
Seorang gadis cantik telentang tak berdaya di atas ranjang mewah di apartemen atasannya. Terlihat wajah sembab gadis itu, juga keringat yang masih membasahi dahi nya. Saat mendengar pintu kamar mandi terbuka, dengan perlahan gadis itu beranjak dari atas ranjang, menarik selimut yang sudah acak-acakan di atas ranjang, lalu membungkus tubuh polosnya dengan selimut putih itu.
"Bersihkan tubuh ku dan pulang lah." Rangga meletakkan sejumlah uang di atas meja yang ada di dalam kamar itu, lalu melangkah masuk menuju ruang ganti. "Dan satu lagi, Kiran. Jangan lupa besok jadwal memasang kontrasepsi." Sambungnya lagi sebelum menghilang di balik pintu ruang ganti.
Gadis cantik itu hanya menatap uang yang ada di atas meja itu, lalu beralih pada punggung kokoh yang baru saja melewati ranjang tempat dirinya berada. Ah, hidupnya benar-benar menyedihkan.
Setelah tubuh tinggi Rangga hilang di balik pintu ruangan lain yang ada di dalam kamar itu, dengan hati-hati Kiran turun dari atas ranjang mewah itu. Tubuhnya terasa remuk, juga inti tubuhnya yang terasa nyeri.
Hal seperti ini sudah sering kali terjadi padanya, saat atasan nya itu kesal dengan sesuatu. Dan malam ini, setelah bertemu dengan adik tirinya, Rangga kembali menyetubuhinya dengan sangat brutal.
Dengan tertatih-tatih Kiran melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Beberapa saat ia menatap pantulan tubuhnya yang begitu mengenaskan di cermin yang tersedia di dalam kamar mandi itu.
Tidak ada satu pun tanda yang di tinggalkan oleh laki-laki itu di bagian tubuhnya. Entah karena Rangga terlalu berhati-hati, ataukah memang dirinya hanya sebatas pemuas kekesalan laki-laki itu.
"Kiran, cepat keluar dari sana. Aku harus pulang." Gedoran pintu kamar mandi membuat Kiran terkejut.
"Baik, Pak. Sebentar lagi selesai." Jawab Kiran dari dalam kamar mandi.
Beberapa saat kemudian, Kita segera keluar dari dalam kamar mandi dengan sepotong handuk menutupi tubuhnya.
"Cepat pakai pakaian mu." Rangga menunjuk stelan baru yang ada di atas ranjang.
Kiran menatap pakaian baru itu sejenak, lalu beralih pada laki-laki yang sedang duduk di sisi lain ranjang yang sudah acak-acakan.
"Bapak duluan saja. Saya akan ke rumah sakit sendirian." Jawab Kiran. "Lagi pula hari ini libur." Sambungnya..
Rangga menatap jam kecil yang melingkar di pergelangan tangannya, lalu kembali menatap sekretaris nya itu dan menggeleng.
"Aku antar kamu ke rumah sakit." Tegasnya.
__ADS_1
Wanita yang hendak membawa pakaian ganti menuju ruangan lain yang ada di sana tidak lagi menjawab. Ia hanya terus mengayunkan langkah dan masuk ke dalam ruang ganti.
Beberapa saat kemudian, ia kembali melangkah keluar dari dalam ruangan itu sebelum pintu ruang ganti kembali di gedor oleh laki-laki yang sedang menunggu dirinya di dalam kamar.
Kiran memunguti satu per satu pakaian miliknya yang sudah berserakan di atas lantai, lalu memasukkannya ke dalam paper bag untuk di bawa nya pulang ke apartemen.
Setelah memastikan barang pribadinya tidak yang tertinggal di dalam kamar apartemen bos nya itu, ia melangkah keluar dari ruangan itu di ikuti oleh Rangga dari belakang. Sejak awal mereka menghabiskan malam panas di apartemen itu, Rangga sudah memperingatkan agar jangan ada barang atau apapun miliknya yang di tinggalkan di apartemen, karena Ibu dari bosnya ini selalu mengunjungi apartemen itu.
Hari masih sangat pagi. Mentari pun belum terlihat keluar dari tempat peraduannya. Kini, mobil Rangga melaju pelan menuju rumah sakit untuk mengantar Kiran..
