
Semua akan indah pada waktunya. Kalimat ini memang benar adanya. Setelah meneguk pahitnya sebuah pernikahan yang tak di restui, kini Kia sedang menikmati bagaimana rasanya menjadi menantu yang di cintai dalam keluarga. Tidak hanya Ibu mertuanya yang begitu menyayangi dirinya, tetapi adik ipar serta kakak iparnya juga begitu memperhatikan tentang kesehatannya. Saking bahagianya menikmati hari, hampir setahun setelah pernikahan pun tidak begitu terasa. Kehamilan yang sudah berada di usia tua, semakin menambah rasa bahagianya.
Bukan itu aja, laki-laki yang terakhir kali bertemu dengannya sembilan bulan yang lalu, tidak lagi menampakkan diri. Entah apa yang terjadi dengan keluarga itu, hingga sampai saat ini tidak ada gugatan tentang hak asuh putri nya. Namun begitu, ia sangat bersyukur karena perkataan Aryan pagi itu, tidak benar-benar terjadi.
"Mama..." Teriakan dari pintu kamar tidur nya membuat Kia meletakkan buku yang ada di dalam genggamannya ke atas meja kecil yang ada di samping ranjang.
Gadis kecil yang masih mengenakan seragam itu merangkak naik ke atas ranjang di mana diriny sedang terbaring, lalu memeluk perut buncitnya dan memberikan ciuman berulang kali di sana.
"Adek sehat-sehat aja, kan? Suara menggemaskan itu kembali terdengar. Kia mengangguk, sambil mengusap-usap kepala putri nya.
Beberapa saat kemudian, laki-laki yang masih terlihat tampan walau tidak lagi Serapi pagi tadi, melangkah masuk ke dalam kamar dan ikut merangkak naik ke atas ranjang di mana ia dan putrinya berada.
"Kangen banget." Cium Alfan di kening istrinya, kemudian berpindah ke atas perut buncit yang sedang di peluk putri sulungnya.
"Wah dia bergerak, Pa." Ujar Kayra takjub. Lelaki yang hendak turun dari ranjang untuk membersihkan diri, kembali mengurungkan niatnya dan mengikuti putri sulungnya untuk merasakan gerakan di perut buncit istri nya dengan begitu bersemangat.
"Wah benar, Sayang. Dia bergerak." Ujar Alfan kagum sambil menatap wajah Kia dengan mata berbinar.
Kia ikut tersenyum karena kebahagian suami dan putrinya yang begitu bersemangat merasakan gerakan di perutnya.
"Aduh.. Pelan dong sayang." Ucap Kia sontak membuat dia orang yang sedang berada di perut buncitnya segera menjauh. "Kenapa?" Tanyanya heran.
"Mama sakit?" Tanya Kayra khawatir.
"Enggak sayang, dedek nya aja yang keterlaluan aktif nya." Jawab Kia tersenyum.
"Aduh, Mas." Kia menyentuh bagian perutnya yang terasa nyeri.
"Ada apa, Kia?" Tanya Alfan khawatir.
__ADS_1
"Kok sakit nya semakin terasa ya, Mas?" Tanya Kia berusaha bangkit dari atas ranjang.
"Mau ke mana?" Tanya Alfan semakin panik.
"Aku mau siapin perlengkapan bayi, kayaknya kita harus ke rumah sakit." Jawab Kia sambil melangkah menuju ruang ganti. "Kay minta bantuan Oma ganti baju dulu ya, Nak. Papa mau bantuin Ibu." Pinta Kia sebelum menghilang di salah satu pintu kecil yang ada di dalam kamar itu.
"Mas..." Teriak Kia saat tubuhnya kembali di bawa menuju ranjang oleh sang suami.
"Kay ke bawah ya, bilang ke Oma kalau Mama mau ke rumah sakit." Pinta Alfan pada putrinya.
Gadis kecil yang sejak tadi terlihat kebingungan, segera mengangguk dan berlalu dari kamar itu.
Setelah mengecup kening Kia, Alfan kembali melangkah cepat masuk ke dalam ruang ganti untuk mengambil perlengkapan bayi yang sudah di siapkan oleh istrinya di dalam koper kecil, kemudian membawanya menuju kamar tidur.
