Kebaikan Sebuah Pernikahan

Kebaikan Sebuah Pernikahan
Bab 44. Akhir Kisah ( End )


__ADS_3

Prang.....


Benda melayang lalu menghantam dinding ruang kerja Ganedra. Lelaki paruh baya itu terlihat begitu geram atas hasil yang ia terima hari ini. Organisasi yang menaungi dan berniat mengajukan mengajukan dirinya sebagai bakal calon, memutuskan kerja sama secara sepihak, dan itu membuat lelaki paruh baya itu geram.


Aryan melirik benda berbahan kaca yang sudah hancur berhamburan di atas lantai itu dengan nanar. Yah, benar kata Kia dulu. Semua yang ia perjuangkan selama ini, hingga mengorbankan cinta nya, hanyalah sebuah kesia-siaan. Masa depan yang ia impikan bisa terwujud dengan sokongan keluarga, kini tidak lagi terlihat. Lalu apa yang ia lakukan selama ini? Untuk apa pengorbanannya selama ini, hingga akhirnya hanyalah kegagalan yang ia dapatkan.


Jika sang Ayah nya gagal maju sebagai bakal calon, itu berarti tidak ada harapan untuk terpilih. Lalu untuk apa ia mengorbankan Kia dan putrinya, jika akhirnya tidak sesuai dengan apa yang di harapkan? Benar-benar nikmat balasan dari sang pencipta atas apa yang sudah keluarga nya lakukan pada Kia.


"Aku mau keluar, Mas." Izin Aryan lalu beranjak dari atas sofa yang ada di ruang kerja ayah nya.


Brakkk.


.


Sebuah map melayang dan menghantam kepala Aryan. Lelaki yang hendak keluar dari ruangan, akhirnya menghentikan kepalanya.


"Sejak dulu kamu adalah pembawa sial dalam keluarga ini. Benar-benar tidak berguna!" Maki lelaki paruh baya yang sedang menatap Aryan dengan tajam. "Mau keman kamu? Mau pergi dengan pelacur- pelacur mu itu, ha? Di rumah ini ada istri mu, kenapa malah meniduri perempuan-perempuan malam itu?" Teriak Ganedra dengan nafas tersengal-sengal.


"Nanti jantung Papa kambuh lagi." Anggi berusaha untuk menenangkan Papa mertuanya.


"Itu semua karena kegagalan Papa, bukan kegagalan ku. Papa yang membuat semua ini hancur, termasuk rumah tangga ku." Jawab Aryan kesal. Ia lalu melanjutkan langkah kakinya keluar dari ruangan yang sudah seperti neraka itu. Yah, hidupnya benar-benar sial. "Oh iya satu lagi, aku ngga pernah merasa memiliki istri di rumah ini. Jika Papa mau, papa boleh mengambilnya." Sambung Aryan sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan ruangan terkutuk itu.


"Kita harus bagaimana, Pa. Kalau Papa tidak bisa terpilih, lalu bagaimana dengan dana yang sudah kita kucurkan. Itu sangat banyak, Pa..


"Diam!" Bentak Ganedra membuat istrinya terkejut "Kamu benar-benar tidak berguna!" Sambung lelaki itu lagi pada istrinya.


Beberapa saat kemudian, Ganedra keluar dari dalam ruangan sambil di bimbing oleh menantunya.


****


Jika di kediaman Ganedra begitu mengenaskan, berbeda dengan kediaman Arion dan Danira yang nampak begitu hangat. Kebahagiaan seakan tidak ingin pergi dari keluarga itu.


"Nanti dia bangun." Pukul Danira di kepala Alfan, karena putranya itu terus saja mencium pipi gembul bayi yang sedang terlelap di pangkuannya.


Kia yang sedang mengikat rambut panjang Kayra, tertawa geli karena melihat pemandangan yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Habisnya, dia itu laki kok hobinya tidur." Keluar Alfan. Ia ingin sekali mengajak jagoan kecilnya itu bermain, akan tetapi bayi gembul menggemaskan itu lebih senang tidur.


"Dia kan masih bayi, Pah." Suara cempreng milik Kayra terdengar di dalam ruangan. "Ayo, Kay udah siap." Ajak gadis kecil itu setelah rambut panjangnya sudah terikat rapi.


Alfan segera beranjak dari sofa. Mengulurkan tangannya ke arah Kayra, lalu membawa gadis kecilnya itu keluar dari rumah.


"Memangnya mereka berdua itu mau kemana sih, Kia?" Tanya Danira.


"Kia juga ga tahu, Mi. Kata Kayra mau di ajak jalan-jalan sama Papa nya." Jawab Kia.


"Sekali-kali kamu juga ikut keluar, Kia. Ga bisa apa? Udah dua bulan lebih loh kamu berdiam diri di rumah." Ujar Danira lagi.


