
"Kenapa?" Tanya Kia saat mendengar kalimat yang baru saha di utarakan oleh kakak iparnya. Sejak kapan wanita yang ada di hadapannya ini peduli tentang kehidupannya.
"Karena aku masih manusia biasa. Dan yang lebih penting lagi, aku tidak ingin kamu membuat masalah lebih dan memperburuk suasana. Jika ingin meminta cerai ari Aryan, katakan saja aku akan dengan senang hati membantu mu. Yang terpenting adalah, jangan membuat masalah ini mencuat ke permukaan." Ujar Anggi.
Kia tersenyum miris. Apa orang-orang kaya hanya akan selalu memikirkan diri mereka sendiri? Yah, apa yang sedang ia harapkan saat Anggi mengatakan ingin melihat nya baik-baik saja? Sungguh naif dirimu Kia!
"Tenang saja, Kak. Aku bahkan berniat untuk pergi diam-diam dengan waktu yang lama, namun, Aryan malah datang dan mencari ku di sana. Beruntung aku bisa melarikan diri dari nya dan berakhir di sini, di tempat orang-orang baik." Ujar Kia.
"Jangan muncul di hadapan Aryan dulu, sebelum surat cerai kalian berada di tangan nya. Kamu cukup mengirimkan gugatan saja ke pengadilan, untuk selanjutnya biar menjadi urusan ku." Ujar Anggi.
Kia tersenyum mendengar itu. Sebesar inilah keluarga Aryan tidak menginginkan kehadirannya? Sekuat tenaga Kia berusaha agar air mata nya tidak jatuh di hadapan wanita arogan ini. Tidak, air matanya terlalu berharga jika di gunakan untuk menangisi perpisahan dengan orang-orang yang sama sekali tidak menginginkan kehadirannya.
"Apa wanita itu yang meminta mu datang?" Tanya Kia dingin. Setelah sekian banyak yang ia lakukan agar di terima dengan baik di dalam keluarga suaminya, kini ia sama sekali tidak lagi menaruh hormat pada orang-orang ini.
"Tidak, tapi ini adalah tugas ku sebagai menantu tertua di keluarga. Mengatasi masalah seperti ini, adalah tugas ku. Jadi aku meminta bantuan mu, agar tidak mempersulit pekerjaan ku." Jawab Anggi.
"Tentu saja. Aku sangat berterima kasih karena di bantu untuk segera lepas dari keluarga kalian." Ucap Kia.
Setelah pembicaraan singkat itu, Anggi berpamitan untuk pulang sebelum keluarga suaminya curiga jika ia mengetahui di mana Kia berada.
Di dalam ruangan yang baru saja di tinggalkan Anggi, Kia duduk diam di tempatnya. Sedangkan wanita paruh baya yang sejak tadi menyimak pembicaraan mereka, mengantar Anggi menuju pintu rumah.
"Maafkan saya, Bu. Karena kehadiran saya di sini, membuat semua orang berada dalam masalah." Ucap Kia penuh rasa bersalah saat melihat ibu dari Alfan sudah kembali duduk di sampingnya.
"Tidak, kami sama sekali tidak merasa memiliki masalah dengan mereka. Niat kedatangan kakak ipar kamu itu baik, hanya saja wanita itu tidak pandai mengutarakan niatnya dengan kata-kata yang baik." Jawab Danira. Ia melihat dengan jelas, jika wanita yang baru saja meninggalkan rumah putra nya itu, memang memiliki niat yang baik, yaitu membantu Kia. Hanya mungkin wanita yang bernama Anggi itu, jarang sekali berkomunikasi dengan orang lain, sehingga tidak bisa memilih kata-kata yang baik dalam mengutarakan sesuatu.
"Begitu kah?" Tanya Kia. Kini ia justru merasa bersalah karena sudah mengatai kakak iparnya itu.
Danira mengangguk mengiyakan. Menyentuh bahu wanita yang ada di sampingnya lalu mengusapnya lembut.
__ADS_1
"Kamu mau makan siang apa? Biar nanti Bik Asih buatkan." Tanya nya kemudian.
"Tidak apa-apa, Bu. Saya akan memasak nanti." Jawab Kia.
