
Setelah meninggalkan Rika di dalam ruang kerja, Aryan kini mulai memacu mobilnya meninggalkan rumah yang terasa bagaikan neraka. Jika saja, ia menuruti kemauan Kia yang ingin memulai hidup sendiri dulu, mungkin kehidupannya tidak akan mengenaskan seperti hari ini.
"Kembali sekarang!" Suara tajam menusuk, terdengar begitu jelas di telinga Aryan saat lelaki itu mengusap layar ponsel miliknya. Jangan di tanya lagi siapa yang baru saja menghubungi dirinya, jika bukan laku-laki paruh baya yang selalu mengatur kehidupannya.
"Nggak! Aku mau bertemu putri ku. Seharusnya, sejak dulu aku tidak mengikuti kemauan Papa, dan berakhir seperti ini." Jawab Aryan kesal, lalu segera mengakhiri panggilan.
Layar ponsel miliknya kembali menyala. Aryan melirik benda pipih dengan harga fantastis itu, namun, tidak berniat menerima panggilan itu.
Beberapa saat kemudian, panggilan kembali masuk ke dalam ponselnya. Namun, kali ini bukan berasal dari laki-laki yang baru saja berteriak padanya, melainkan dari Anggi, kakak iparnya.
Aryan menepi di sisi jalan, lalu menerima panggilan itu.
"Kembali ke rumah, Yan. Semua sudah terjadi, dan apapun yang akan kamu lakukan, semua hanya akan menjadi sia-sia. Percaya padaku." Suara Anggi terdengar tenang. "Kamu akan mengorbankan semuanya. Kali ini, tidak hanya Kia yang akan kembali terluka, kamu pun akan kehilangan segalanya termasuk masa depan yang sudah kami persiapkan untuk mu." Sura Anggi kembali terdengar.
Aryan menghembuskan nafasnya. Berusaha untuk kembali tenang, dan menerima apa yang sudah terjadi dalam hidupnya saat ini. Ini adalah buah dari pilihannya, jadi apapun karma yang sedang menimpanya saat ini, semua harus di terima.
Benar kata Anggi, jika ia kembali mengikuti ego, maka Kia akan terluka lagi untuk yang kedua kalinya..
Setelah merasa jauh lebih baik, Aryan kembali mentari balik mobilnya dan pulang ke rumah.
Tidak membutuhkan waktu lama, karena memang jaraknya belum terlalu jauh dari rumah, kini mobil Aryan sudah terparkir kembali di pelataran rumah kedua orangtuanya. Ia lalu turun dari dalam mobil itu, dan melangkah masuk ke dalam rumah.
"Papa akan membantu mendapatkan hak asuh anak mu itu. Tapi tunggu setelah pemilihan selesai." Ujar Ganedra saat melihat putranya masuk ke dalam rumah.
"Ngga usah macam-macam sama, Kia. Aku ga mau menyakitinya." Jawab Aryan tegas, lalu mendudukan tubuhnya di sofa.
Ia hanya ingin melihat putrinya itu saja. Jika Kia mengizinkan, maka tidak ada alasan baginya untuk melukai wanita yang ia cintai itu.
__ADS_1
"Bukannya kamu sangat menginginkan putri mu itu?" Tanya Ibu Dian.
"Tapi aku tidak ingin menyakiti Kia." Jawab Aryan.
Bukan, bukan ia tidak mau berjuang mendapatkan hak asuh putrinya. Namun, ia tahu, jika kedua orang tuanya masuk ke dalam masalah ini, maka Kia akan kembali terluka. Dan pastinya, kebencian Kia akan semakin bertambah untuknya. Melihat keluarga Alfan begitu menyayangi Kia, ia mulai ragu untuk menantang keluarga itu. Bukan mendapatkan kemenangan, ia justru mendapat kebencian dari mantan istrinya itu..
"Jadi mau kamu apa?" Tanya Ganedra pada putranya. "Jangan merusak rencana Papa seperti lima tahun yang lalu." Tegas laki-laki paruh baya itu.
Aryan mendengus kesal. Ia tidak pernah merasa merusak rencana laki-laki di hadapannya ini. Ia justru kehilangan wanita yang begitu ia cintai, hanya sebuah ambisi keluarga yang tidak ada habisnya.
