
"Mami duluan aja ke ruangan Kak Trias. Ada hal yang ingin Alfan bicarakan dengan Kia." Ucap Alfan.
Danira yang sudah mencapai pintu ruangan setelah menghabiskan waktu cukup lama di dalam ruangan itu, kembali menghentikan langkah nya.
"Tidak baik berada di dalam ruangan dengan istri orang lain tanpa di temani, Nak. Menghindari fitnah jauh lebih baik." Jawab Danira.
"Ya udah, Mami duduk di sofa itu dulu, temani Alfan di ruangan ini." Ujar Alfan lagi.
"Maaf sudah merepotkan." Ucap Kia pelan, saat Alfan sudah duduk di kursi yang tadi di duduki oleh sang Mami.
Sedangkan wanita paruh baya yang hendak keluar dari ruangan, kembali mengurungkan niatnya, lalu membawa tubuh nya menuju sofa yang ada di dalam ruangan itu.
"Ini hasil pemeriksaan yang di serahkan dokter pada ku. Mereka tidak melihat siapapun di ruangan ini tadi, dan kamu masih belum sadarkan diri." Ujar Alfan sambil mengulurkan selembar kertas yang baru saja ia keluarkan dari saku jas nya.
Kia menatap wajah Alfan sebentar, lalu beralih pada selembar kertas yang sedang terulur pada nya.
"Terimakasih, Pak." Ucap Kia sambil meraih kertas itu dengan hati-hati.
"Jangan melakukan nya lagi. Mungkin nyawamu tidak terlalu berarti bagimu, tapi ada nyawa lain yang ingin mendapatkan kesempatan untuk menghirup udara di dunia." Ujar Alfan. "Kami pulang. Jangan terlalu memikirkan masalah, apalagi pekerjaan. Gunakan waktu lebih banyak untuk beristirahat. Jika ada yang kamu butuhkan, kamu bilang aja. Jika sungkan pada ku, kamu bisa menghubungi Dimas atau Rani. Keselamatan karyawan adalah tanggung jawab perusahaan." Jelas nya lagi.
Kia hanya mengangguk, bersama air mata yang mengalir dengan begitu deras nya. Entah mengapa, air mata yang biasanya terlalu mahal untuk keluar, hari ini justru jatuh dengan sendirinya tanpa bisa ia cegah. Bahkan suaranya, tidak bisa lagi ia keluarkan dan hanya bisa tercekat di tenggorokan.
"Aku pergi. Ingat, jangan memaksakan diri menghadapi semuanya sendiri. Di dunia ini, tidak ada manusia yang tidak membutuhkan orang lain, itulah gunanya Allah membiarkan jutaan bahkan milyaran manusia hidup di bumi ini." Ujar Alfan lagi, kemudian beranjak dari atas tempat duduk.
__ADS_1
Di atas sofa, Danira tersenyum. Yah, putra nya adalah orang baik. Lelaki yang ia lahir kan puluhan tahun yang lalu itu, tahu bagaimana harus bersikap. Meskipun terlihat begitu jelas seberapa besar cinta Alfan pada Kia, putra nya itu tetap bisa bersikap seperti ini. Menjaga Kia yang masih berstatus sebagai istri orang lain, memang jauh lebih penting. Memberikan dukungan, tidak harus melewati batas yang tidak semestinya.
Setelah kepergian Alfan dan ibu dari laki-laki itu, Kia berbalik membelakangi pintu ruangan, lalu menangis hingga tubuh nya keram. Apa yang sudah ia lakukan pada janin yang berada di dalam kandungannya ini? Dia benar-benar merasa menjadi ibu yang jahat.
"Maafkan hamba Mu ini, Ya Allah." Lirih nya menyayat hati. Ia mengusap lembut perut nya yang masih rata, sambil terus tersedu, menyesali apa yang sudah ia perbuat semalam.
"Lalu bagaimana? Apa yang akan kita lakukan, Nak?" Tanyanya seakan ingin mencari jawaban terbaik atas apa yang membuatnya gundah hari ini.
