Kebaikan Sebuah Pernikahan

Kebaikan Sebuah Pernikahan
Bab 6. Rasa Yang Tersimpan Rapi


__ADS_3

Pagi dengan segala kemacetannya. Kia terus memacu mobilnya dengan kecepatan sedang, menuju perusahaan. Beberapa kali ia menarik nafasnya dalam-dalam, untuk mengurangi sesak di dalam dada. Seberapa kuat ia menahan agar terlihat tidak terluka, tetap saja ia hanya seorang wanita biasa yang sama seperti wanita lainnya. Sensitif dengan hal-hal kecil, dan cepat merasakan kesedihan jika diperhadapkan dengan keadaan seperti ini. Tatapan jijik dari kedua mertuanya tetap saja membuat hati nya tersayat, sakit.


Beberapa saat kemudian, mobil yang ia kendarai sudah terparkir rapi di depan bangunan berlantai. Dengan hati-hati, ia membuka pintu mobil mewah itu, lalu keluar dari sana. Mobil pemberian Aryan, saat mereka resmi menjadi sepasang suami istri. Laki-laki yang ia tahu begitu mencintai nya, terlihat dengan jelas di mata laki-laki itu. Ia pun sama, mencintai dengan segenap jiwa.


"Wis tumben pakai mobil. Suami posesif kamu ke mana?" Tanya seorang gadis yang juga baru tiba di pelataran kantor.


Kia tersenyum kecut. Aryan memang selalu berlebihan tentang dirinya.


"Ada hal penting yang harus ia urus, jadi ga bisa anterin aku hari ini." Jawab Kia.


"Kamu belum hamil, Kia?" Tanya gadis itu lagi.


Kia terdiam sejenak, lalu menggeleng. Baru beberapa hari yang lalu tamu bulannya berakhir.


"Biasanya pengantin baru emang lagi hot-hot nya, dan belum kepikiran buat bikin anak." Ucap gadis itu lagi.


Kia mengerutkan keningnya tidak mengerti. Bukannya kesibukan pengantin baru itu, memang untuk membuat anak.


"Selamat pagi, Pak." Teriak gadis itu dari lantai bawah, saat melihat sosok tampan yang sedang berdiri di depan ruangannya yang langsung terlihat lantai bawah. Model bangunan kantor Alfan memang unik dan kekinian. Tidak sama seperti model kantor biasanya.


Kia pin mengucapkan hal yang sama untuk menyapa laki-laki yang sedang menatap mereka dari atas.


Alfan tidak menjawab, sama seperti biasanya laki-laki itu hanya diam lalu beberapa saat kemudian meninggalkan tempat ia berdiri.


"Es balok berjalan." Ujar gadis yang ada di sampingnya.


Kia menoleh sebentar, lalu tersenyum. Dulu sebelum berdiri perusahaan ini, Alfan terkenal sebagai laki-laki yang jail. Meskipun tidak begitu dekat, namun, keduanya beberapa kali bermain game online bersama dalam satu team. Keduanya pun berada di club yang sama, saat beberapa kali mengikuti tournament. Namun, kini terlihat ada jarak yang membentang tinggi di antara mereka.

__ADS_1


"Dia kan pemimpin kita di perusahaan ini, sudah seharusnya ia melakukan hal itu. Bersikap profesional sebagaimana pimpinan perusahaan, harus ia lakukan. Walau kelihatannya kita masih seumuran." Jawab Kia memberi penjelasan. "Aku ke ruangan ku, ya." Pamit nya kemudian, lalu mendapat anggukan kepala dari gadis cantik di hadapannya.


Saat memasuki ruangannya yang khusus di gunakan untuk streaming, Kia di kejutkan dengan kehadiran sosok laki-laki yang selalu terlihat disamping bos nya. Gadis berhijab itu meletakkan tas kecil dengan harga fantastis, pemberian suami nya ke atas meja, lalu duduk di kursi kebesaran nya.


"Hai, Kia." Ucap Dimas tanpa embel-embel formal. Mereka sudah seperti sahabat dulu, walau tak begitu dekat karena Kia selalu menempatkan diri sebagaimana gadis Timur bersikap.


"Iya, Hai juga, Pak." Jawab Kia.


Dimas cemberut. Sedangkan Kia berusaha sekuat tenagaenahan tawa nya saat melihat wajah cemberut Dimas yang begitu lucu.


"Ada apa?" Tanya Dimas.


