Kebaikan Sebuah Pernikahan

Kebaikan Sebuah Pernikahan
Bab 30. Gadis Kecil Kesayangan Alfan


__ADS_3

Pagi sekali mobil Alfan sudah terparkir rapi di rumah yang sudah lebih dari lima tahun ini di tempati Kia. Setelah kelahiran gadis kecil yang yang ia beri nama, Adzkayra Humaira, Alfan sering mengunjungi rumah itu walau hanya sekedar untuk mengajak gadis kecilnya berjalan-jalan.


"Apa ini aman?" Tanya Kia khawatir. Pasalnya ini kali pertama Alfan mengajaknya ke Jakarta. Biasanya laki-laki yang sudah memintanya untuk menikah berulang kali ini, hanya akan membawa putrinya ke tempat-tempat bermain di sekitar tempat tinggalnya.


"Hari ini hari ulang tahun Arkana. Kakak-kakak Kay juga akan ada di sana semua. Ada Aidan, dan juga Azka. Makanya Kay harus datang." Jawab Alfan tanpa menoleh ke arah Kia, dan terus membantu Kayra memakai sepatunya. "Oma juga sudah kangen sama Kay. Lama ga ketemu." Ucap Alfan lagi sambil mengusap lembut kepala gadis kecil kesayangannya.


Melihat anggukan kepala yang begitu antusias dari putrinya, Kia hanya bisa menghela nafas berat. Rasa khawatir bertemu dengan Aryan dan keluarganya, masih saja mengganggu. Kayra adalah harta yang paling berharga. Sumpah demi apapun, ia tidak akan mampu jika nanti di pisahkan dengan putri kecilnya ini.


"Apa yang sedang kamu khawatirkan? Papi dan Mami tidak akan membiarkan cucu mereka kenapa-napa, Kia. Dan aku pun akan mempertaruhkan nyawaku untuk menjaga putri ku." Tegas Alfan.


Kia mengalihkan tatapannya dari Kayra, lalu menatap laki-laki yang sudah berdiri di hadapannya dengan lekat. Mencari keyakinan untuk dirinya sendiri dari laki-laki yang ada di hadapannya ini, jika membawa Kayra ke Jakarta bukanlah sebuah kesalahan.


"Kay juga mau ketemu, Oma, Ma. Sudah lama sekali Oma tidak kemari." Ucap gadis kecil yang masih duduk di atas sofa.


Adzkia segera mengangguk. Meskipun Aryan memiliki hak, tapi tidak seberapa seperti hak yang ia miliki. Bukan kah keluarga mantan suaminya itu tidak pernah menginginkan dirinya untuk memberi keturunan pada keluarga terhormat itu.


"Ya udah, Mama pamit pada Eyang dulu ya." Kia kembali berbalik menuju ruang belakang untuk berpamitan pada Bik Ida dan suami nya.


Sedangkan Alfan segerabmembawa Kayra ke mobilnya. Perjalanan mereka cukup jauh, dan ia harus tiba di Jakarta siang ini karena berniat membawa Kayra untuk membeli perlengkapan gadis kecilnya ini.


Beberapa saat menunggu di dalam mobil, terlihat Kia sedang melangkah keluar dari rumah menuju ke arah nya. Alfan masih terus mengikuti langkah kaki wanita yang ia cintai itu, dengan tatapannya. Hingga saat Kia sudah tiba di samping pintu mobil, barulah ia memalingkan tatapannya.


Setelah memastikan Kia duduk dengan nyaman, juga sabuk pengaman sudah terpasang rapi, Alfan mulai melakukan mobil meninggalkan pelataran rumah.


"Sudah ku bilang jangan terlalu khawatir. Mereka tidak akan berani menyentuh Kayra, jika tahu orang-orang yang ada di belakang kalian adalah keluarga kami." Ujar Alfan yakin.


Sejujurnya sudah sejak lama ia ingin mengajak Kia ke Jakarta, untuk membuktikan jika yang Kia khawatirkan selama ini tidak akan pernah terjadi. Keluarga Aryan memang orang penting, namun, tidak sepenting keluarganya. Ah, biarlah ia menyombongkan diri, karena begitulah keadaannya. Lagi pula, laki-laki itu yang meninggalkan Kia dan memilih menikah dengan wanita lain, lalu bagaimana ceritanya ia bisa merebut Kayra dari Kia.


