Kebaikan Sebuah Pernikahan

Kebaikan Sebuah Pernikahan
Bab 16. Kemarahan Aryan


__ADS_3

"Di mana Kia?" Tanya Aryan. Suara nya menggelegar di dalam ruangan Alfan.


"Kenapa kamu menanyakan istri mu pada ku? Bukan kah kamu yang seharusnya lebih tahu di mana dia sekarang?" Tanya Alfan dengan tatapan tajam dari kursi kebesaran nya.


"Aku tidak ingin bermain-main, cepat katakan di mana istri ku!" Teriak Aryan. "Di mana ruangannya?" Tanya nya lagi dengan mata memerah dan berkaca.


"Kamu bisa menanyakan hal itu pada karyawan lain, dan tidak perlu berteriak di depan ku!" Ujar Alfan tegas. Laki-laki itu kembali sibuk dengan pekerjaan yang ada di atas meja kerja nya. Meskipun kini perasaannya mulai tidak enak. Jika Aryan datang mencari Kia di kantor nya, itu berarti wanita itu tidak lagi berada di rumah sakit. Lalu di mana wanita yang ia cintai itu berada?


"Tolong suruh orang mengecek apartemen Kia, Dim."


Satu pesan chat masuk ke dalam ponsel Dimas. Lelaki yang sejak tadi berdiri di depan ruangan atasan sekaligus sahabatnya itu, segera melangkah keluar dari sana. Ia ingin memastikan sendiri dengan mata kepalanya, jika wanita yang sedang di khawatirkan oleh sahabat nya itu ada di sana.


"Di mana ruangan, Kia?" Tanya Aryan.


Dimas yang hendak meninggalkan ruangan itu, kembali terhenti.


"Di sebelah sana, Pak. Nanti tanyakan pada rekan-rekan nya yang ada di sana." Jawab Dimas berusaha sebaik mungkin, walau sebenarnya ia benar-benar kesal dengan laki-laki di di hadapannya ini. Jika saja ia dan Kia memiliki ikatan darah atau apapun itu, sudah di pastikan laki-laki sombong yang baru saja berlalu dari hadapannya itu, sudah berakhir di tangannya.


Setelah menyadari kembali, apa yang menjadi tujuannya, Dimas segera melangkah keluar dari perusahaan menuju pelataran. Tidak membutuhkan waktu lama, mobil milik Alfan sudah melaju di jalanan Jakarta. Dimas masih terus berkonsentrasi dengan kemudi, sambil terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri, di mana wanita malang itu berada.


Di ruangannya, Alfan segera menghubungi Kia, namun, ponsel wanita yang sedang ia khawatirkan itu, sudah berada di luar jangkauan.


"Ku mohon Kia, kamu di mana? Jangan melakukan hal yang buruk." Gumam Alfan memohon. Jika wanita yang ia cintai itu hanya pergi untuk memenangkan diri, itu bukanlah masalah baginya. Yang terpenting, Kia baik-baik saja.


"Bang Azam, di mana?" Tanya Alfan setelah ponselnya sudah terhubung kembali dengan seseorang.


"Masih di rumah sakit. Ada apa, Fan?"

__ADS_1


"Bang tolong periksa ruang rawat, Kia. Aryan datang dan mencarinya di kantor." Ujar Alfan.


"Iya, kamu harus tetap tenang. Aku akan meminta orang untuk mencari nya."


Alfan bernafas lega, lalu panggilan di telepon itu berakhir.


****


Saat tiba di apartemen, Dimas langsung menuju lantai di mana unit yang ia tempati berada. Karena apartemennya berada di lantai yang sama dengan Kia. Jangan tanya lagi mengapa, karena atasan nya memang sudah sejak dulu jatuh hati dengan wanita itu, namun, terlalu pintar menyembunyikan perasaan. Setelah mobil yang di kendarai nya sudah terparkir rapi di basement, Dinas segera keluar dari dalam mobil itu, lalu masuk ke dalam lift dan naik menuju lantai tempat unit nya dan Kia berada.


Saat Dimas tiba di sana, kondisi apartemen masih sama, sunyi dan tak berpenghuni.


"Dia tidak berada di sini." Ucap Dimas pelan saat ponsel yang ada di telinganya sudah terhubung dengan Alfan. Beberapa saat kemudian panggilan itu di akhiri secara sepihak oleh atasan sekaligus sahabatnya.