"Alfan minta kamu ke ruangan nya. Katanya ada hal penting yang harus ia bahas dengan mu." Ujar Dimas.


"Tentang tournament bulan depan? Aku sudah menyiapkan semuanya." Jawab Kia penuh semangat.


Kia segera menggeleng.


"Aku akan tetap streaming di sini seperti yang seharusnya aku lakukan. Untuk ke luar kota nya, aku sudah menyiapkan Rani." Jawab Kia. Ia mengambil berkas-berkas yang sudah ia siapkan dengan begitu rapi, agar nanti tournament buang di selenggarakan boleh perusahaan berjalan dengan baik.


"Alfan mau kamu yang ikut." Ujar Dimas.


Kia terdiam tidak mengerti. Karena sebelum menyiapkan semuanya, ia sudah lebih dulu membahas tentang ini dengan pimpinan.


"Aku akan ke ruangan nya nanti, setelah streaming pagi ini selesai." Ujar Kia.


Dimas mengangguk mengerti, lalu pamit untuk kembali ke ruangannya.

__ADS_1


Kia mulai kembali beraktivitas seperti biasanya. Bekerja sesuai minat dan bakat itu, adalah impiannya. Melakukan hal yang menyenangkan hati, sekaligus mendapat penghasilan untuk menghidupi diri nya, dan membantu panti asuhan gempat ia berlindung dulu. Dan yang lebih membahagiakan lagi, di tempat ini ia mendapat tunjangan fasilitas yang memadai. Jika dulu ia melakukan hanya bermidalkan ponsel pintar nya, kini tudak lagi. Bahkan saat live, akan ada beberapa orang yang membantunya. Banyak orang yang menyayangkan wajah cantik nya harus terpajang hampir di sosial media. Terlebih siaran langsung yang ia lakukan itu untuk sebuah game online, yang kebanyakan orang menganggap jika hal tersebut lebih banyak mudharat dari pada manfaat nya.


Kia tidak terlalu memusingkan hak itu. Di zaman ini, orang-orang begitu mudah untuk mengais rezeki. Bagi nya, berkah dan tidak nya sebuah rezeki adalah, di mana dan bagaiaman cara kita menggunakan rezeki yang di titipkan oleh Allah itu. Selagi mendapat rezeki dengan halal, perkataan orang tidak perlu di pusingkan.


Sejam telah berlalu ia duduk di kursi gaming nya. Setelah siaran langsung itu selesai, Kia segera keluar dari dalam ruangannya, menuju ruangan Alfan. Entah apa yang ingin di sampaikan oleh bos nya itu.


"Permisi, Pak." Ketuk Kia pelan di pintu ruangan Alfan. Dengan hati-hati, Kia mendorong pintu yang terbuat dari kaca itu, lalu melangkah masuk ke dalam ruangan sambil memeluk beberapa berkas di dada nya.


"Kata Pak Dimas, Bapak ingin bertemu saya?" Tanya Kia.


Alfan menoleh, menatap wajah Kia sebentar, lalu beralih pada tempat duduk yang ada di hadapannya.


Kia yang sekaan sudah mengerti, langsung menarik kursi tersebut lalu duduk di sana. Tak lupa pula ia meletakkan beberapa berkas yang ia bawa dari ruangannya, ke atas meja dan mulai menjelaskan rencana tournament yang akan di selenggarakan bulan depan.


"Rani?" Tanya Alfan.


Kia mengangguk.


"Apa tidak bisa kamu yang ikut? Biar bagaimana pun kamu adalah penangging jawab tournament ini, Kia." Ujar Alfan.


"Sebelum menyusun ini, saya sudah membahas nya dengan Bapak, mungkin Bapak lupa. Saya tidak bisa ikut ke luar kota, karena bulan depan ada urusan kekuarga yang tidak bisa saya hindari." Jelas Kia.


Alfan menatap berkas yang ada di atas meja dengan kesal. Berulang kali sang Mami mengingatkan agar segera membuang rasa yang masih tersimpan rapi di dalam hati nya, tetap saja saat melihat Kia, rasa itu semakin bertambah.


"Baiklah, nanti kamu jelaskan ke Rani apa saja yang harus dia lakukan. Jangan sampai membuat kesalahan, karena tournament ini akan tayang di beberapa TV swasta." Ujar Alfan.


Kia mengangguk mengerti. Setelah itu, ia berpamitan untuk kembali ke ruangannya.

__ADS_1


__ADS_2