"Kenapa tidak sejak dulu kalian menanyakan apa yang aku mau? Aku mau Kia masih ada di rumah ini. Aku mau, istri dan putriku." Jawab nya.
"Cih, selalu saja wanita itu yang kamu sebut dengan bibirmu. Apa kurangnya Rika? Dia wanita cantik juga dari keluarga sepadan...
"Ma! Sudah!" Tegas Ganedra. Ia bahkan berencana untuk mendesak menantu tidak berguna nya itu, setelah pemilu selesai. Jika bukan karena keluarga Rika mensponsori dirinya, tidak akan mau ia menikahkan Aryan dan menjadikan putranya penanggung jawab dari kehamilan wanita ini.
****
Jika di rumah mewah milik Ganedra tidak pernah tentram, berbeda dengan kediaman Arion dan Danira yang setiap hari selalu di penuhi banyak cinta.
Wanita paruh baya itu kini kembali merasa bahagia, karena kesepian yang beberapa tahun ini karena anak cucunya yang sudah memilki kehidupan masing-masing, kini kembali terobati dengan kehadiran Kayra.
Gadis kecil itu begitu penurut. Bahkan saat dirinya meminta agar Kayra tidur bersama nya malam ini, gadis kecil itu tidak keberatan dan menyetujui permintaan sang Oma.
Kini, Danira sedang menemani Kayra membuka banyak mainan yang di belikan oleh Alfan. Gadis kecil itu nampak begitu bersemangat membuka satu persatu kotak pembungkus mainan-mainan itu.
Di ruangan lain, tepatnya di dapur, Kia tidak kalah semangat sedang menyiapkan menu makan malam untuk keluarga barunya.
__ADS_1
"Bik, terus kalau Bibik kembali ke sini, lalu siapa yang tinggal di rumah di Bogor?" Tanya Kia sambil memotong-motong sayuran.
"Rumah itu kan emang dulunya di sewakan. Tapi karena Neng Kia, penyewanya terpaksa di Carikan apartemen oleh Den Alfan." Jawab Bik Idah.
"Kenapa bukan saya saja yang tinggal di apartemen?" Tanya Kia heran.
"Kata Nyonya, kandungan Neng Kia harus di jaga dengan baik. Dan lebih aman di rumah dari pada apartemen." Jawab Bik Idah lagi.
Kia mengangguk mengerti. Meskipun ia tidak paham mengapa Mami Danira sampai seperti itu padanya.
"Hai.." Sapa Alfan saat tubuh nya sudah berdiri di pintu pembatas dapur dan ruang makan.
Kia membalik tubuhnya, lalu tersenyum manis. Ia segera mencuci tangannya, lalu melangkah mendekati Alfan untuk menyalami punggung tangan suaminya itu.
"Mas mau minum apa?" Tanya Kia.
"Air putih aja." Jawab Alfan masih terus menatap Kia dengan lekat. Rasanya masih seperti mimpi ketika mengingat Kia sudah menjadi miliknya saat ini.
"Bentar ya." Ucap Kia lagi, lalu melangkah menuju tempat air minum dan menuangkan segelas untuk Alfan.
"Gimana Mas? Semuanya berjalan baik kan?" Tanya Kia sambil membawa segelas air putih untuk Alfan.
Alfan mengangguk mengiyakan.
"Dimas dan pengacaraku sedang mengurusnya." Jawab Alfan.
"Aku takut Aryan ingin mendapatkan hak asik Kay, Mas." Lirih Kia.
__ADS_1
"Maka aku akan siap bertarung dengan mereka. Tenang aja, Papi dan Mami tidak akan membiarkan cucu mereka di rebut orang lain. Aku aja mau memeluk Kay, jadi sulit banget karena Mami terus saja mengekorinya." Ujar Alfan. Hembusan nafas lega dari bibir Kia terdengar jelas di telinga nya. "Jangan takut Kia. Seberapa berkuasanya mereka, masih bukan tandingan keluarga ku. Mereka pasti akan berpikir panjang untuk mengajukan tuntutan hak asuh atas Kay. Percaya padaku." Ujar Alfan lagi, dengan yakin.