdosa ngga?" Tanya Alfan.


"Gila ya? Berdosa lah, malah di tanya lagi." Umpat Dimas kesal.


"Dia mencoba bunuh diri, dan sedang hamil." Ucap Alfan lirih.


"Astaghfirullah, kok bisa?" Tanya Dimas.


"Aku ngga tahu apa yang terjadi, tapi itulah kenyataannya." Jawab Alfan. "Tolong cari berita mengenai keluarga Ganedra." Perintah nya pada Dimas.


"Mau ngapain kamu?" Tanya Dimas mulai curiga.


"Aku hanya ingin memastikan. Dim, aku tidak mau menyesal karena telah salah dengan memberikan Kia pada mereka. Aku ingin dia bahagia." Alfan kembali berucap lirih. Di ujung ponsel, Dimas segera mengakhiri panggilan itu, dan langsung melakukan apa yang di minta oleh atasan sekaligus sahabatnya.


Cukup lama Alfan duduk termenung di kursi taman, sambil sesekali melirik selembar kertas yang ada di tangannya. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke ruangan Kia, untuk melihat keadaan wanita yang ia cintai itu. Namun, saat ia telah tiba di depan ruangan, langkahnya terhenti.


"Pergilah, Mas. Bukan nya hari ini, hari pernikahan kalian?"


Meskipun samar, suara Kia terdengar hingga keluar ruangan.


"Pernikahan sialan itu, telah selesai Kia. Dan mereka tidak akan meminta banyak hal. Aku hanya akan menjaga mu hari ini."


Suara laki-laki entah milik siapa, kembali terdengar.

__ADS_1


Alfan masih terdiam di tempat nya. Otak nya masih berusaha mencerna perdebatan yang terjadi di dalam ruangan itu.


"Kamu mau menjaga ku dengan menggunakan baju pengantin yang baru saja kamu gunakan untuk mempersunting wanita lain, begitu? Pergi Mas, sebelum aku benar-benar akan mengakhiri hidup ku, biar kalian puas!" Ancam Kia.


"Kia..


"Pergi dari sini, dan jangan pernah kembali. Kita akan bertemu di pengadilan setelah aku sembuh." Ujar Kia dingin.


"Aku ngga akan pernah menceraikan kamu, aku mencintai mu, Kia."


"Kalau begitu simpan cinta itu untuk wanita yang baru saja kamu nikahi, Mas. Dan aku akan menggugat cerai itu sendiri." Putus Kia yakin. Biarlah Allah murka dengan keputusannya, namun, ia tidak mau menyiksa batin nya untuk pernikhan yang tidak lagi sehat seperti ini.


"Kamu tidak akan bisa melakukan itu, Kia. Papa dan Mama tidak akan membiarkan kamu merusak nama baik keluarga."


Kia mendengus kesal, bahkan di saat seperti ini dirinya yang katanya begitu di cintai oleh suaminya ini, masih tetap menjadi yang kedua setelah keluarga.


"Jangan mempersulit, jika tidak ingin di rusak lebih jauh. Kamu tahu kan, berapa jumlah netizen penggemar ku di sosial media. Hanya dengan sekali streaming, keluarga mu akan hancur sampai ke akar-akar nya."


Beberapa saat tidak pagi terdengar suara dari dalam ruangan. Alfan yang masih berdiri di depan ruangan, ingin melihat apa yang terjadi di dalam ruangan itu melalui kaca kecil di pintu yang ada di hadapannya, namun, ia tidak ingin melanggar privasi orang lain.


Dengan hati-hati, kertas yang ada di tangannya ia lipat perlahan, kemudian memasukkan kertas itu ke dalam saku jas nya. Beberapa saat kemudian, pintu ruangan terbuka. Alfan berusaha untuk tetap tenang, sedangkan laki-laki yang terlihat begitu gagah dengan stelan jas pengantin, terkejut saat mendapati dirinya terdiam di depan ruangan.


