Kebaikan Sebuah Pernikahan

Kebaikan Sebuah Pernikahan
Bab 12. Hamil? Bunuh Diri?


__ADS_3

Di dalam perjalanan menuju rumah sakit di mana Kakak iparnya akan bersalin, Alfan terus saja bertanya-tanya di dalam hati. Ada apa gerangan hingga Azam meminta diri nya untuk datang jika hanya untuk menanti keponakan nya lahir ke dunia. Toh, nanti juga akan ketemu di rumah?


"Kamu masih mencintai wanita itu?" Tanya Danira pada putra nya.


"Siapa, Mi?" Tanya Alfan masih sambil berkonsentrasi dengan kemudi yang ada di tangannya.


"Wanita yang bernama Adzkia itu?" Tanya Danira lagi. Kali ini ia sudah menatap wajah bagian samping putra nya dengan lekat. Beberapa saat menunggu, tidak ada jawaban dari Alfan, membuat Danira segera mengalihkan tatapannya. Pembicaraannya dengan Azam pagi ini, membuat Danira khawatir jika Alfan akan melanggar batasan, karena mencintai wanita yang tidak seharusnya di cintai oleh putra nya ini.


"Tenang aja, Mi. Alfan tahu kok mana yang baik dan tidak. Semua yang ada di dalam hati Alfan saat ini, adalah milik Alfan. Mami jangan khawatir, Alfan adalah pemegang kendali penuh atas semua yang ada, termasuk perasaan yang tidak seharusnya." Jawab Alfan.


Danira tidak lagi berkata apapun. Entahlah, ia hanya takut jika nanti, Alfan akan melakukan sesuatu yang buruk saat mengetahui siapa yang sedang berada di rumah sakit saat ini.


Mobil mewah milik Alfan terus melaju perlahan di jalanan Jakarta. Hingga beberapa puluh menit kemudian, mereka akhirnya tiba di pelataran rumah sakit. Saat ia keluar dari mobil mewah nya, Alfan terdiam sejenak. Melihat dengan jelas siapa yang baru saja keluar dari dalam lobi rumah sakit dengan begitu terburu-buru sambil menempelkan ponsel di telinga.


"Iya, Pa. Aku akan segera ke tempat akad nikah itu."


Kalimat yang baru saja di ucapkan oleh laki-laki yang beberapa kali bertemu dengan nya itu, begitu jelas terdengar di telinga Alfan.


"Ayo.." Tarik Danira di tangan Alfan, saat melihat putra nya itu terdiam di tempat nya. "Ada apa sih? Siapa yang kamu lihat?" Tanya nya lagi sambil mengikuti arah tatapan putra nya.


"Ngga, Alfan salah orang. Ayo, Mi." Ajak Alfan.

__ADS_1


Keduanya lantas melanjutkan langkah masuk ke dalam lobi rumah sakit. Tidak membutuhkan waktu lama, Ibu dan anak itu sudah berada di dalam ruangan yang menjadi tujuan mereka pagi ini.


"Loh, Mami datang juga? Kata nya nanti kalau dedek bayi nya udah lahir." Ucap Trias saat melihat ibu mertua nya masuk ke dalam ruangan.


"Mami ngga sabar menunggu." Danira mendekati ranjang tempat menantu nya berada. Mengusap lembut bahu Azam, seolah memberi tanda untuk menyampaikan berita itu dengan cara yang baik pada Alfan.


"Aku keluar sebentar, ya. Ada sesuatu yang mau aku bicarakan dengan Alfan." Pamit Azam pada istrinya. Sebelum meninggalkan ruang perawatan Trias, Azam tidak lupa mengecup kepala istri nya itu berulang kali.


Alfan yang mulai berkecamuk, menatap heran ke arah kakak sulung nya. "Ada apa sih, Bang? Semenjak dalam perjalanan ke sini tuh Mami udah aneh banget, sekarang kamu makin aneh." Ujar Alfan, namun, tetap mengikuti langkah kaki kakak nya itu keluar dari dalam ruangan.


Masih belum menjawab pertanyaan adik nya, Azam terus mengayunkan langkah menuju ruangan lain.


"Ini masih pagi buta, Bang. Jangan bilang Abang mau ngajak aku ngintip." Ketus Alfan, karena Azam masih belum membuka suara. Hingga saat mereka tiba di depan ruangan, Azam membalik tubuh nya lalu menatap ke arah Alfan.


