Kebaikan Sebuah Pernikahan

Kebaikan Sebuah Pernikahan
Bab 51. S2 ( Kamu Yang Tercantik )


__ADS_3

Pagi yang indah kembali menyapa kediaman Alfan dan Adzkia. Sepasang suami istri baru saja menikmati sarapan pagi, dan bersiap berangkat ke tempat kerja. Bersama dengan itu, laki-laki yang tidak asing lagi sudah tiba untuk datang menjemput putri mereka.


Arkan melangkah mendekati mobil paman nya, lalu menyalami sepasang suami istri yang sedang berdiri di sana. Kayra dan Afif juga melakukan hal yang sama pada kedua orang tua mereka.


***


"Abang aku nebeng ke kampus ya.." Seorang pemuda tampan yang sudah rapi seperti anak kuliahan pada umunya, berlari mendekat ke arah Arkana yang hendak kembali masuk dalam mobilnya. Di setiap pagi, ia memang selalu menjemput Kayra, dan tidak mengizinkan adik sepupunya itu naik kendaraan umum apalagi mengendarai mobilnya sendirian.


"Tumben.. Memangnya mobil kamu ke mana?" Tanya Arkana.


"Lagi di bengkel." Jawab Afif gugup.


Arkana menatap adik sepupunya itu, curiga.


"Jangan bohong kamu." Tuduh nya.


Afif menatap kakak sepupunya itu dengan tatapan memohon.


"Jangan besar-besar suaranya, Bang. Nanti Mama dengar." Bisik Afif..


"Jelaskan pada ku nanti di telepon." Tegas Arkana. Ia tidak mau mengambil resiko jika adiknya ini melakukan hal yang sudah di luar batas.


"Apa yang kalian bicarakan?" Tanya Kayra saat tiba di samping mobil Arkana. Ia menatap dua orang itu bergantian dengan tatapan menyelidiki.


"Cewek cantik di kampus aku yang lagi di naksir sama Bang Arka." Jawab Afif dan terburu-buru masuk ke dalam mobil Arkana.


"Benaran, Bang?" Tanya Kayra kepo.


Arkana mengangkat bahunya.


"Masuk." Ajaknya.


Kayra masih menatap laki-laki itu dengan penuh selidiki, namun tetap patuh dan ikut masuk ke dalam mobil. Dia tahu Arkana seperti apa, dan setiap apa yang terjadi pada laki-laki di samping nya ini, pasti dialah yang akan lebih dulu tahu.


"Tenang aja, kamu masih yang tercantik kok." Ujar Arkana lalu tertawa geli dengan ucapannya sendiri. Terlebih melihat wajah cemberut di sampingnya, juga adegan ingin muntah dari kursi belakang.

__ADS_1


Karena Kayra tidak bertanya lagi, Arkana segera melajukan mobilnya meninggalkan pelataran rumah Aunty dan Pamannya menuju perusahaan Ayah nya yang kini di pimpin oleh nya.


Dalam perjalanan menuju kampus tempat Afif menimba ilmu, Arkana sesekali melirik adik sepupunya itu. Jelas terlihat jika sang adik memang sedang memiliki masalah, namun, mungkin takut untuk mengutarakan nya...


Di kursi penumpang, Afif pun nampak sesekali memeriksa ponselnya, lalu menarik nafas. Ia menunggu kabar dari sahabatnya tentang penjualan mobil miliknya. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini, sampai begitu berani melakukan hal ini tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya.


Cukup lama waktu yang di habiskan di jalanan. Kini mobil mewah milik Arkana sudah terparkir di depan kampus Afif. Pemuda yang sebentar lagi akan bergelar seorang dokter itu, kemudian turun dari dalam mobil dan berpamitan pada kedua kakaknya.


"Jangan lupa hubungi aku!" Perintah Arkana tegas. Afif mengangguk, meskipun ia belum tahu apa yang harus i katakan pada kakak sepupunya ini mengenai mobil itu.


"Hubungi tentang apa?" Tanya Kayra.


"Biasa, Kay. Gadis cantik walau tak secantik kamu." Jawab Arkana dan langsung mendapat tatapan kesal dari Kayra.


