
Mobil yang sejak pagi ini terparkir di pelataran rumah, mulai melaju di jalanan menuju Jakarta. Mobil mewah yang di kendarai Dimas itu terus melaju sedang, membelah jalanan yang semakin di padati oleh kenderaan. Siang yang terik membakar, mulai berganti senja yang begitu indah. Warna kekuningan pertanda mentari sebentar lagi akan hilang berganti gelapnya malam, terlihat begitu memukau di ujung sana.
Di dalam mobil yang terus melaju, Alfan masih menatap ke luar jendela. Menjelajahi bangunan-bangunan di pinggiran jalan yang sedang mereka lewati dengan manik tajam nya, seraya meyakinkan hatinya jika yang ia lakukan hari ini tidaklah salah. Cinta yang ia miliki untuk Kia, tidaklah salah. Semuanya sudah di atur oleh sang maha kuasa. Cinta ini di titipkan oleh sang pemilik kehidupan, dan selama ini pun ia selalu berusaha untuk tidak menyalahgunakan titipan Tuhan ini untuk kepuasannya semata.
Berharap? Sejak dulu ia tidak pernah berharap lebih atas sesuatu yang mustahil untuk ia miliki, termasuk berharap Kia membalas perasaan nya. Karena ia pun tahu, Kia sudah memilih melabuhkan hatinya pada orang lain.
Namun, jika hari ini adalah kesempatannya untuk berjuang, itu bukanlah sebuah kesalahan. Perceraian Kia bukanlah kesalahannya, tetapi kesalahan Aryan yang begitu bodoh menyia-nyiakan wanita sebaik Kia. Menyimpan sedikit harapan di harapan di hati, bukan masalah selagi kita bisa membatasi diri pada hal-hal yang belum pantas kita lalui.
"Jika kalian memang di takdir kan bersama, kalian pasti akan tetap bersama." Ujar Dimas tiba-tiba.
Alfan yang sedang menikmati sapuan udara sore melalu jendela mobil yang di biarkan terbuka, menoleh ke arah sahabatnya. Namun, laki-laki yang baru saja mengucapkan kalimat sok bijak itu, berpura-pura tidak tahu jika sedang di perhatikan olehnya.
"Bagaimana proses perceraian mereka?" Tanya Alfan.
Dimas menggeleng. Ia tidak tahu, dan tidak ingin mencari tahu.
"Tunggu saja. Tunggu hingga nanti rencana yang sudah di siapkan Tuhan, akan terkabulkan. Ingat kata Tante Danira, jangan melewati batas mu selama masih belum ada kejelasan dengan pernikahan Kia. Tunggu dan terima saja hasil yang akan di berikan oleh pihak keluarga Aryan. Yang perlu kita lakukan hari ini, adalah memastikan Kia dan calon bayinya baik-baik saja." Jawab Dimas.
__ADS_1
Alfan tidak lagi menimpali. Ia pun tidak ingin mengecewakan sang Mami yang terus saja membantunya. Memaklumi setiap tindakannya hari ini, meskipun wanita terbaik dalam hidupnya itu tahu, semua yang ia lakukan hari ini, bukan semata-mata Kia adalah karyawan nya, tetapi karena memang ia memiliki perasaan lebih terhadap wanita malang itu.
Tatapannya kembali mengarah pada jalanan. Tidak ingin mengecewakan siapapun, termasuk kedua orang tuanya. Namun, jika bisa ia jujur saat ini, ia ingin mengungkapkan dan mengatakan pada Kia, ada laki-laki yang siap menerima dan menjadi ayah untuk anaknya.
"Langsung ke apartemen kamu aja. Aku juga mau langsung pulang ke rumah." Pinta Alfan.
Dimas mengangguk, dan terus berkonsentrasi dengan kemudi.
***
Wajah cantik berbalut hijab yang selalu menjadi incaran hampir seluruh mahasiswa itu, selalu berseri sebelum ia menorehkan banyak luka setelah pernikahan mereka.