"Eh, kamu di sini ya, Nak? Mami cariin kamu dari tadi." Ujar Danira tiba-tiba bersamaan dengan satu keranjang buah di tangannya.


"Karyawan Alfan sedang di rawat di ruangan ini, Mi. Tadinya mau lihat sebentar, tapi sepertinya dia lagi ada tamu." Jawab Alfan.


"Apa boleh putra saya menengok karyawannya? Sekalian mau melihat menantu saya yang akan melahirkan." Ucap Danira.


Aryan menatap seorang wanita paruh baya dan juga bos istri nya itu bergantian, kemudian menjawab pertanyaan wanita paruh baya itu dengan anggukan kepala dan segera berlalu dari depan ruangan itu.


Alfan mengajak sang Mami masuk ke dalam ruangan, agar bisa membantu nya memberi alasan kepada Kia, kenapa dirinya berada di sini hari ini.


"Pak..." Kia mengusap matanya cepat, lalu berusaha bangkit dari baring nya.


"Tidak perlu, tetaplah berbaring." Ujar Danira. Ingin rasanya ia memukul kepala Alfan yang masih saja terlihat dingin padahal ia tahu putra nya ini begitu khawatir dengan wanita yang kini terbaring lemah di atas brangkar pasien.


"Kami mau menjenguk kakak ipar Alfan yang akan melahirkan di rumah sakit ini, dan mampir ke mari." Ujar Danira lagi.

__ADS_1


"Terimakasih ya, Bu, Pak." Ucap Kia sopan.


"Sakit apa, Nak?" Tanya Danira.


"Hanya kelebihan dosis obat tidur, Bu." Jawab Kia sambil tersenyum sopan.


Alfan mengerutkan keningnya saat mendengar jawaban Kia, juga senyum dari bibir pucat wanita yang masih tersimpan rapi di dalam hati nya.


"Kok bisa?" Tanya Danira lagi. Wanita paruh baya itu sudah menarik kursi yang tersedia di sana, dan duduk di samping ranjang.


"Susah tidur." Jawab Kia lagi seolah tanpa beban.


"Dia memberi mu banyak pekerjaan ya?" Tanya Danira sambil melotot tajam pada putra nya.


"Nggak kok, Bu. Hanya menderita insomnia sedikit. Itu hal yang biasa bagi para gamers." Jawab Kia lagi.


"Mau makan buah?" Tanya Danira kemudian. Ia tidak ingin lagi membahas sesuatu yang akan membuat wanita muda di hadapannya ini, tidak nyaman.


"Boleh?" Tanya Kia.


"Tentu saja, aku siapkan sebentar." Jawab Danira. "Sebentar aku siapkan dulu." Ujar nya kemudian.


setelah mengatakan itu, Danira beranjak dari atas tempat duduk nya, lalu mengambil dua buah apel dan membawa buah itu menuju sofa di mana putra nya berada.


"Kupas dan potong-potong buah ini." Perintah nya.


Alfan melotot.


"Mami.." Protes nya.


"Kesembuhan karyawan adalah keuntungan untuk perusahaan, Alfan!" Tegas Danira.


Kia menatap bos nya dengan penuh rasa bersalah.


"Tidak apa-apa, Bu. Nanti paling besok sudah sembuh kok." Ucapnya penuh rasa bersalah.


"Tentu saja, kamu harus cepat sembuh." Danira kembali melangkah menuju kursi yang berada di samping ranjang, kemudian duduk di sana. "Sekalipun semua orang dunia ini membenci keberadaan mu, usahakan dirimu tidak kah menjadi salah satunya." Sambung nya sambil meraih tangan yang lentik sedang terpasang infus.

__ADS_1


Kia terenyuh. Ia tidak pernah membenci takdir yang sudah di tetapkan oleh Nya, namun, entah mengapa semua ini tetap saja terasa berat untuk di lalui.


__ADS_2