"Nanti aja, Mi. Kalau Afif sudah bisa di ajak jalan-jalan. Iya kan, Nak?" Kia mencolek hidung putra kecilnya.


Danira tersenyum.


"Sini, Mi. Biar Kia bawa ke kamar aja." Pinta Kia.


Danira mengangguk dan menyerahkan bayi mungil yang sedang terlelap di pangkuannya itu kepada Kia untuk di bawa ke kamar agar bisa tidur dengan nyaman.


Setelah bayi kecil itu sudah berpindah dalam dekapannya, Kia meminta izin untuk pergi ke dalam kamar.


****


Jika bukan Alfan, entah bagaimana kehidupannya dengan Kayra saat ini. Beruntung, ia mengambil keputusan yang tepat sebelum semuanya terlambat.


Cinta, kasih sayang, dan perlindungan yang di berikan oleh keluarga Alfan untuk dirinya dan juga Kayra, benar-benar tidak bisa ia balas walau pun berujar kali ia mengucapkan terimakasih atas semua itu.


Keluarga yang tidak pernah memandang dari mana dia berasal. Juga tidak pernah mempermasalahkan kekurangannya. Padahal saat menikahi dirinya, Alfan terbilang laki-laki yang mampu mendapatkan wanita mana saja yang jauh lebih baik darinya.


"Ngelamunin apa sih sampai dalam ku ga di balas-balas." Kecupan hangat tiba-tiba mendarat di puncak kepalanya.


"Loh, Mas. Kok sudah balik? Kayra mana?" Tanya Kia beruntun.


"Yah, tadi kan emang cuma mau membelikan perlengkapan Kayra di minimarket terdekat." Jawab Alfan. Lelaki itu mendudukkan tubuhnya di samping Kia, lalu membawa istrinya itu ke dalam dekapan.

__ADS_1


"Kok ga bilang, Mas? Aku pikir, tadi Kayra emang mau ngajakin kamu jalan-jalan." Ujar Kia sambil menghirup wangi maskulin yang menguat dari tubuh Alfan.


"Nggak. Dia ngerti aku ga bisa ninggalin kamu lama-lama." Ucap Alfan, membuat Kia tertawa.


"Terus Kayra di mana?" Tanya Kia berusaha melepaskan pelukan Alfan yang semakin erat di tubuhnya.


"Aku sudah bilang, dia ngerti aku ga bisa jauh-jauh dari kamu. Dia lagi buat tugas sekolah sama Mami." Jawab Alfan sambil tangannya mulai berjalan-jalan di area-area favoritnya.


"Mas, nanti Kayra tiba-tiba masuk." Kia menahan tangan Alfan agar tidak bertindak lebih jauh.


Alfan pun menurut, dan menarik tangannya dari dalam baju Kia. Namun, bukan berniat mengakhiri kegiatan favoritnya itu, namun, justru mengangkat tubuh Kia menuju ranjang besar mereka.


"Mas, nanti Kayra tiba-tiba datang." Kia mendorong tubuh besar Aryan yang sedang menindihnya.


"Oke tunggu sebentar, aku akan mengunci pintu nya dulu." Jawab Alfan acuh, namun, Kia justru terbelalak. Bukan itu maksudnya.


Dan akhirnya, ritual malam panas yang sudah jarang sekali mereka lakukan karena bayi kecil yang sudah lebih dulu membuat Kia kelelahan, akhirnya bisa kembali terulang.


Adzkia Nayla Talita, gadis cantik dan pintar. Tidak banyak hal yang ia inginkan setelah menikah, cukup menjadi satu-satunya yang di cintai oleh suaminya. Perkara ukuran bahagia, itu menjadi urusan belakangan. Selama laki-laki bisa menghargai keberadaan nya, selama itu pula, rasa bahagia akan selalu melekat di hidupnya.


Namun, begitulah kehidupan. Terkadang, kita harus bersiap basah dengan hujan, sebelum kemudian menikmati indahnya warna warni pelangi.


~Tamat~


*****


*NoteAuthor


Hai semuanya, kisah Kia dan Alfan berakhir di sini yaa...


Q : Kok cepat banget sih thor tamat nya ?


A : Seperti novel-novel ku yang lain, yaa.


Q : Ada Chapter Bonus nya gak Thor?

__ADS_1


A : Tentu saja. Bahkan season dua kisah Kayra akan langsung nyambung di sini. Pokoknya jangan di Unfavorit dulu yaa..


Udah gitu aja.. Pokoknya terimakasih banyak udah ngikutin cerita receh aku ini. Love sekebun buat kalian yang sudah kasih dukungan berupa vote, gift, like dan komentar nya.. ❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2