Kebaikan Sebuah Pernikahan

Kebaikan Sebuah Pernikahan
Bab 40. Malam Pernikahan


__ADS_3

~Warning, khusus area dewasa. Untuk yang masih di bawah umur mohon di skip aja. Walaupun adegan nya ga vulgar, tetap saja menjurus ke arah sana. Mohon bijak lah dalam memilih bacaan. Terimakasih 🙏 ~


****


Mentari senja mulai terbenam, berganti malam yang di penuhi kerlap kerlip lampu yang menerangi kita Jakarta. Makan malam yang begitu hangat, telah usai. Kini, Kia sedang duduk di tepi ranjang mewah milik Alfan, sambil memegangi pakaian pria itu. Sejak beberapa menit yang lalu, Sura gemercik air masih terdengar jelas di dalam kamar tidur, namun, suara gemericik air itu sama sekali tidak bisa menyamarkan degupan jantungnya yang semakin menggila.


Ini adalah pertama kalinya mereka berada di dalam kamar yang sama. Meskipun selama ini, Alfan begitu dekat dengan Kayra, laki-laki itu selalu menjaga untuk tidak berada di dalam satu ruangan bersamanya, terutama di dalam kamar. Kecuali, saat dulu dirinya baru saja melahirkan Kayra. Mereka pernah satu kali berada di ruang rawat berdua, karena Bik Udah pergi untuk membawa bayi Kayra ke ruangan itu.


Bunyi pintu kamar mandi yang terbuka membuat Kia tersentak. Ia langsung beranjak dari atas ranjang dan berdiri di samping ranjang king size itu.


Alfan kembali menutup pintu kamar mandi, lalu melangkah semakin dekat dengan tepat Kia berdiri.


"Ada apa?" Tanya Alfan heran saat melihat Kia berdiri tegang di samping ranjang sambil memeluk piyamanya dengan erat. Namun, hanya gelengan kepala yang ia dapatkan dari Kia, sambil mengulurkan piyama ke arahnya.


"Kenapa di sini?" Dengan wajah panik Kia kembali bertanya, karena Alfan mulai mengenakan piyama di hadapannya.


"Memangnya kenapa?" Tanya Alfan acuh. Mode jail nya yang sudah lama hilang, mulai kembali. Terlebih melihat wajah cantik istrinya yang sudah Semerah tomat. Ah, sungguh sangat menggemaskan. "Aku ini suami mu, Kia. Jangan sampai lupa." Ucap nya lagi.


Kia tidak lagi berkata apapun, dan hanya membalik tubuhnya agar tidak sampai melihat apa yang sedang di lakukan Alfan.

__ADS_1


"Mas..." Kia terkejut saat tubuhnya tiba-tiba di tarik ke dalam pelukan.


Alfan mengeratkan pelukannya.


"Kamu tahu berapa lama aku menahan diri agar tidak melakukan hal ini?" Tanya nya pelan. "Saat aku tahu kamu mencoba bunuh diri, aku benar-benar ingin menghancurkan Aryan saat itu juga. Tapi siapa aku? Hanya lelaki pengecut yang bahkan tidak berani mengungkapkan isi hatiku." Imbuhnya.


Kia mengangkat tangannya, dan ikut melingkarkan kedua tangannya itu di pinggang Alfan. Membenamkan wajahnya di dada bidang yang berbalut piyama, dan menghirup wangi tubuh suaminya itu dalam-dalam.


"Terimakasih, Mas. Terimakasih telah mencintai ku begitu lama. Terimakasih telah menyayangi Kayra." Jawab Kia.Tidak tahu bagaimana lagi caranya ia mengungkapkan rasa terima kasihnya pada laki-laki ini.


"Aku benar-benar mencintai mu, Kia." Ucap Alfan. "Aku tidak tahu ujian seperti apa yang akan Allah berikan pada rumah tangga kita nanti. Tapi satu hal yang ingin aku minta padamu, seberat apapun itu, jangan melakukan hal yang sama seperti lima tahun lalu. Melihat mu terbaring lemah di rumah sakit, rasanya tidak enak." Sambungnya.