"Ini masih sangat pagi, Pak. Bagaimana jika saya antar Bapak ke rumah, dan biar saya sendiri yang pergi rumah sakit. Selain tidak merepotkan Bapak, juga akan membuat Bapak tidak terlambat sarapan bersama keluarga." Usul Kiran.
Rangga mengangguk. Waktu pun terus berjalan, dan jika dia mengantar Kiran ke rumah sakit terlebih dahulu, maka pasti dia akan terlambat. Kakek nya pasti akan sangat murka jika hal itu terjadi. Aturan keluarga, sejak dulu di bangun oleh penguasa di perusahaan maupun di rumah itu, tidak ada satu orang pun yang boleh melanggarnya.
****
"Pastikan kamu ke rumah sakit. Pemasangan alat kontrasepsi tidak bisa tertunda, Kiran." Ujar Rangga setelah mobilnya sudah terparkir di depan rumah mewah milik keluarga Ganedra.
Setelah Rangga keluar dari dalam mobil, Kiran kembali melajukan mobil milik atasannya itu menuju rumah sakit. Bukan untuk meminta di berikan obat kontrasepsi, tapi ingin memastikan janin yang ada di dalam kandungannya baik-baik saja. Mengingat semalam Rangga menidurinya dengan sangat brutal.
Kehidupan memang sebodoh itu. Entah mengapa ia begitu percaya diri untuk mengandung anak laki-laki itu, padahal dia tahu jika kehadirannya hanya sebagai pemuas di kala laki-laki itu sedang kesal dengan sesuatu.
Beberapa saat kemudian, Kiran tiba di rumah sakit tempat dimana dia biasa memeriksakan diri. Dalam perjalanan, ia sudah lebih dulu menghubungi dokter kandungan yang biasa memeriksa kandungannya.
"Terimakasih sudah datang masih sepagi ini, Mir." Ucap Kiran.
Dokter yang masih terlihat muda dan cantik itu mengangguk.
"Ini sudah tugas saya, Kiran." Jawab dokter itu.
__ADS_1
Keduanya lalu melangkah masuk ke dalam rumah sakit, menuju ruangan Almira.
Kiran terus melangkah kan kakinya menuju ruangan yang sudah hampir dua tahun ini ia datangi. Jika dulu ia datang untuk meminta obat kontrasepsi, berbeda dengan kedatangannya dua bulan ini yang justru ingin memeriksakan bayinya.
"Menjalani kehamilan bukan hal muda, Kiran. Akan lebih baik jika kehamilan mu ini di bicarakan dengan Rangga. Siapa tahu, setelah mendengar ada kehidupan lain, dia akan berubah pikiran dan bersedia menerima anak nya." Usul Almira.
Kiran hanya tersenyum.
Meskipun ia tahu ini hal yang berat, ia harus memikirkan baik-baik terlebih dahulu sebelum memberitahukan pada Rangga soal kehamilannya. Karena selama ini, Rangga sudah menegaskan jika di antara mereka tidak ada hubungan apapun selain rekan kerja yang sama-sama saling menguntungkan. Kehangatan di atas ranjang, juga di bayar dengan setimpal oleh laki-laki itu.
"Tolong jangan beritahu padanya. Jika dia menanyakan jawab saja seperti yang dia mau." Pinta Kiran.
Almira menatap tidak mengerti ke arah sekretaris adik sepupunya itu...
"Untung saja Kakek kamu mengizinkan kamu tidak ikut sarapan pagi ini." Ujar Kiran.
"Aku sebenarnya dinas malam. Jam delapan nanti baru pulang ke rumah." Jawab Almira tertawa.
"Alasan biar ga sarapan kamu tuh." Celetuk Kiran membuat gadis yang masih mengenakan jas putih nya itu semakin tertawa lebar.
"Nah itu kamu tahu." Jawab Almira
*****
*NoteAuthor
Maaf dua hari ini ga update, kerjaan dunia nyata numpuk di akhir bulan 😅 Laporan akhir bulan bikin kepala nyut nyut 😁
Oh iya ini, kisah nya Rangga sama Kiran akan ada di nupel lain yaa.. Sekalian kisah dokter cantik bernama Almira... Ini hanya sedikit gambaran dari kisah mereka. Tunggu aja pasti aku kabari 😘
__ADS_1
Di sini, aku hanya mau fokus ke kisah Arkana dan Kayra, juga kisah Azka bersama gadis satu malam nya 🥰