Kebaikan Sebuah Pernikahan

Kebaikan Sebuah Pernikahan
Bab 41. Sama-sama Kewajiban


__ADS_3

Setelah kegiatan yang cukup membuat kelelahan itu, Kia masih terbaring di atas ranjang yang sudah tidak lagi beraturan. Begitu pun dengan Alfan. Tubuh polos keduanya hanya tertutupi selimut putih tebal.


Alfan mengangkat tangannya yang sedang menggenggam tangan Kia. Membawa tangan yang berada dalam genggamannya, lalu mengecupnya berulang kali. Hingga saat ini, kenyataan bahwa Kia sudah menjadi miliknya, masih terasa seperti mimpi.


Kia menoleh, menatap Alfan dengan mata berkaca.


"Mas..." Panggilnya.


"Hm..." Alfan menoleh.


"Jika waktu bisa di putar kembali, aku akan tetap memilih menikah dengan Aryan. Sebahagia apapun aku malam ini karena kini berada di atas ranjang bersama kamu, aku tetap akan memilih bersama Aryan terlebih dahulu." Ujar Kia.


"Tentu saja. Jika kamu tidak bersamanya, maka belum tentu Kayra ku ada di antara kita saat ini." Jawab Alfan acuh.


Hati Kia semakin membuncah. Betapa beruntungnya ia karena ditakdirkan dengan laki-laki sebaik ini. Tidak hanya dia yang berharga, namun, Kayra pun sama berharganya di mata Alfan.


"Jangan memeluk ku, aku akan membuatmu kelelahan lagi." Ujar Alfan menggoda karena Kia tiba-tiba memeluk tubuhnya.


"Terimakasih." Ucap Kia tidak peduli dengan ancaman Alfan yang akan kembali membuat dirinya kelelahan.


Alfan mengecup kepala Kia berulang kali. Cinta untuk Kia, sama besarnya dengan cinta yang ia rasakan untuk Kayra.


"Aku memang bukan ayah biologisnya, Kia. Tapi aku adalah lelaki yang pertama kali memeluknya. Aku lah yang membisikan adzan di telinganya. Dan yang paling penting adalah, Kay tahu aku adalah Ayah nya. Dan itulah kenyataannya. Aku adalah ayahnya!" Ujar Alfan.


Kia sudah mulai tersedu dalam pelukan suaminya, sedangkan Alfan tersenyum dengan mata berkaca. Ada banyak hal yang ia dapatkan karena menyimpan cinta untuk Kia begitu lama. Bersabar menanti, kapan hari ini tiba. Kayra bukanlah kesalahan, namun, sebuah anugerah.


"Kenapa aku begitu bodoh membuatmu menunggu lima tahun lamanya." Ucap Kia serak. Rasa sesak dan sesal karena membuat Alfan menunggunya terlalu lama, kini mulai terasa di dalam hatinya.


"Itulah, kalau begitu kan ranjang ini jadi cepat di gunakan." Jawab Alfan meledek sambil tertawa geli. Beberapa saat kemudian, tawa di bibirnya hilang berganti teriakan kesakitan karena cubitan di pinggangnya. "Jangan main-main Kia. Kita belum shalat." Ujar Alfan dengan mata membulat penuh karena kini Kia sudah berada di atas tubuhnya.


"Nanti aja. Aku mau tunjukan seberapa baiknya aku menggunakan ranjang." Ucap Kia sambil mengedipkan mata berulang kali, membuat Alfan tidak tahan untuk tidak tertawa gemas karena sikap Kia. Entah ke mana perginya sikap kalem wanita nya ini.

__ADS_1


"Ga boleh, Sayang. Shalat itu kewajiban. Tak baik menundanya." Jawab Alfan. "Kita sudah menunda beberapa menit." Sambungnya lagi sambil melirik ke arah jam kecil yang ada di atas nakas samping ranjang.


"Ini juga kewajiban kok. Lebih tepatnya kewajiban aku." Jawab Kia menggoda.


Alfan kembali tertawa gemas, namun, ia bangkit dari atas ranjang lalu membungkus tubuh polos Kia dan membawanya menuju kamar mandi.


"Lakukan kewajiban mu sambil kita membersihkan diri." Ujarnya.


Dan benar saja, kewajiban menyenangkan itu kembali terulang di dalam kamar mandi mewah.