Di depan ruangan, Alfan menatap sendu wanita yang kini meringkuk membelakangi pintu ruangan. Mata nya berkaca, jika saja tidak ada batasan antara mereka ingin sekali ia merengkuh wanita yang nampak rapuh itu, dengan erat. Ingin sekali ia mengatakan jika semua akan baik-baik saja.
"Apa yang akan Alfan lakukan, Mi?" Tanya Alfan pada wanita yang juga masih berdiri di depan ruangan itu.
"Jangan melakukan apa-apa. Tunggu sampai di mana takdir ini bekerja. Jika kamu akan melakukan hal yang melanggar, maka Allah akan marah." Ujar Danira memperingati.
"Tapi Alfan tidak bisa terus melihat nya seperti itu, Mi. Dimas memberi tahu, jika suaminya menikah hari ini, dan berita itu ada di mana-mana bahkan hampir semua TV swasta menayangkan pernikahan dua anak pejabat itu." Ujar Alfan.
Akan terdiam, ia mengerti apa yang baru saja di ucapkan oleh sang Mami.
"Ada banyak cara untuk membantu nya. Kamu jangan khawatir, Mami juga tidak akan tinggal diam, jika wanita sebaik itu menderita terlalu lama. Ini bukan karena kamu mencintai nya, tapi karena kita sesama manusia, dan wajib untuk saling membantu." Ujar Danira lagi.
"Kamu pasti akan baik-baik saja." Gumam Alfan, sebelum kemudian berlalu dari ruangan itu bersama sang Mami.
Jika bisa ia akan tetap berada di sini, sampai Kia benar-benar sembuh. Namun, siapa lah dia? Hanya laki-laki pengecut yang bisa mencintai Kia dalam diam.
__ADS_1
"Semua akan ada waktu nya. Jika takdir mengenaskan ini, adalah jalan untuk membawa dia pada mu, maka tunggulah sebentar. Cepat atau lambat waktu itu pasti akan tiba." Ujar Danira lagi. Wanita paruh baya itu mengajak putra nya untuk kembali ke ruangan menantu nya untuk berpamitan.
Jadwal persalinan Trias memang masih beberapa hari lagi, tapi kutuk saja putra sulung nya yang terlalu khawatir hingga mengurung menantu nya di tempat ini, dan membuat suami tercinta nya kembali bekerja dan meninggalkan dirinya seorang diri di rumah.
"Alfan mau langsung ke kantor, Mi. Nanti sampaikan pamit Alfan pada Abang dan Kak Trias." Ucap Alfan.
Danira cemberut.
"Mami ikut.." Rengek nya.
Alfan tertawa geli melihat wanita yang sedang bersikap tidak sesuai usia di hadapannya ini.
"Ya udah ayo kita pamitan dulu pada Abang." Ajak nya. "Nanti Alfan antar Mami ke kantor Papi ya." Sambung nya, dan mendapat anggukan kepala dari wanita paruh baya di samping nya.
****
Di ruangan yang baru saja di tinggalkan Alfan dan Danira, Kia memaksakan tubuhnya yang begitu lemah beranjak dari atas ranjang, lalu duduk di sana dengan diam.
Meraih telepon yang tersedia di ruangan itu, kemudian menghubungi seseorang. Mengutarakan semua yang terjadi pada nya selama pernikahan. Suara tersedu penuh kesedihan di ujung telepon, membuat Kia kembali meneteskan air mata.
"Maaf, Ibu. Kia tidak bermaksud membuat Ibu sedih. Kia hanya ingin meminta bantuan, dan tidak tahu lagi harus meminta bantuan pada siapa. Ponsel Kia ada di rumah Mas Aryan, dan hanya nomor panti ini yang bisa Kia hubungi." Ujar nya penuh rasa bersalah.
"Ibu akan datang menjemput mu. Jangan khawatir. Hari ini kan?"
__ADS_1
Kia mengangguk, seakan orang yang sedang berbicara dengannya melalui sambungan telepon itu melihat anggukan kepalanya.
Setelah mengucapkan salam, Kia segera mengakhiri panggilan itu.