
Sarapan yang hangat di pagi yang mendung, telah usai. Kini, Kia sedang duduk di ruang keluarga, sambil mengotak-atik benda lipat kesayangannya. Melihat pekerjaan yang sudah lebih dari satu Minggu ini ia abaikan. Meskipun Alfan sudah mengatakan untuk tidak lagi memikirkan pekerjaan, namun, Kia berpikir ini adalah tugas dan tanggung jawabnya.
"Neng, ada telepon dari Nyonya." Suara Bik Ida membuat Kia menghentikan jemarinya yang terus menari di atas keyboard. Ia lalu menatap wanita paruh baya itu, lalu mengulurkan tangannya untuk menerima telepon yang sedang terulur ke arahnya.
"Iya, Tan." Jawab Kia.
"Gimana sama rumah nya, suka?" Suara lembut terdengar di ujung telepon yang sedang menempel di pipi dan telinga Kia. Gadis itu lantas mengangguk mengiyakan, seakan wanita paruh baya yang sedang berada di ujung telepon nya, dapat melihat anggukan kepalanya itu.
"Terimakasih banyak, Tan. Kia ga tahu lagi harus bagaimana membalas semua ini." Jawab Kia.
"Ngga usah di balas sekarang, nanti aja."
Tawa geli di ujung telepon kembali membuat Kia tersenyum.
"Oh iya, Kia. Nanti ada dokter kandungan yang akan berkunjung ke rumah. Mau memeriksa kandungan mu, sekaligus memberikan vitamin yang cukup, biar kamu ngga usah keluar rumah."
Kia terdiam sebentar. Tidak tahu lagi harus berkata apa dengan kebaikan wanita cantik ini padanya. Bahkan jika ia membayar dengan semua uang yang ia miliki saat ini, pasti tidak akan cukup membayar semua kebaikan yang ia terima hari ini.
__ADS_1
"Terimakasih banyak, Tante." Ucapnya lagi.
"Ya udah, Tante tutup yaa.. Kalau ada apa-apa, langsung kasih tahu Bik Ida. Beliau orang kepercayaan Tante, jadi kamu jangan sungkan." Ucap Danira lagi di ujung telepon.
Setelah mengucapkan salam perpisahan, dan panggilan di tutup oleh Danira, Kia kembali menyerahkan ponsel itu kepada wanita yang masih berdiri di sampingnya.
"Terimakasih ya, Bik." Ucapnya.
Wanita paruh baya itu mengangguk, lalu tersenyum. Setelah mengusap lembut kepala Kia yang tertutup hijau, ia lalu berpamitan kembali ke dapur untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Kia pun kembali melanjutkan pekerjaan, sambil menunggu dokter kandungan yang akan datang memeriksa kandungannya. Pekerjaannya memang tidak terlalu banyak, karena pekerjaan yang biasanya ia lakukan sudah di alihkan semuanya kepada rekan kerjanya yang lain. Ia hanya membantu Dimas mengecek kembali pekerjaan para karyawan yang lain.
Kia menekan pesan yang masuk dari Aryan, lalu membacanya dengan seksama. Sudah banyak pesan yang masuk dari laki-laki itu, yang tidak lain mengatakan keberadaan nya, dan Kia pun tidak berniat menjawab pesan itu. Biarlah, dosa nya hari ini karena sudah menjadi istri yang tidak baik, akan menjadi urusan dengan Allah nanti.
Hingga pesan terakhir membuat wanita cantik itu tersenyum miris. Sebegitu hebat keluarga suaminya, bahkan tanpa dirinya yang selalu penggugat, sama sekali tidak mempengaruhi lancarnya keputusan pengadilan atas pernikahan nya dengan Aryan. Kalimat di dalam pesan itu begitu jelas, bahwa pengadilan akan mengabulkan gugatannya.
Kia mengangkat tangannya, lalu mengusap lembut perutnya yang masih rata sambil memohon maaf pada calon bayinya itu atas sikapnya hari ini. Meminta maaf karena sudah begitu egois, memisahkan anaknya bersama sang Ayah. Namun, jika ia tidak bertindak, maka selamanya ia dan anaknya nanti akan terus terjebak dalam kehidupan yang menyedihkan.
__ADS_1
Kia menutup laptopnya tanpa berniat menjawab pesona dari Aryan. Biarlah, biarlah laki-laki itu tahu, jika sesuatu yang baik memanglah membutuhkan pengorbanan. Jika Aryan tidak bisa berkorban untuk dirinya dan anak mereka, maka biarlah ia yang berkorban. Memilih berpisah dengan suami di saat sedang mengandung, bukanlah hal mudah untuk di lakukan oleh seorang wanita seperti dirinya. Akan tetapi, untuk memulai kehidupan yang lebih baik, perlu keberanian untuk mengambil keputusan.
Mengapa? Karena selama kita tidak mencoba mengambil keputusan, maka selama itu pula kita tidak akan tahu, jika keputusan yang kita ambil akan menuai hasil yang baik atau tidak.
Beberapa saat Kia termenung di dalam ruangan itu, Bik Ida yang harusnya berada di belakang, kini sedang melangkah menuju ke arahnya bersama seorang wanita muda yang masih mengenakan jas putih khas dokter. Kia lantas berdiri, dan segera mengulurkan tangannya untuk bersalam dengan dokter cantik itu.
Bik Ida segera pamit undur diri kembali ke belakang. Sedangkan Kia dan dokter cantik bernama Tari itu, mulai berbincang-bincang ringan mengenai keadaan yang di rasakan Kia di awal kehamilan.
Tidak ada yang perlu di khawatirkan, mengenai masa-masa ngidam di trisemester pertama, memang tidak semua wanita yang merasakannya. Dan Kia menjadi salah satu wanita yang tidak di beri kesempatan untuk merasakan nikmatnya mual dan muntah di pagi hari.
Cukup lama Kia dan dokter itu berbincang di ruang keluarga, hingga keduanya melangkah menuju kamar Kia untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Meskipun dengan alat yang kurang memadai, seperti di rumah sakit, Kia tetap merasa bersyukur karena keadaan janin yang ada di rahimnya baik-baik saja.
Dokter itu hanya meminta Kia untuk jangan terlalu banyak memikirkan masalah, dan berusaha untuk bahagia demi calon bayi yang memang sangat membutuhkan ibunya. Tidak lupa pula, vitamin untuk kesehatan ibu dan calon bayi, di berikan oleh dokter itu.
"Obat paling mujarab untuk kesehatan calon bayi, adalah ibunya. Jika Ibunya baik-baik saja, janin yang ada di dalam kandungan juga pasti akan baik-baik saja." Ujar Dokter itu sambil mengulurkan beberapa tablet vitamin dan obat lainnya ke arah Kia.
Kia mengangguk paham. Ia cukup tahu tentang hal itu. Untuk itu, bagaimana pun lukanya hari ini, ia berusaha untuk tetap baik-baik saja. Semua yang ia lakukan hari ini, adalah untuk calon buah hatinya. Hanya bayi ini yang menjadi penyemangat hidupnya saat ini.
__ADS_1
Setelah membereskan alat-alat medis yang ia gunakan untuk memeriksa calon bayi Kia, dokter cantik itu berpamitan untuk pulang. Banyak hal yang ia beritahukan pada Kia, termasuk bagaimana hubungannya dengan keluarga Alfan. Kia adalah salah satu wanita beruntung, karena di beri kesempatan untuk masuk ke dalam keluarga Alfan. Meskipun sejujurnya Kia sama sekali tidak mengerti maksud dari kalimat dokter itu.