Meskipun masih heran dengan tingkah sang Abang, Alfan tetap mengikuti arahan dan melihat ke dalam ruangan melalui kaca kecil yang ada di pintu ruangan. Dadanya berdetak dengan hebat saat melihat siapa yang berada di dalam ruangan itu. Otak nya kembali mencerna apa yang ia lihat tadi di pelataran rumah sakit. Tapi bagaimana bisa? Kenapa laki-laki itu malah pergi ke acara pernikahan keluarga, dan meninggalkan Kia terbaring sendirian di sini.


Cukup lama kedua bersaudara itu berdiri di depan pintu ruangan, hingga satu dokter dan dua orang perawat membuat keduanya memberi jarak beberapa meter dari pintu ruangan.


"Yang mana suami nya? Nanti setelah pemeriksaan ini selesai, dan hasil nya masih sama seperti semalam, kami akan langsung memberitahu. Mohon jangan tinggalkan rumah sakit dulu ya, Pak." Ucap salah satu perawat yang baru saja tiba.


Alfan dan Azam hanya saling bertatapan, bingung harus menjawab apa. Beberapa saat kemudian, tiga orang petugas medis itu masuk ke dalam ruangan di mana Kia berada. Dada Alfan masih terus berdetak hebat, namun, ia tidak tahu harus bersikap seperti apa dengan keadaan yang ia lihat pagi ini. Ingin marah, namun, ia merasa tidak berhak untuk melakukan hal sejauh itu.

__ADS_1


"Aku mau kembali ke ruangan. Apa kamu akan tetap di sini?" Tanya Azam.


Alfan masih membisu, menatap wajah abang nya sejenak lalu kemudian beralih pada pintu ruangan yang masih tertutup rapat.


"Ngga apa-apa, kamu tunggu di sini sebentar. Tapi jika suaminya datang, kamu harus kembali ke ruangan Trias." Perintah Azam, tegas.


Alfan mengangguk mengerti. Ia tahu apa maksud dari abang nya ini.


Setelah kepergian Azam, Alfan melangkah mendekati kursi tunggu kemudian mendudukkan tubuhnya di sana. Berbagai pertanyaan, apa sebenarnya yang terjadi pada Kia, begitu mengganggu nya. Namun, ia berusaha sekuat mungkin untuk tetap berada di tempat yang seharusnya. Ia dan Kia bukan lah siapa-siapa, dan dirinya tidak berhak untuk mengetahui apalagi marah atas apa yang sedang menimpa wanita yang ia cintai itu.


Beberapa saat termenung di depan ruangan, Alfan di kejutkan dengan seorang suster yang tiba-tiba menyentuh bahu nya.


"Bapak tolong ikut ke ruangan dokter." Ucap gadis dengan seragam serba putih itu.


Alfan menoleh ke kanan dan ke kiri, namun, tidak melihat laki-laki yang ia lihat di pelataran rumah sakit tadi. Sebelum mengikuti langkah suster tersebut, Alfan lebih dulu membuka pintu ruangan lalu memberanikan diri melihat tubuh mungil yang sedang terbaring di atas ranjang.


Tidak masalah, toh dia hanya ingin membantu. Begitulah yang ada di pikiran Alfan saat ini. Ia lalu menutup kembali pintu ruangan itu, kemudian mengikuti langkah kaki suster menuju ruangan dokter.


Tidak membutuhkan waktu lama, ia sudah duduk di depan seorang laki-laki yang sedang serius dengan layar monitor di hadapan nya.


"Istri Bapak sedang hamil. Jangan membuat nya tertekan ya, Pak. Beruntung percobaan bunuh diri ini, tidak sampai membahayakan bayi kalian." Ujar dokter tersebut sambil membaca se lembar kertas di tangannya, kemudian mengulurkannya ke arah Alfan.

__ADS_1


"Bersyukur, semua cepat tertangani. Mohon untuk lebih berhati-hati. Wanita yang sedang hamil muda, memang sangat sensitif. Untuk itu, jangan sampai membuat nya tertekan." Ujar dokter itu lagi.


Alfan hanya bisa terdiam kaku. Tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Ia menelan ludah nya yang begitu kelat. Kata bunuh diri yang baru saja di utarakan oleh dokter yang ada di hadapannya ini, begitu mengganggu pikirannya. Ada apa dengan Kia nya?


__ADS_2