"Sekali mendaki, dua tiga gunung terlewati. Sambil menyelam, minum air." Ucap Alfan.


Kia terkekeh mendengar kalimat Alfan.


"Cepat selesaikan, biar kita bisa benar-benar membersihkan diri." Pintanya.


****


"Kamu mau berbulan madu ke mana?" Tanya Alfan.


"Ngga usah, Mas. Aku kasian jika harus tinggalin Kay dan merepotkan Mami." Jawab Kia.


Alfan mengangguk mengerti. Mengulurkan tangannya, lalu mengusap lembut kepala istrinya itu.


"Jika pengantin lain, shalat dulu baru bikin anak. Kita malah kebalik." Ujar Alfan.


Kia ikut tersenyum.


"Yah, kita tampil beda." Jawab nya. "Tidur yuk, aku ngantuk dan lumayan lelah, pengen istirahat." Ajak Kia.


Alfan mengangguk. Ia pun merasa cukup lelah. Jika tidak mengingat belum menunaikan kewajiban pada sang kuasa, sejak tadi pasti sudah terlelap.

__ADS_1


"Tapi kok aku tiba-tiba jadi lapar ya, Mas." Ujar Kia sambil melepaskan mukenah yang masih membungkus tubuhnya.


Melihat wajah menyedihkan Alfan, Kia tertawa lucu.


"Tapi aku ga suka makan kok. Takut gemuk, nanti kamu di ambil sama pelakor." Ucapnya lalu merangkak naik ke atas ranjang yang sudah kembali rapi. Badcover dan selimut bekas pergulatan mereka, sudah berada di tempat aman, dan akan ia bersihkan besok pagi.


"Ayo aku temani makan. Ga baik nahan lapar." Ajak Alfan.


"Besok aja. Aku udah ngantuk banget,


Dan lelah juga. Tadi abis ngerjain kewajiban yang cukup membuat energi ku terkuras." Jawab Kia.


Karena tidak tahan melihat perubahan sikap Kia yang begitu menggemaskan, Alfan ikut naik ke atas ranjang dan menghujani wajah cantik Kia dengan banyak ciuman, hingga membuat istrinya itu berontak karena susah bernafas.


"Ayo tidur." Tarik Alfan di tubuh Kia agar masuk ke dalam pelukannya setelah puas menciumi wajah istrinya itu.


"Aku hampir kehabisan nafas, Mas." Ujar Kia dengan nafas memburu.


Alfan hanya tertawa, sambil terus mengeratkan pelukannya di tubuh Kia.


"Punya istri benar-benar menyenangkan. Seharusnya dulu aku mau menerima gadis mana aja yang di kenalkan Mami." Ucap Alfan membuat wajah cantik yang sedang bersembunyi di dalam dekapannya seketika keluar dan menatap nya tajam.


"Maksud mu? Aku ngga mau ya di madu untuk yang kedua kalinya." Ujar Kia dengan nada serius.


"Buat apa? Kan kamu sudah ada di sini. Aku ngomong gitu karena ga tahu, kalau punya istri seenak ini." Jawab Alfan tertawa. "Ternyata kata Papi benar. Selalu ada kebaikan dalam sebuah pernikahan." Sambungnya lagi sambil kembali membawa wajah Kia agar terbenam di dadanya.


Kebaikan sebuah pernikahan? Kia tersenyum mendengar kalimat singkat itu. Benar saja, bahkan di dalam pernikahan dirinya dengan Aryan yang begitu mengenaskan pun, masih terselip sebuah kebaikan di sana, yaitu Kayra. Kayra adalah kebaikan dari pernikahannya dengan Aryan.


"Aku menyadarinya sekarang." Ucap Kia pelan, namun, masih bisa di dengar dengan jelas oleh Alfan.


Jangan pernah takut pada takdir hidupmu. Takdir semua makhluk yang ada di bumi saat ini, sudah di atur dengan baik oleh sang pemilik kehidupan. Takdir kita sebagai manusia, sudah di tentukan oleh Nya, bahkan ketika kita masih berada di dalam kandungan.

__ADS_1


Untuk itu, tetaplah berprasangka baik tentang apapun yang terjadi dalam hidup. Takdir baik akan memberi kita kebahagiaan, sedangkan takdir buruk akan memberikan kita pengalaman.


__ADS_2