Setelah Afif berlalu dari sana, Arkana kembali melajukan mobilnya menuju perusahaan. Kayra terlihat masih belum percaya tentang gadis cantik yang sedang di bahas oleh Arkana dan adiknya, dan itu membuat Arkan tertawa geli.


Beberapa saat kemudian, tangannya terulur dan mengacak-acak jilbab yang membungkus kepala Kayra.


"Bang, siapa sih?" Tanya Kayra penasaran, dan semakin membuat Arkana tertawa .


"Adalah, nanti aku kenalin." Jawab nya.


"Kalau dia ngga suka, ya ngga apa-apa. Kan masih ada kamu." Jawab Arkana, membuat bibir Kayra seketika mengerucut.


"Aku serius loh." Ucap Arkana lagi.


Kayra tidak menggubris. Dia tahu, laki-laki di sampingnya ini memang sangat usil padanya.


"Kalau aku tidak bisa dapat jodoh, kamu mau kan jadi jodoh aku?" Tanya Arkana.


"Enak aja, aku ini bukan cadangan! Abang kan tahu berapa banyak laki-laki yang sedang menantikan aku membuka hati." Jawab Kayra dengan begitu percaya diri.


"Aku serius, Kay." Ucap Arkana.


"Ogah!" Kayra memalingkan wajahnya. Menghindari sesuatu yang kali ini membuat dadanya berdebar. Tatapan serius Arkan membuatnya takut.

__ADS_1


"Wajah kamu memerah." Ucap Arkan tertawa geli.


"Ngeselin...!!" Beberapa pukulan mendarat dengan sempurna di kepala Arkan membuat laki-laki itu meringis kesakitan.


"Tangan mu itu, ya Allah, Kayra." Kesal Arkana. Kepalanya benar-benar terasa sakit karen hantaman tangan lentik Kayra.


"Habisnya, bikin kesal aja." Ujar Kayra tidak kalah kesal. Tatapan tajam manik indahnya, membuat Arkan bergidik ngeri.


"Tapi benar, Kay. Aku sudah ngelamar kamu loh dari kecil. Coba tanya Aunty dan Paman." Ujar Arkana.


Kayra semakin mendelik kesal, walah jantungnya terus berdetak tidak karuan. Walau senyum jail terlihat di bibir Arkana, namun, keseriusan terlihat jelas di mata laki-laki itu membuat Kayra gugup.


"Kamu mau nggak, Kay?" Tanya Arkana.


"Siapa sih yang ga mau laki-laki kaya seperti Abang ini." Kayra menarik tubuhnya dan mendekati Arkana. Gadis itu bahkan melepaskan sabuk pengaman yang melingkar di tubuh nya, dan menatap Arkana jail.


Kali ini, Arakan yang di buat salah tingkah dengan kegilaan adik sepupunya itu.


"Jadi kapan kita nikah?" Tanya Kayra sambil mengedipkan matanya genit. Namun, yang Arkana tidak tahu, apa yang sedang di lakukan Kayra, hanya semata untuk melawan rasa gugup gadis itu.


"Apa sih, Kay. Pakai sabuk pengaman kamu. Bahaya!" Ujar Arkana khawatir.


Kayra tertawa geli. Kelakuannya benar-benar berhasil membungkam mulut Arkana. Dengan cepat ia kembali duduk dengan nyama di kursi mobil, dan memakaikan sabuk pengaman di tubuhnya.


"Dasar!" Omel Arkana.


"Abang itu bukan tandingan aku." Ujar Kayra meremehkan. "Tapi menikah bukan hal yang buruk sih, apalagi nikahnya sama laki-laki mapan seperti Abang. Apa sekarang aku harus memikirkan untuk segera mencari laki-laki mapan." Gumamnya lagi membuat Arkana menoleh.


"Awas aja kalau kamu lakukan itu!" Ucapnya tegas.


"Bang, nanti kenalin sama salah satu rekan bisnis Abang ya." Pinta Kayra lagi.


"Gak akan!" Jawab Arkana tegas.


"Ya udah, nanti aku cari sendiri."

__ADS_1


"Awas aja." Arkana masih tidak mau kalah.


Perdebatan tentang laki-laki mapan masih terus berlanjut, hingga mobil mewah yang membawa mereka tiba di pelataran kantor.


__ADS_2