"Mas, aku masih bisa berjalan. Aku cuma mau melahirkan, bukan lumpuh." Cegah Kia saat Alfan hendak mengangkat tubuhnya dari atas ranjang.
"Nanti kamu sakit lagi." Alfan menatap Kia khawatir, membuat wanita itu tersenyum sambil mengusap pipi suaminya.
Dengan hati-hati, Kia berusaha bangkit dari atas ranjang lalu melangkah keluar dari dalam kamar itu bersama suaminya.
"Gimana, Nak?" Tanya Danira saat sudah tiba di depan kamar putra dan menantunya.
"Kontraksi sedikit, Mi. Tapi alangkah baiknya kita langsung ke rumah sakit aja." Jawab Kia.
Danira segera mengambil alih koper kecil yang ada di tangan putranya, kemudian bergegas menuju pintu depan.
Di depan rumah, mobil milik Alfan sedang di siapkan oleh sopir pribadi Danira.
"Kay mau ikut, boleh kan Oma?" Tanya gadis kecil yang masih menggenggam tangan Danira.
__ADS_1
"Kay kan besok sekolah. Nanti setelah anterin Mama dan Papa, Oma langsung balik lagi kok. Ada Bik Idah di sini, rumah sakit ga sehat sayang." Bujuk Danira.
Kayra pun dengan patuh mengiyakan perintah Oma nya itu. Beberapa saat kemudian, Kayra masih berdiri di depan rumah sambil melambaikan tangannya ke arah mobil yang mulai melaju perlahan meninggalkan pelataran rumah.
Setelah pintu gerbang kembali tertutup, Bik Idah langsung membawa Kayra masuk ke dalam rumah seperti yang di perintahkan Danira padanya.
Di perjalanan menuju rumah sakit, Alfan terus saja mengusap perut buncit Kia, membuat wanita hamil itu sesekali tertawa geli.
"Benar-benar suami idaman kamu, Mas." Ucapnya menggoda.
Alfan mendengus kesal. Bagaiman tidak, jantungnya hampir copot karena terlalu khawatir terjadi sesuatu pada istrinya, namun, wanita yang sedang ia khawatirkan justru membuat lelucon yang sama sekali tidak lucu.
"Aku akan baik-baik aja kok, Mas. Anak kamu pasti akan lahir dengan sehat. Iya kan, Mi?" Kia mencari dukungan.
Danira mengangguk membenarkan.
"Ini ga akan lewat pintu, tapi lewat jendela. Jadi kamu ga usah khawatir." Sambungnya menimpali membuat Kia tertawa lucu. Perumpamaan macam apa itu?
"Emangnya kabur lewat jendela." Jawab Alfan masih tetap terlihat kesal karena ulah dua wanita yang ada di dalam mobilnya.
"Oh Neng Kia mau di operasi Caesar ya, Bu?" Tanya laki-laki yang sedang mengemudikan mobilnya.
"Iya, dia kan lahiran Kayra di operasi, jadi yang kedua dan seterusnya pun harus di operasi." Jawab Danira.
Lelaki paruh baya itu mengangguk-anggukkan kepalanya pertanda mengerti. Beberapa saat kemudian, mobil yang sedang di kendarai laki-laki itu, sudah berhenti di depan sebuah gedung yang cukup mewah. Dan tidak lama kemudian, beberapa orang perawat berlari keluar dari gedung rumah sakit itu, sambil mendorong ranjang pasien menuju mobil mereka.
"Terimakasih, Sus." Ucap Kia saat tubuhnya sudah terbaring nyaman di atas ranjang.
Seorang dokter yang memang sudah menjadi dokter pribadinya, mulai melakukan pemeriksaan.
__ADS_1
"Gimana, Dok?" Tanya Danira was-was. Karena menantunya ini belum siap jika harus di lakukan pembedahan hari ini.
"Masih bagus kok, Bu. Jangan terlalu khawatir. Besok adalah hari yang pas untuk pembedahan." Jawab dokter itu, membuat Danira menghembuskan nafas lega.