
Pagi yang indah di kediaman keluarga Arion. Lelaki paruh baya itu, nampak begitu antusias menemani ke empat cucunya bermain di ruang keluarga. Tiga lelaki tampan yang sibuk membicarakan pekerjaan masing-masing, juga sedang berada di ruangan yang sama. Menunggu wanita-wanita yang masih sibuk di ruang belakang, menyelesaikan pekerjaan mereka.
Sarapan pagi yang indah telah usai. Namun, entah apa yang membuat para wanita itu ingin berlama-lama di ruang belakang. Padahal mereka tahu, jika laki-laki yang kini sedang duduk di ruang keluarga, harus berangkat ke tempat kerja masing-masing.
Dentingan bel di pintu depan, tidak membuat pembicaraan di ruang keluarga itu terganggu. Seorang asisten rumah melangkah cepat menuju pintu depan untuk melihat siapa yang bertamu ke rumah majikannya di pagi hari seperti ini.
"Bang, kita pulang. Nanti kamu telat." Ajak Daniza pada suaminya.
Daren yang sedang duduk berhadapan dengan ke tiga kakak iparnya, segera mengalihkan tatapannya, dan menatap Daniza yang sudah siap dengan sebuah tas kecil yang melingkar di bahu istrinya itu.
"Azka pamitan sama Oma dulu, Nak." Pinta Daniza pada putranya.
Bocah tampan itu beranjak dari atas lantai yang beralaskan karpet tempatnya duduk, lalu berjalan patuh menuju ruangan yang di tunjuk oleh sang ibu.
Masih di ruangan yang sama, seorang asisten yang tadinya melangkah menuju ruang depan, kini sudah berdiri tidak jauh dari tempat Alfan dan anak-anak majikannya sedang duduk.
"Ada apa, Bik?" Tanya Daniza.
Azam yang sedang berbicara banyak hal dengan adik-adiknya, seketika terdiam.
"Ada yang ingin bertemu Neng Kia." Jawab asisten itu membuat Alfan teralihkan.
"Siapa?" Tanya Alfan cepat. Tidak ada yang boleh ia lewatkan jika itu mengenai Kia.
"Saya kurang tahu, Den." Jawab asisten itu.
__ADS_1
Tanpa menunggu persetujuan dari orang-orang yang ada di sana, Alfan seger beranjak dari tempat duduknya, lalu melangkah menuju ruangan depan untuk memeriksa siapa yang ingin bertemu Kia.
Saat langkah kakinya berhenti di ruangan itu, laki-laki yang tidak ingin ia temui lagi, sudah duduk di sofa yang tersedia di ruangan itu. Membuat Alfan tidak bisa untuk tidak mengepalkan tangannya karena kesal.
"Kia adalah tanggung jawab ku sekarang. Dan kamu sudah tidak memiliki hak atas dirinya." Ujar Alfan dingin.
Aryan yang sedang duduk di atas sofa, segera mengangkat wajahnya, lalu menatap laki-laki di hadapannya dengan tajam.
"Kia memang milik kamu sekarang. Tapi anak yang bersama kalian saat ini, adalah anak ku." Aryan meletakkan sebuah amplop di atas meja sofa.
Alfan menatap benda berwarna putih itu dengan kesal. Hingga beberapa saat kemudian, Kia sudah berada di ruangan itu dengan tatapan yang sama seperti Alfan.
"Ngapain lagi kamu ke sini?" Tanyanya kesal.
Tatapan kesal Aryan pada Alfan beberapa saat yang lalu, berubah sendu saat melihat wanita yang begitu ia rindukan sudah berdiri di hadapannya dengan ekspresi wajah yang tidak pernah ia lihat sepanjang mereka menikah. Tatapan tajam Kia, juga raut wajah jijik di membuat hatinya berdenyut sakit. Wanita yang mencintainya dulu, benar-benar sudah memiliki kehidupan baru yang lebih baik saat ini.
Wanita itu menoleh ke arah belakang. Memastikan orang-orang yang sedang menunggu mereka dengan khawatir di ruangan itu, tidak bisa mendengar suaranya. Perlahan ia melangkah menuju sofa, lalu duduk di hadapan Aryan, meraih sebuah amplop berwarna putih yang berlogo rumah sakit dan membukanya perlahan.
Setelah membaca isi dari amplop itu, Kia kembali meletakkannya di hadapan Aryan dengan hati-hati.