"Jangan sungkan, tinggal lah dengan nayaman di sini. Jaga bayi kamu dengan baik, terutama makan makanan yang sehat. Kamu tahu kan, jika bayi yang ada di dalam kandungan itu akan ikut bersedih jika ibu nya sedih. Dia pun akan lapar, jika ibu nya menahan lapar. Terlepas dari masalah yang begitu pelik, kamu harus bisa memprioritaskan yang terpenting dalam hidup mu, yaitu janin yang tidak berdosa ini." Usap Danira di perut Kia yang masih rata.
Satu tetes air mata berhasil jatuh di pipi Kia. Ia tidak pernah membayangkan kehidupan pernikahannya akan berakhir seperti ini. Ia masih ingat jelas, jika dulu Mama mertuanya sempat meminta dirinya untuk menunda kehamilan, tapi ia tidak mendengarkan perintah itu. Dan kini, ia tahu tujuan dari wanita yang begitu ia hormati itu. Keluarga Aryan tidak menginginkan keturunan yang lahir dari rahim wanita seperti dirinya.
"Menangis bukanlah hal yang buruk, Kia. Terkadang seorang wanita perlu meluapkan kesedihan nya, agar nanti bisa kembali melanjutkan hidupnya dengan bahagia."
Danira masih mengusap lembut punggung wanita mudah yang kini sesegukan di sampingnya.
"Terimakasih, Bu." Ucap Kia dengan suara serak nya.
Danira tersenyum.
"Bu, bisakah saya meminta Bik Asih berbelanja bahan makanan?" Tanya Kia setelah selesai mencurahkan air mata yang selalu ia tahan.
Danira mengangguk semangat.
"Gimana kalau kita pergi belanja?" Tanya Danira antusias. Sudah lama ia tidak menghabiskan waktu dan uang suami nya berbelanja.
Kia menggeleng pelan.
"Jika Aryan tahu saya berada di sini, laki-laki itu pasti akan memaksa saya kembali ke rumah orang tuanya lagi." Ucapnya lirih.
"Ya sudah, nanti minta bantuan Bik Asih aja dan kita masak sama-sama." Jawab Danira masih dengan semangatnya.
Senyum di bibir Kia terlihat. Semangat wanita dengan usia jauh berbeda dengannya ini, seakan menular padanya.
__ADS_1
Kedua wanita itu lantas melangkah menuju dapur untuk menemui asisten rumah yang memang sudah lama tinggal di sini untuk menjaga rumah milik Azam.
"Loh Bik, dapat dari mana?" Tanya Danira saat melihat asisten rumah sedang merapikan banyak bahan makanan ke dalam lemari pendingin.
"Pak Azam selalu mengirimkan bahan makanan untuk saya dan Makan, Bu." Jawab wanita yang sedang memilih-milih bahan makana itu.
"Oh iya, saya lupa." Jawab Danira terkekeh. "Nanti bilangin Azam jangan lupa ngirim buah-buahan segar buat Kia, ya." Sambungnya.
"Tidak apa-apa, Bu. Biar nanti saya pesan melalui aplikasi." Cegah Kia. Sudah di izinkan untuk tinggal, baginya sudah lebih dari cukup. Ia tidak mau semakin merepotkan keluarga ini.
"Hei apa sih, ngga apa-apa asal jangan minta Alfan aja, bahaya." Ujar Danira.
Kia mengerutkan keningnya, heran.
Melihat Kia yang menatapnya heran, Danira segera tertawa.
"Maksud ku, nanti dia ga fokus kerja, begitu." Jelasnya masih dengan tawa di bibirnya.
Meskipun tidak mengerti arah pembicaraan wanita paruh baya di sampingnya ini, Kia tetap mengangguk mengiyakan.
"Neng Kia mau makan apa?" Tanya wanita yang baru saja beranjak dari atas lantai setelah menyelesaikan pekerjaan nya.
"Biar saya yang masak, Bik. Sudah lama sekali saya tidak masak." Ucap Kia.
"Wah berarti hidup kamu di rumah mertua mu senang dong. Aku pikir mereka memperlakukan kamu seperti menantu yang ada di novel-novel itu." Ucap Danira.
"Justru itulah yang saya inginkan, Bu. Saya akan lebih ridho melayani mereka, yang terpenting mereka menganggap saya ada di rumah itu." Jawab Kia.
Danira terdiam. Tak ingin melanjutkan pembicaraan yang mungkin akan membuat Kia tidak nyaman, Danira hanya kembali mengusap punggung wanita muda di sampingnya itu.
__ADS_1