Karena tidak ada lagi yang ia lakukan di tempat ini, Dimas segera turun kembali menuju basement, dan masuk ke dalam mobil.


****


"Apa kamu lapar, Nak? Ibu lapar, tadi hanya makan buah pemberian orang baik." Gumamnya seolah sedang berbicara dengan buah hatinya yang masih berada di dalam kandungan. Masih ada waktu beberapa puluh menit lagi sebelum keberangkatan. Melihat ada sebuah stand makanan ringan yang tersedia di sana, Kia langsung mendatangi dan membeli beberapa, untuk di makan saat itu juga.


"Permisi.."


Mendengar seseorang uang yang mungkin sedang mengajak nya berbicara, Kia langsung berbalik.


Betapa terkejutnya dia saat mendapati laki-laki dingin yang sering di juluki es balok berjalan oleh para karyawan di kantor, sudah berdiri di belakang nya. Terlihat jelas laki-laki yang selalu di segani oleh sebagian besar karyawan di kantor itu, berlari ke sini. Nafas yang tidak teratur, juga peluh yang nampak terlihat di pelipis.


"Bapak mau melakukan perjalanan Dinas? Tapi tournament itu masih dua minggu lagi." Ucap Kia.

__ADS_1


Alfan masih diam sambil menatap lekat wajah pucat Kia. Setelah mengatakan kata permisi tdi, belum ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya.


"Pak?" Kia melambai-lambai kan tangannya di depan wajah Alfan, hingga membuat laki-laki itu akhirnya tersadar dan segera berpaling.


"Pak.." Ucap Kia lagi, kali ini di sertai dengan tatapan terkejut dari wanita itu, saat pergelangan tangannya di genggam dengan erat, lalu di tarik keluar dari Bandara.


"Kontrak kerja kita belum selesai, dan kamu dengan seenaknya pergi tanpa mengurus surat pengunduran diri terlebih dahulu? Jangan harap!" Ujar Alfan sambil terus menarik tangan Kia, agar wanita itu keluar dari gedung Bandara.


"Saya mohon, Pak. Masalah saya sangat pelik. Saya akan mengurusnya nanti, untuk hari ini biarkan saya pergi. Saya tidak mau, hidup anak saya akan menderita seperti saya, jika terus berada di kota ini." Lirih Kia memohon.


Alfan berhenti melangkah.


"Baiklah, aku akan membantu mu. Tapi semuanya harus sesuai dengan rencana ku." Ujar Alfan memberi penawaran. "Jangan terlalu lama berpikir, Kia. Sebentar lagi, setelah puas mengamuk di perusahaan ku, suami mu pasti akan datang ke sini." Sambung nya sambil melepaskan pergelangan tangan Kia.


Kia justru begitu terkejut mendengar kalimat Alfan jika suaminya sedang mengamuk di perusahaan tempatnya bekerja.


"Maafkan saya, Pak." Ucap Kia pelan penuh rasa bersalah.


"Cepat berikan keputusan. Aku sudah mengambil resiko demi membantu mu. Setelah ini Mami dan Papi pasti akan memukul kepala ku karena melakukan ini." Ujar Alfan lagi.


"Tapi bagaimana dengan perusahaan? Mas Aryan pasti akan terus mengamuk sampai aku benar-benar berada di hadapannya." Ucap Kia bingung.


Alfan menghembuskan nafas berat. Ia sungguh kesal, bercampur gemas dengan wanita yang ada di hadapannya ini.


"Dimas yang akan mengurus semua nya. Ayo mau menerima tawaran ku atau tetap melanjutkan perjalanan mu. Ada dia resiko jika kamu tetap memilih melanjutkan perjalanan mu. Yang pertama kamu masih akan berurusan dengan perusahaan, dan yang kedua, besar kemungkinan keluarga Aryan akan menemukan kamu. Mencari seorang wanita yang sedang membawa darah daging mereka, tidak akan sulit, Kia. Terlebih kamu menggunakan semua kartu Identitas kamu di Bandara ini, itu pasti akan semakin mempermudah mereka mengetahui kemana kamu pergi." Ujar Alfan memberi penjelasan.


Kia terdiam beberapa saat, namun kemudian pergelangan tangannya kembali ditarik keluar dari gedung bandara.

__ADS_1


__ADS_2