"Lalu kenapa? Kenapa jika benar dia anak mu?" Tanya Kia beruntun. Wajahnya masih dingin, entah kemana perginya wajah ramah yang selalu ia tampilkan di hadapan Aryan selama pernikahan mereka.
"Aku punya hak atas dia, Kia. Seharusnya kamu memberitahukan kehamilan mu padaku." Jawab Aryan. Kekecewaan di wajah laki-laki itu begitu kentara, karena merasa di bohongi oleh mantan istrinya ini. "Kamu bahkan mengurus perceraian kita, tanpa meminta persetujuan dariku." Sambungnya lagi, membuat Kia mendengus.
"Benar-benar keluarga pembohong!" Ucap Kia sinis.
__ADS_1
"Terserah padamu jika membenci keluarga ku. Tapi anak itu, adalah darah daging ku. Aku berhak atasnya." Ujar Aryan tegas. Sedikit kesal saat mendengar Kia memaki keluarga nya.
"Hanya setetes air mani yang kamu sumbangkan, kamu sudah merasa begitu berhak atas dia. Lalu bagaimana dengan ku, hm? Bagaimana dengan aku yang mengandungnya selama sembilan bulan tanpa kehadiran mu? Bagaimana aku yang melahirkan dia seorang diri, tanpa kamu? Apa kamu ngga malu?" Tatapan Kia semakin tajam. Terlihat begitu jelas, mata yang sedang menatap tajam itu, berembun. "Bukankah keluarga mu yang tidak menginginkan keturunan dari rahim sembarang?" Sambungnya lagi masih sambil menatap Aryan tajam.
Di pintu pembatas ruangan, Alfan berdiri dengan tenang. Menjadi penyimak yang tenang di antara pembicaraan yang memang masih belum menjadi ranah nya untuk ikut campur.
Beberapa saat kemudian, Aryan berlutut di atas lantai tempat kakinya berpijak sambil tersedu memohon agar di beri kesempatan untuk memeluk putrinya.
"Kamu tahu aku sangat mencintai mu, Kia." Ucapnya dengan suara yang hampir tidak terdengar. "Aku menginginkan semuanya tentang kamu." Sambungnya lagi.
Kia masih tidak terpengaruh. Bukan, bukan karena dirinya yang sudah tidak lagi memiliki hati nurani, namun, hatinya sudah terlanjur membeku karena perlakukan Aryan dan juga keluarga dari mantan suaminya ini.
"Aku hanya ingin bertemu dengannya. Memeluknya walau sebentar. Izinkan aku, Kia." Pinta Aryan lagi. Netra yang dulu selalu menatap Kia dengan hangat penuh cinta, kini sudah di penuhi buliran bening.
Kia berpaling. Satu tetes air mata yang berusaha ia tahan agar tidak jatuh, lolos membasahi pipinya. Sebesar apapun kebenciannya pada Aryan dan keluarga nya, ia juga menyadari jika ia salah karena sudah memilih menyembunyikan kehamilannya dari Aryan.
"Kamu tahu. Aku membawanya pergi tanpa sepengetahuan kamu, hanya ingin agar putri ku tidak akan merasakan bagaimana rasanya hidup di tengah keluarga mu. Aku tidak mau, anak-anak aku tidak akan mendapat pelukan hangat dari kakek dan neneknya, padahal kedua orang tuamu masih ada. Aku tidak mau, dia harus menuruti setiap aturan yang katamu wajib di patuhi. Aku ingin putri ku hidup tanpa beban, Aryan." Ujar Kia.
Aryan masih mendukung, menatap lantai yang menjadi tempat ia bersimpuh.
"Aku dan dia sudah bahagia dengan kehidupan kami. Pulanglah, istri dan anak mu pasti sedang menunggu." Ucap Kia lagi. Kali ini sudah jauh lebih lembut.
Aryan segera menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak pernah menyentuh nya. Entah anak siapa yang kini berada di rumah orang tuaku." Lirih Aryan lagi.
__ADS_1
"Maaf Aryan, itu bukan lagi urusan Kia. Jika kamu hanya ingin bertemu putri kami, maka nanti kamu bisa menghubungiku dan aku akan mengatur waktu yang tepat." Alfan segera menimpali pembicaraan saat melihat Kia yang mulai iba dengan keadaan.