"Kamu di mana, Sayang?" Lirihnya serak. Matanya memerah karena terus menangisi kepergian istrinya. Tidak, bukan kepergian Kia yang ia tangisi, tapi menangisi dirinya yang begitu lemah. Jika ia bisa lebih berani melawan orang tuanya, akan sangat mudah menemukan istrinya itu. Namun, lihatlah dia, sejak dulu hingga kini ia tidak bisa memperjuangkan cinta nya untuk Kia.
Entah sudah berapa lama ia mengurung dirinya di dalam kamar ini. Kamar yang menjadi saksi bagaimana besarnya cinta nya untuk Kia dan sebaliknya. Kamar yang menjadi saksi saat ia pertama kali memiliki wanita terbaik itu, untuk pertama kalinya. Dan di kamar ini pula, ia menorehkan luka pada wanita yang ia cintai itu, nyaris membuatnya terbunuh.
"Maafkan aku, Sayang." Gumamnya lagi. Memohon ampun, seolah Kia dapat mendengar permohonannya.
__ADS_1
Ketukan di pintu kamar di sertai suara yang tidak lagi asing, membuat Aryan tersadar jika dirinya sudah menghabiskan waktu yang cukup lama di dalam kamar itu. Suara wanita yang tidak pernah bisa menerima Kia, meskipun istrinya itu sudah berusaha menjadi menantu yang baik di dalam keluarga. Wanita yang sama derajatny dengan sang istri, sehingga membuatnya takut untuk melukai.
"Apa perlu Mama dobrak biar kamu keluar!" Teriakan di depan pintu kamar yang masih tertutup rapat, kembali terdengar. Namun, Aryan masih enggan untuk beranjak dari atas ranjang yang biasa ia dan Kia gunakan untuk menghabiskan malam.
Pintu kamar berhasil di buka dengan paksa oleh petugas kemanan. Namun, Aryan masih terus membenamkan wajahnya di atas bantal.
"Kamu dengarin Mama ga sih? Kamu mau mati di sini, ha?" Kesal wanita paruh baya itu lagi sambil melangkah mendekati ranjang di mana putranya berada.
"Ma, bisa ga Mama bunuh aku aja sekalian. Aku benar-benar ga bisa kehilangan Kia, Ma." Air mata Aryan mengalir, membasahi bantal.
"Kamu benar-benar sudah gila! Apa sih kelebihan wanita itu hingga membuat mu sampai seperti ini. Rika sejak pagi menunggumu di rumah ini, dan kamu malah meringkuk di ranjang ini seperti orang bodoh!" Cerca wanita paruh baya itu sambil menarik tubuh putranya agar beranjak dari atas ranjang.
"Ma, aku mohon biarkan aku bertemu Kia. Di mana Mama menyembunyikan Kia, Ma. Aku mau Kia!" Rengek Alfan seperti anak kecil yang ingin barang kesukaannya di kembalikan ibunya.
"Istri mu yang tidak tahu diri itu pergi sendirian, dan Mama tidak tahu ke mana dia pergi." Kesal Ibu Dian karena Aryan terus saja menahan tubuhnya agar tetap berada di atas ranjang. "Dia bahkan sudah mengajukan gugatan cerai, dan langsung di kabulkan oleh pihak pengadilan." Sambungnya membuat Aryan terkejut. Lelaki yang terlihat begitu mengenaskan, langsung terduduk di atas ranjang sambil memperhatikan wajah ibunya dengan lekat.
"Tidak, Kia tidak akan melakukan hal yang paling di benci Allah. Kalian pasti sudah melakukan sesuatu padanya. Katakan, Ma, di mana kalian menyembunyikan Kia!" Mata Aryan memerah. Air matanya menggenang, sambil terus menatap ibunya sendu. Ini adalah berita terburuk setelah hampir dua Minggu Kia menghilang.
__ADS_1