"Aku tidak pernah berniat bunuh diri, Mas. Saat itu, aku hanya terlalu banyak pikiran karena masalah yang menimpa ku. Lelap tak kunjung datang, padahal aku ingin sekali tertidur agar semua beban pikiran ku terlupakan. Hingga aku mencoba mengonsumsi obat dan kelebihan dosis." Jawab Kia tertawa lucu. Ia melepaskan mengangkat wajahnya dari dada Alfan, lalu menatap laki-laki yang kini juga sedang menatapnya bingung.


"Aku ga sebodoh itu hingga harus memilih mengakhiri hidupku. Dan saat itu, aku juga tidak tahu jika sedang mengandung Kayra." Ucap Kia lagi dengan suara menyesal atas apa yang ia lakukan saat itu.


Alfan mengangkat tangannya, lalu mengusap lembut pipi Kia.


"Aku tidak akan menjanjikan apapun pada kalian berdua. Namun, yang pasti entah itu dulu, atau sekarang tidak ada yang berubah di dalam hati ku. Nama kamu masih ada di sini, tersimpan rapi di tempat paling indah, di dalam hatiku." Ujar Alfan. Kali ini, tangannya sudah membawa tangan Kia, untuk merasakan debaran jantungnya yang semakin menggila.

__ADS_1


Kecupan singkat di kening nya, membuat sesuatu yang baru mulai terasa di dalam hati Kia. Berawal dari kecupan hangat di kening, kini berpindah ke hidung mancung hingga turun menuju bibir tipisnya.


Kia masih diam dalam pelukan Alfan. Sekian tahun menjadi bagian dari keluarga Alfan, ini pertama kalinya Alfan melakukan hal seintim ini padanya.


"Tidak apa-apa, kan?" Tanya Alfan ingin memastikan jika Kia tidak keberatan atas apa yang di lakukan olehnya. Dan gelengan kepala dari istrinya, membuat senyum hangat di bibir tipisnya, terlihat dengan jelas.


Entah siapa yang memulai, kini keduanya sudah berada di atas ranjang mewah yang sudah sekian tahun di tempati Alfan. Sentuhan demi sentuhan yang dulu pernah ia rasakan, mulai kembali terasa di beberapa bagian tubuhnya.


Hingga setelah Alfan membacakan do'a untuk keberkahan dan memohon agar mendapat keberkahan dari apa yang akan mereka lakukan malam ini, akhirnya Kia memberanikan diri menggenggam tangan Alfan dan mengutarakan kegusarannya.


"Aku bukan lagi seorang gadis, Mas." Ucapnya pelan.


"Selaput darah? Itu bukanlah patokan dari sebuah pernikahan, Kia. Keperawanan bukanlah tolak ukur untuk menentukan jika wanita itu bisa menjadi istri yang baik atau bukan. Kamu sudah membawa Kayra ku lahir ke dunia, itu berarti aku tahu seperti apa dirimu saat ini. Kamu wanita hebat! Tidak semua wanita mampu bertahan seperti yang kamu lakukan selama lima tahun ini." Jawab Alfan.


Kali ini Kia yang memberanikan diri dan masuk ke dalam pelukan Alfan. Ini adalah malam pernikahan mereka. Dan ia ingin memberikan yang terbaik untuk suaminya ini.


Alfan sudah mau menerima dirinya apa adanya, itu berarti sekarang tugasnya lah yang harus memastikan jika pilihan Alfan adalah yang terbaik. Mungkin ia tidak bisa mempersembahkan mahkota untuk laki-laki yang begitu mencintainya ini. Namun, ia masih bisa memberikan pengabdian hidup untuk Alfan dan keluarga baru nya.


Malam yang panjang. Di temani cahaya remang dari lampu tidur tangan ada di atas nakas, kehidupan baru di mulai. Rutinitas yang mungkin akan menjadi rutinitas favorit mereka nanti. Suara desah an terdengar di dalam kamar yang di dominasi warna putih dan abu-abu itu. Suhu dingin yang keluar dari pendingin ruangan, sama sekali tidak bisa menghalau keringat mereka yang ikut menyatu di tubuh keduanya.

__ADS_1


Malam yang panjang dan indah. Memulai kehidupan baru yang akan di penuhi bahagia, begitulah yang saat ini ada di pikiran Kia. Meskipun Alfan tidak ingin menjanjikan apapun padanya, namun, ia berjanji di dalam hatinya, jika cinta yang Alfan persembahkan untuk nya hari ini, akan ia balas dengan pengabdian seumur hidupnya.


__ADS_2