
Kia terdiam sambil menatap nanar barang-barang kesayangannya sudah berhamburan di atas lantai. Dada nya seakan mau pecah, saat mendapati barang-barang kesayangannya itu sudah hancur berserakan di atas lantai ruang kerja suami nya.
"Apa Mas melakukan ini?" Tanya Kia serak. Air mata nya ingin sekali tumpah, namun, sekuat tenaga ia menahan nya. "Apa Mas melakukan ini?" Tanyanya lagi. Kali ini tatapannya sudah tertuju pada laki-laki yang masih saja mematung tidak jauh dari tempatnya.
"Jika kamu mau mengikuti semua permintaan ku, kejadian ini tidak akan pernah terjadi, Kia." Jawab Aryan.
Kia tersenyum miris.
"Maksud Mas, aku harus rela jika Mas menikah lagi, begitu?" Tanya Kia masih sambil menatap tajam ke arah suami nya.
"Ini tidak akan sama dengan pernikahan kita, Kia. Aku mencintai mu, dan Rika hanya akan memberi kan Papa sedikit jalan...
"Aku ngga peduli dengan semua itu, Mas. Siapa yang melakukan semua ini?" Tanya Kia lagi sambil menatap serpihan komputer miliknya yang sudah berserakan di atas lantai.
"Aku bisa menggantinya dengan yang lebih baru, Kia. Aku mohon jangan memperkeruh suasana. Mama akan semakin marah, jika kamu tidak patuh." Kali ini Aryan berkata lirih, memohon.
Kia kembali tersenyum miris dengan mata berkaca. Percuma, sekuat apapun ia menjelaskan kepada Aryan, semua akan terasa percuma.
"Mengabdi kan diri pada kedua orang tua, akan mendapat imbalan pahala dari sang Pencipta, namun, jika sang suami melupakan kewajiban terhadap istrinya, semua pengabdian mu pada Mama dan Papa akan percuma, Mas. Kamu hanya akan terus bertindak memenuhi hal orang tua mu, tanpa memikirkan bahwa aku pun memiliki hak atas diri mu." Lirih Kia menyayat hati. "Selesaikan masalah mu. Dan sampai kapan pun aku tidak akan pernah mau di madu. Jika kamu masih tetap melakukan nya, maka kamu harus siap merelakan pernikahan kita berakhir." Tegas Kia kemudian. Wanita yang sudah rapi dengan stelan kantor itu, melangkah keluar dari ruangan kerja suaminya, menuju pintu utama.
"Ini baru permulaan. Jika kamu masih terus mempengaruhi Aryan untuk tidak menikah dengan Rika, maka akan lebih dari ini yang akan kamu dapatkan." Ujar wanita paruh baya yang sedang duduk di ruang tamu.
Kia berhenti sejenak, menatap dalam-dalam wajah mertua nya yang tidak pernah menatap nya ramah. Entah di mana kesalahan nya, hingga wanita ini begitu membencinya secara terang-terangan seperti ini. Setelah puas melihat wajah wanita itu, Kia kembali melanjutkan langkah nya menuju pintu utama, dan segera keluar dari sana. Entahlah, ingin sekli ia mengutarakan banyak hal di hadapan wanita yang ia hormati itu, namun, semua terasa percuma.
Di ruang kerja yang baru saja di tinggalkan Kia, Aryan tersedu sambil memunguti barang kesayangan istrinya yang sudah hancur berserakan di atas lantai. Air mata nya luruh hingga membasahi lantai ruangan itu. Membayangkan ia akan berpisah dengan Kia, sungguh membuat dada nya sesak.
"Dasar bodoh! Apa sih yang kamu tangisi dari gadis yang tidak memilki sopan santun seperti itu. Dia bahkan pergi meninggalkan Mama yang sedang berbicara dengan nya." Ujar Dian sinis dari ambang pintu ruang kerja putra nya.
__ADS_1
"Jangan buat Kia makin lelah, Ma. Aku ngga mau berpisah dengan nya." Ucap Aryan lirih.
"Kamu itu kenapa sih? Apa bagusnya dia? Jauh lebih segala-galanya dari Rika." Ujar wanita paruh baya itu lagi.
"Mama sudah menghancurkan impian Kia. Barang yang Mama hancurkan ini, adalah barang yang paling berharga milik nya. Dan lihatlah dia, demi rasa hormat nya padaku sebagai seorang suami, ia tidak sampai menggila di sini." Ujar Aryan dengan suara yang sedikit meninggi.
