Kebaikan Sebuah Pernikahan

Kebaikan Sebuah Pernikahan
Bab 31. Masa Lalu


__ADS_3

Tiga orang yang terlihat seperti sebuah keluarga kecil bahagia itu, melangkah masuk ke dalam bangunan mall. Setelah sekian tahun mengasingkan diri dari kota yang memberinya banyak luka, kini Kia berusaha menguatkan kaki nya untuk melangkah masuk lebih dalam. Anggap saja hari ini, adalah hari pertama untuknya belajar memulai kehidupan yang baru. Agar kelak, ia tidak lagi merasa ketakutan untuk mengahadapi masa lalu nya yang kejam.


Eskalator di dalam bangunan megah itu mulai menanjak naik menuju lantai atas yang menjadi tujuan mereka. Kia berdiri tepat di belakang Alfan yang begitu antusias menjaga putri nya, sama seperti seorang Ayah yang ingin selalu memastikan putrinya aman.


"Kay bisa kok, Pa." Gadis kecil keras kepala menolak pegangan yang di tawarkan oleh sang Papa. Kia berusaha menahan tawa melihat dua orang yang di persatukan oleh keadaan itu saling berdebat. Laki-laki yang di panggil dengan sebutan Papa terlalu posesif pada gadis kecil yang keras kepala.


Beberapa saat kemudian, tiga orang yang tadinya sedang berada di eskalator, sudah tiba di lantai atas tempat banyak toko pakaian berjejer. Kayra yang begitu bersemangat untuk segera memilih pakaian untuknya sendiri, segera berlari. Alfan yang juga tidak mau putrinya itu menjauh darinya, segera melangkah cepat meninggalkan Kia yang masih mengikuti mereka dari belakang.


Cukup lama waktu yang mereka gunakan hanya untuk berjalan ke sana kemari dan sampai saat ini belum jua mendapatkan baju yang di inginkan oleh putrinya. Karena tidak tahan lagi dengan sikap dua orang di depannya, Kia memilih untuk menunggu di salah satu kursi yang tersedia di sana.


"Fan, aku tunggu di sana, ya?" Pamit Kia. Alfan melihat sebentar kursi yang di tunjuk Kia, kemudian mengangguk.


Kia pun segera keluar dari tempat pakaian anak-anak itu, dan melangkah menuju kursi untuk beristirahat. Kakinya sudah terlalu lelah meladeni putrinya yang terlalu aktif. Belum lagi, Alfan yang selalu mengikuti kemauan gadis kecil yang ia lahir kan lima tahun lalu itu.


Entah berapa puluh menit waktu yang Kia habiskan dengan duduk di kursi itu. Melihat ke sekeliling lantai tempat ia berada. Yah, inilah kota Jakarta yang di juluki kota metropolitan. Kota yang tidak pernah absen oleh keramaian orang.


Setelah beberapa saat mengelilingi ruangan itu dengan netra nya, Kia tertegun karena tatapannya langsung tertuju pada sepasang mata yang juga sedang memperhatikan dirinya dari jarak yang cukup jauh.


Tubuhnya bergetar. Ingin segera beranjak, namun lututnya seakan tidak lagi mampu menopang berat tubuhnya.

__ADS_1


Hingga akhirnya, pria yang tidak melepaskan tatapannya itu, mulai melangkah mendekat ke arahnya.


Kepanikan semakin mendera. Kia beranjak dari tempat duduknya. Tepat saat itu, Alfan datang dengan sebuah paper bag juga Kayra yang sedang dalam pelukannya.


Melihat Kia yang terlihat memucat, Alfan segera mengalihkan tatapannya dan mengikuti arah tatapan Kia tertuju. Dan itu dia, laki-laki yang tidak lagi ingin di temui oleh wanita yang ia cintai, semakin mendekat ke arah mereka. Alfan berdiri tenang di depan Kia, melindungi tubuh wanita yang ia cintai itu dari tatapan laki-laki lain. Bukan laki-laki lain, tetapi mantan suami dari wanita yang ia cintai.


