
Tidak terasa hampir lima bulan telah berlalu. Lima bulan pula, Alfan sama sekali tidak datang berkunjung ke rumah tempat Kia berada. Lelaki yang selalu terlihat dingin tak tersentuh jika di hadapan para karyawannya itu, kini bertambah gelisah karena tidak bisa melihat pujaan hati seperti biasanya saat Kia masih bekerja. Meskipun tidak bisa memiliki, setidaknya ia masih bisa terus melihat Kia walau dari kejauhan. Namun, setelah ia menyetujui perjanjian dengan sang Mami, ia harus rela menahan diri untuk tidak bertemu wanita yang ia cintai itu.
Yah, Mami Danira menyetujui ketika dirinya ingin menyiapkan sebuah rumah yang nyaman untuk Kia dan anaknya, tapi dengan syarat Alfan tidak boleh menemui Kia apapun alasannya. Kini, laki-laki yang terus saja merepotkan Dimas itu, hanya bisa menahan kegelisahannya karena ingin melihat Kia.
"Padahal perceraian Kia dengan si brengsek itu sudah selesai. Tapi Mami masih saja tidak mengizinkan aku menemui Kia." Kesal Alfan.
Dimas yang sedang asik berkirim pesan dengan Kia melalu email seperti biasanya, tentu saja tanpa sepengetahuan Alfan, hanya melirik sahabatnya yang sedang galau itu sebentar, lalu kembali fokus dengan pekerjaannya.
"Kamu dengarin aku ga sih!" Ujar Alfan lagi karena Dimas sama sekali tidak merespon kalimatnya.
"Iya aku dengarin kamu, kok. Bicara aja sepuas kamu biar galaunya hilang." Jawab Dimas acuh.
Karena terus di acuhkan oleh sahabatnya, Alfan segera melangkah keluar dari kursi kebesarannya dan mendekati laki-laki yang terus saja sibuk dengan benda tab nya di atas sofa yang ada di dalam ruangannya.
"Apa sih kamu? Aku lagi balas pesan calon istri aku." Dimas menjauhkan benda pipih dengan lebar beberapa inci itu, dari jangkauan bos gilanya.
"Kamu pasti tahu nomor Kia. Cepat berikan padaku!" Tegas Alfan.
Alfan tertawa.
"Kalau aku berikan, memangnya kamu berani menghubungi nya?" Ejek Dimas.
"Tentu saja." Jawab Alfan tidak mau kalah, sambil terus berusaha merebut benda pipih itu dari tangan Dimas.
"Alaaah, paling kamu pura-pura nanyain kapan balik ke kantor lagi, kan?" Ujar Dimas lagi, mengejek.
__ADS_1
"Cepat berikan padaku!" Alfan berhasil merebut tab itu dari tangan Dimas. "Kamu menyuruhnya bekerja?" Tanyanya kesal.
"Dia ngga mau menerima uang yang aku kirimkan, bodoh. Lagian dia hanya memeriksa pekerjaan karyawan yang lain, bukan bekerja." Jawab Dimas tidak kalah kesal. Laki-laki di hadapannya ini terlalu berlebihan mengenai Kia, tapi takut berkata langsung.
"Sama saja! Awas kalau Kia kelelahan dan terjadi apa-apa dengan bayinya." Ancam Alfan sambil terus memeriksa isi percakapan antara Kia dan sahabatnya ini. "Kamu berani melamarnya, kamu kan tahu aku cinta padanya." Teriak Alfan lagi.
Dimas tertawa keras.
"Makanya cepat katakan, jangan sampai kamu di tinggal nikah yang kedua kalinya." Ejek Dimas.
Alfan menatap kesal sahabatnya, lalu melempar benda pipih itu ke arah laki-laki penghianat yang terus tersenyum jahat di dalam ruangannya itu. Beruntung Dimas langsung menangkap benda dengan harga belasan juta itu, hingga ia tidak perlu menggantinya dengan yang baru.
"Berhenti jadi pecundang. Mulai sekarang berjuang lah. Yakinkan Kia, jika anaknya membutuhkan sosok Ayah, dan kamu pantas menjadi Ayah dari anaknya." Tegas Dimas.