"Kalau kalian tidak mempersulit rencana ini, Mama tidak akan menyentuh barang-barang berharga nya." Ujar Dian ketus, lalu meninggalkan putra nya seorang diri di ruangan itu.
****
Di dalam mobil taksi, Kia menatap jalanan dengan hati yang semakin tak menentu. Ia masih belum mengerti apa kesalahan nya, hingga wanita paruh baya itu, begitu membencinya. Selama ini, ia sudah berusaha keras untuk patuh pada apapun aturan yang ada di dalam keluarga itu, namun, semkin hari semakin menjadi. Semakin ia memenuhi semua permintaan dan berusaha menjadi menantu yang di inginkan, akan semakin banyak pula hal-hal yang tidak ia inginkan di buat oleh keluarga suami nya itu.
Karena macet yang selalu saja menghiasi jalanan Jakarta di jam berangkat kerja seperti ini, membuat Kia harus sabar menghabiskan waktu sedikit lama di dalam mobil. Beberapa pesan dari rekan kerjanya, masuk ke dalam ponsel. Kia berusaha untuk tetap profesional dalam pekerjaan, dan membalas pesan itu seperti biasanya.
Setelah mobil yang ia tumpangi sudah berhenti di depan bangunan berlantai, Kia segera keluar dari dalam taksi online yang membawa nya. Membayar ongkos dengan uang lebih seperti biasanya, lalu melangkah menuju pekataran kantor tanpa mengambil kembalian.
"Lagi sibuk dia." Jawab Kia di susul senyum manis di bibir nya.
"Ikut ke ruangan ku. Ada banyak hal yang harus aku jelaskan pada mu mengenai proyek kita, agar nanti kamu tidak melakukan kesalahan." Ujar Kia sambil terus melangkah masuk ke dalam lobi perusahaan.
Rani memasang wajah cemberut, namun, tetap mengikuti Kia menuju ruangan wanita yang sedang melangkah di samping nya itu.
"Hai, Kia." Sapa Dimas.
Kia menghentikan langkah nya sebentar, lalu membalas sapaan dari asisten bos mereka itu.
"Selamat pagi, Pak." Sapa Kia sopan sambil menatao ke arah Alfan yang sedang berdiri di samping Dimas.
__ADS_1
Alfan hanya mengangguk tanpa mengeluarkan sepetah kata pun untuk membalas sapaan dari Kia.
"Aku hampir membeku loh." Ujar Rani.
Kia hanya tertawa geli.
"Yah pimpinan emang harus kayak gitu, Ran. Berwibawa." Ujar Kia. Ia mendorong pintu ruang kerja nya, lalu meminta Rani masuk ke dalam.
Ada banyak hal yang harus ia selesaikan dengan gadis ini, sebelum memulai streaming nya.
"Kia.." Panggil Rani.
Kia yang baru saja mendudukan tubuh nya di atas sofa, dan siap memberi penjelasan tentang apa saja yang harus di lakukan oleh rekan nya ini, terdiam sejenak. Menunggu apa yang akan di katakan oleh gadis dengan rok selutut di sampingnya ini.
"Ibu ku seorang pskiater sekaligus pembaca raut wajah." Ucap Rani sambil menatap lekat ke arah Kia.
"Terus?" Tanya Kia tidak mengerti. Berbagai macam pertanyaan singgah di otak nya. Apa mungkin gadis ini bisa melihat masalah yang ia hadapi saat ini? Tapi itu mustahil.
"Apa kamu dan Pak Alfan pernah berada dalam satu hubungan?" Tanya Rani.
Kia mengerutkan keningnya, lalu menggeleng tegas.
"Tatapan Pak Bos pada mu, seperti tatapan mantan pacar ku yang aku tinggal nikah." Tawa Rani meledak di dalam ruangan, membuat Kia pun ikut tertawa.
"Mana ada Pak Alfan seperti itu. Kami bahkan tidak begitu dekat. Yah emang sih, kami beberapa tahun berada dalam komunitas termasuk Pak Dimas. Tapi aku ga dekat dengan mereka, malu aku ga selevel. Tahu kan siapa mereka?" Ujar Kia.
Rani mengangguk mengerti. Siapa sih yang tidak mengenal keluarga Alfan.
__ADS_1