Kebaikan Sebuah Pernikahan

Kebaikan Sebuah Pernikahan
Bab 7. Jangan Menyiksa Diri


__ADS_3

Waktu terasa begitu cepat berlalu. Entah mengapa saat berada di luar rumah, ia merasa setiap detik waktu begitu cepat terlewati. Setelah memasukkan seluruh barang pribadinya ke dalam tas, Kia melangkah keluar dari dalam ruangannya. Sapaan hangat dari para rekan kerja nya, ia balas dengan senyum. Ia memang menjalin hubungan baik dengan sesama rekan kerja, meskipun ada beberapa orang yang sedikit tidak suka dengan keberadaan nya di sana. Terlebih Kia adalah menantu dari pejabat tinggi negeri ini, yang kebanyakan orang kecewa dengan pemerintahan, sehingga Kia pun ikut terseret kedalam kekecewaan itu. Akan tetapi, bagi Kia itu bukanlah hal yang harus di besar-besarkan. Permasalahan hidup rumah tangga nya, lebih banyak membutuhkan energi, untuk itu ia tidak ingin lagi membuang-buang tenaganya untuk hal-hal seperti itu. Toh, seperti apapun ia menjelaskan, sama sekali tidak akan merubah pandangan orang-orang terhadap negeri ini.


Mobil mewah pemberian Aryan setelah pernikahan mereka, masih terparkir rapi di pelataran kantor. Kia memang tidak memiliki sahabat dekat, untuk di ajak nongkrong atau hal lainnya. Meskipun ia menjalin pertemanan baik dengan seluruh karyawan, tak satu orang pun yang bisa masuk ke dalam kehidupannya. Kia memang tertutup mengenai hal-hal pribadi. Meskipun tidak hanya sekali Aryan berontak saat ia meminta izin untuk menghabiskan sedikit waktu bersama rekan-rekan kerjanya di kantor.


"Mau pulang, Kia?" Tanya Dimas.


Kia mengurungkan niatnya yang hendak membuka pintu mobil. Menoleh ke asal suara lalu tersenyum pada asisten bos nya. Kia sudah lama mengenal Dimas, dan beberapa rekan lain di kantor ini. Karena sebelum Alfan mendirikan perusahaan di bawa naungan ayah nya, mereka memang sudah berada dalam satu komunitas pecinta game.


"Iya, Dimas." Jawab Kia singkat. Kia melirik laki-laki yang nampak terlihat dingin tak peduli di samping Dimas, kemudian berpamitan pada atasan nya itu.


Tidak mendapat respon, sudah menjadi hal yang biasa bagi Kia. Ia mengerti posisi antara dirinya dan Alfan tidak lagi seperti saat mereka menjadi team dalam satu komunitas. Kini mereka di batasi dengan atasan dan bawahan di perusahaan, untuk itu ia tidak terlalu berharap Alfan membalas ramah sapaan nya.


Beberapa saat kemudian, mobil milik Kia mulai keluar perlahan meninggalkan pelataran kantor. Alfan terdiam, sambil terus mengikuti mobil mewah itu dengan tatapannya, hingga hilang dan berbaur dengan mobil-mobil lain di tengah kemacetan Jakarta.


"Jangan terlalu dingin, Fan. Nyesal kamu nanti." Ujar Dimas ketus. Lelaki yang tidak kalah tampan dari Alfan itu, lalu melangkah masuk ke dalam mobil bos sekaligus sahabatnya.


"Fan, Fin, Fan. Aku ini bos kamu, ya!" Ujar Alfan kesal. Ia pun ikut masuk dan duduk di bangku kemudi menuju apartemen milik nya yang saat ini di tempati Dimas.


"Kamu benar-benar ngga mau tinggal lagi di apartemen?" Tanya Dimas saat mobil milik sahabatnya mulai melaju dan meninggalkan pelataran kantor.

__ADS_1


"Kamar ku di rumah Mami jauh lebih nyaman." Jawab Alfan ketus.