"Yah, benar. Kamu tahu, rumput tetangga lebih hijau dari pada rumput di halaman sendiri." Ujar Dimas di sela-sela tawanya.
Setelah mengatakan kalimat yang tidak ada faedahnya itu, Dimas segera keluar dari dalam ruangan, sebelum Alfan semakin menggila dan menghajarnya di ruangan ini.
"Cepat bilang padanya kamu hanya bercanda!" Teriak Alfan lagi, namun hanya ditertawakan oleh laki-laki yang baru saja menghilang di pintu ruangannya.
Setelah beberapa saat menatap kesal pintu yang baru saja di lewati Dimas, Alfan segera membawa tubuhnya ke sofa dan terlentang di sana. Membuka akun sosial media yang di sediakan oleh perusahan untuk Kia, selama wanita itu menjadi karyawan di perusahaannya. Menatap lekat wajah cantik berbalut hijab yang masih terpampang di sana. Hingga beberapa saat kemudian, ia menghubungi Dimas dan memerintahkan untuk menghapus setiap jejak Kia di akun perusahaan itu.
Tidak, ia tidak bisa seperti ini. Benar kata Dimas, jika ia terus menjadi pengecut seperti setahun yang lalu, maka Kia akan kembali lepas dari genggamannya. Banyak orang di luar sana yang menginginkan wanita baik seperti Kia, dan ia tidak ingin kembali kehilangan karena ia tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan isi hatinya.
"Aku pasti akan membawamu kembali sebagai wanita yang di cintai oleh banyak orang." Gumam Alfan.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian ia tersenyum, karena setelah sekian bulan sang Mami akhirnya mengizinkan dirinya untuk berkunjung.
Tak ingin membuang waktu, Alfan segera beranjak dari sofa tempat ia duduk lalu keluar dari dalam ruangannya, karena memang perjalanan menuju rumah tempat Kia tinggal memang membutuhkan waktu yang cukup lama, belum lagi jika terjebak macet.
Tidak ada yang perlu di rubah. Jika pun saat ini Kia tidak bisa menerima perasaannya, setidaknya wanita itu tahu jika ada orang yang bersedia menunggu hingga Kia benar-benar siap untuk kembali melabuhkan hatinya yang sempat patah.
"Ngapain kamu?" Tanya Alfan saat ia tiba di pelataran kantor tempat mobilnya terparkir, laki-laki yang siang ini membuatnya kesal, sudah menunggunya di sana.
"Bawa aku, atau kamu ngga bisa pergi sama sekali." Dimas mengangkat layar ponselnya dan memperlihatkan pesan dari Nyonya besar pada putranya. "Tante Nira takut kamu khilaf." Ujar Dimas lagi sambil tertawa senang karena kembali membuat Alfan kalah.
"Bawa mobilnya." Alfan membuka pintu belakang, lalu duduk di bangku penumpang. "Hari ini kamu jadi sopir aku." Sambungnya lagi masih dengan wajah penuh kekesalan. Pupus sudah angannya yang ingin menghabiskan waktu berdua bersama Kia.
"Kamu mau pergi sendiri ke rumah itu? Kamu pikir Kia mau bertemu dan berduaan dengan mu? Ya Tuhan, khayalan mu ketinggian, Pak." Ujar Dimas dengan nada meledek.
Alfan tidak lagi menggubris ejekan sahabatnya. Ia tahu, semakin di ladeni, Dimas akan semakin membuatnya kesal.
"Ayo, Mang. Hati-hati ya, bawa mobilnya." Ujar Alfan.
Dimas hanya tertawa dengan ejekan Alfan padanya, dan segera melajukan mobol meninggalkan perusahaan menuju kota tempat Kia tinggal.
*****
*Note Author.
Hai-hai aku kembali lagi dengan nupel baru ya teman-teman... "Kita Bukan Madu" Sekuel dari Menggenggam Janji, kisah si kembar Riyan dan Rayan sudah publish, silahkan mampir 🥰
__ADS_1