"Kayra senang?" Tanya Alfan karena di dalam mobil itu begitu senyap.

__ADS_1


"Senang, Papa." Jawab gadis kecil itu dengan antusias.


Kia melirik putrinya yang nampak sedang menikmati perjalanan mereka, lalu tersenyum.


"Dimas aja ga akan aku izinkan menyentuh Kayra, apalagi laki-laki itu." Ucap Alfan lagi membuat Kia menoleh dan menatap wajah samping Alfan.


"Dimas dan Aryan berbeda." Ucap Kia.


"Tenanglah. Kayra putri ku, hanya itu yang aku tahu." Jawab Alfan.


Kia tidak lagi menimpali. Lima tahun telah berlalu, dan kalimat ini selalu ia dengar dari bibir Alfan. Kayra pun nampak begitu nyaman bersama laki-laki di sampingnya ini.


"Mengenai lamaran Tante dan Om...


"Walaupun kamu tidak mau menerimanya, aku akan tetap di sini." Sela Alfan


"Dengarin dulu. Dasar Tuan pemarah." Kesal Kia.


Si Dimas, asisten kepercayaannya saja tidak di izinkan menyentuh apalagi memeluk putrinya.


Kia kembali melirik putrinya yang sudah terlelap dengan nyaman di kursi belakang, lalu beralih pada Alfan yang masih berkonsentrasi dengan kemudi mobil.


"Aku mau menikah." Ucapnya pelan. "Agar kamu punya kekuatan hukum untuk menjaga Kayra." Sambungnya lagi.


Alfan tersenyum tipis. Tidak masalah jika alasan Kia menerima tawarannya untuk menikah adalah Kayra. Karena Kayra memang sama berharganya dengan Kia.


"Aku akan mengatakan pada Mami nanti untuk menyiapkan pernikahan kita." Ucap Alfan.


"Ya, jangan sekarang dulu." Ucap Kia gugup.

__ADS_1


"Lalu kapan? Kamu meminta ku menunggu lima tahu tahun lagi? Kenapa ga sekalian tunggu kita ubanan dulu." Alfan mulai keluar tanduk.


Kia tertawa geli melihat kemarahan Alfan.


"Maksud aku jangan hari ini. Biar aku berbicara sendiri dengan Tante nanti." Jawabnya.


"Baiklah." Jawab Alfan mengalah, dari pada tidak jadi menikah.


Cukup lama waktu berlalu di jalanan. Mobil yang di kendarai Alfan mulai memasuki area Jakarta. Kia mengelilingi jalanan itu dengan netra nya. Yah, setelah kepergiannya dari kota ini lebih dari lima tahun yang lalu, ini pertama kalinya ia kembali menginjakkan kaki di sini.


"Kita singgah di mall dulu. Kay ngga bawa baju pesta, kan?" Tanya Alfan.


Kia mengangguk mengiyakan.


Alfan pun terus melajukan mobilnya menuju pusat perbelanjaan. Dan Kia terus menatap bangunan-bangunan yang menjulang tinggi melalui kaca mobil. Hingga tidak terasa, mobil sudah berhenti di pelataran parkir sebuah bangunan megah dengan puluhan lantai.


Alfan lebih dulu turun dari mobil, lalu membuka pintu belakang di mana Kayra berada.


Kia tidak lagi heran dengan keadaan itu. Saat mereka mengunjungi tempat-tempat bermain di kota tempatnya tinggal, Alfan tidak pernah membiarkan dirinya mengurus Kayra. Lelaki yang memang jarang mengunjungi putrinya karena kesibukan yang padat itu, akan menghabiskan banyak waktu hingga lupa dengan yang lain.


"Sudah sampai ya, Pa." Tanya Kayra dengan suara menggemaskan saat Alfan melepaskan sabuk dengan yang melingkar di tubuh kecilnya.


"Iya. Kayra beli baju dulu, baru kita lanjutkan ke rumah Oma." Jawab Alfan. Laki-laki itu tersenyum saat melihat binar di mata putri nya.


"Benar, Pa?" Tanya Kayra memastikan.


"Tentu saja." Jawab Alfan.


Kia masih berdiri dengan diam. Melihat pemandangan yang ada di hadapannya dengan hati berdebar. Semoga, yah semoga ia tidak salah lagi menentukan keputusannya hari ini.

__ADS_1


Semoga keputusannya kali ini, akan membawa ia dan putrinya menuju kebahagiaan.


__ADS_2