"Kalau Kia bakal tinggal lagi di apartemen nya, kamu bakal pindah lagi ga?" Tanya Dimas mencoba mencari tahu sedalam apa perasaan sahabatnya.


"Ngga usah bawa-bawa nama istri orang!" Jawab Alfan kesal.


"Jangan menyiksa diri demi seorang gadis yang tidak akan bisa kamu miliki. Lebih baik relakan saja, terus cari wanita lain. Cobalah memulai hubungan dengan wanita yang di kenalkan Tante Danira, siapa tahu dengan berjalannya waktu kamu bisa melupakan istri orang itu, dan mulai membuka hati pada wanita lain." Ujar Dimas memberi saran, namun, segera mendapat tabokan dari Alfan.


"Sok tahu." Kesal nya. "Turun sana. Beli mobil dong, dikirain orang kamu tuh ga aku gaji, sampai beli mobil ngga mampu. Udah tinggal gratis, pulang pergi gratis pula. Padahal gajinya paling banyak." Omel Alfan lagi sebelum Dimas keluar dari dalam mobil nya.


"Aku lagi berinvestasi, Fan. Beli banyak sawa di desa, bikin rumah juga di sana, biar nanti aku pulang bawa istri langsung tinggal di rumah." Jawab Dimas.


"Terserah luh dah." Kesal Alfan. Selalu saja, alasan itu yang akan di utarakan Dimas, saat ia meminta sahabatnya itu untuk membeli mobil.


"Ah dasar." Kesal Alfan kala mengingat bagaimana pengecut nya dia dulu. Jika saja dia lebih berani mengungkapkan perasaannya pada Kia, ketika gadis itu masih menjadi seorang mahasiswi di salah satu universitas, mungkin saat ini, dirinyalah yang berada di sisi Kia, buka Aryan.


Karena tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan di luar, Alfan memilih untuk pulang dan bertemu keluarganya. Menikmati makan malam bersama, serta bercanda dengan wanita kesayangannya di rumah.


****

__ADS_1


Sama hal nya dengan Alfan, mobil yang di kendarai Kia langsung melaju menuju rumah mewah milik mertua nya. Setelah mobil mewah itu terparkir rapi di depan rumah, Kia segera keluar lalu melangkah menuju pintu rumah.


"Assalamu'alaikum." Ucap nya pelan.


Kia berhenti sejenak, menatap orang-orang yang sedang duduk di ruang tamu, kemudian mengangguk hormat dan masuk ke dalam rumah.


Tidak ada yang membalas salam, entah mungkin di dalam hati ia pun tak tahu. Namun, begitu Kia berusaha untuk tidak lagi memperdulikan hal-hal seperti itu. Toh, hampir setiap hari ia mendapati perlakuan seperti ini.


"Sayang.." Panggil Aryan.


Kia yang hendak menaiki anak tangga menuju kamar tidur nya, berhenti sejenak. Menatap hangat ke arah sang suami, di sertai senyum manis yang selalu membuat Aryan ikut tersenyum hangat padanya. Tak lupa pula, ia mencium punggung tangan laki-laki yang mencintai, juga di cintai oleh nya itu dengan penuh takzim.


"Mas ada tamu penting, ya? Ga apa-apa aku mau langsung ke kamar aja. Tubuh ku ga enak, minta di bersihkan." Ucap Kia tertawa.


Aryan mengusap lembur puncak kepala istrinya. Kecupan manis pun tidak lupa ia daratkan di kepala Kia.


"Baiklah." Jawab Aryan.


"Ada apa, Mas?" Tanya Kia heran saat Aryan kembali menahan tangannya.

__ADS_1


"Kita lanjutkan yang tertunda semalam." Ucap Aryan, membuat Kia bersemu.


Kia lalu mengangguk mengiyakan. Apapun yang terjadi di dalam rumah tangga nya, kewajiban tetaplah kewajiban yang harus di tunaikan. Selama Aryan masih mencintai nya, dan ia menjadi satu-satunya wanita di dalam hidup laki-laki ini, maka tidak ada alasan baginya untuk tidak melakukan kewajiban itu.


__ADS_2