"Sayang aku cariin kamu loh." Suara manja mendayu-dayu terdengar di telinga Kia. Ia tahu wanita itu pasti istri dari mantan suaminya. Wanita yang pernah ia lihat sekali sebelum ia berakhir di rumah sakit hampir enam tahun yang lalu.


Melihat Aryan yang teralihkan oleh wanita yang entah siapa, Alfan segera meraih tangan Kia dan bersiap melangkah meninggalkan bangunan itu. Kutuk saja dirinya yang tidak mendengarkan peringatan Kia tenang laki-laki dari masa lalu wanita yang ia cintai ini.


"Kia.." Lirih Aryan.


"Apa ini anak ku?" Tanya Aryan.


Kia terkejut dengan pertanyaan yang begitu tiba-tiba dan sensitif. Ia mengangkat kepalanya, lalu menatap Aryan dengan tajam.


Senyum sinis di bibir Kia terlihat saat mendapati wanita yang sedang memeluk mesra lengan Aryan bukanlah Rika, tetapi wanita lain yang entah siapa.


"Brengsek." Makinya dalam hati. Kia beralih menatap wanita seksi yang sedang berdiri di samping mantan suaminya, kemudian beralih pada Kayra dan menutup telinga putrinya itu.

__ADS_1


"Apa kamu bodoh? Apa kamu pikir hanya kamu yang bisa mendapatkan wanita dengan mudah? Jangan naif Aryan. Kamu saja bisa tertarik dengan ku, bagaimana dengan Mas Alfan yang sudah lebih dulu mengenal ku. Dia, gadis kecil ini hasil dari perselingkuhan kami. Apa kamu pikir aku mau mengandung keturunan untuk keluarga yang tidak akan menginginkan anak ku? Aku tidak sebodoh itu, Aryan. Kamu tahu aku mahasiswa terpintar di kampus, harusnya kamu juga tahu aku tidak akan sebodoh itu mengambil keputusan." Jawab Kia membuat Alfan terperanjat. "Ayo, Sayang." Ajak Kia sambil melepaskan kedua tangannya dari telinga Kayra, dan menggenggam tangan Alfan.


"Aku tidak akan percaya." Ujar Alfan.


"Dan aku tidak peduli!" Tegas Kia sambil terus melangkah meninggalkan sepasang kekasih yang sedang asik berselingkuh itu, tanpa menoleh lagi.


Sudah cukup jauh melangkah, Kia melepaskan genggaman tangannya, namun, Alfan segera menahannya. Kini tangan Kia yang masih terasa begitu dingin, tetap berada di dalam genggaman Alfan.


Alfan masih diam, meskipun Kia terlihat begitu kuat, namun, ia tahu wanita yang sedang melangkah di sampingnya ini sedang ketakutan. Terbukti dengan tangan nya yang sedingin es. Ia terus membawa Kia hingga keluar dari gedung mall menuju parkiran. Bukan hanya karena tidak memiliki kepentingan lagi di tempat ini, ia pun punya toko lain yang ingin ia kunjungi untuk membeli kado untuk keponakannya.


"Maaf sudah membawa-bawa nama mu." Lirih Kia merasa bersalah saat Alfan sudah masuk ke dalam mobil. Sedangkan Kayra sudah duduk dengan nyaman di bangku penumpang.


"Aku senang, kok. Kay senang kan jadi anak Papa?" Tanya Alfan dengan nada suara yang meledek.


"Tentu saja. Nanti belikan baju baru lagi ya, Pa." Jawab Kayra dengan suara cempreng nya.


Kia mendengus kesal. Tidak ada gunanya rasa bersalah yang sejak tadi mengganggunya. Laki-laki yang membuatnya merasa bersalah karena kalimat hinanya tadi, justru sedang tersenyum penuh kemenangan. Belum lagi gadis kecilnya yang memang selalu seserver dengan laki-laki di sampingnya ini.


Alfan mulai melajukan mobilnya menuju tempat perbelanjaan yang lain untuk mengambil kado pesanannya untuk Arkana. Sedangkan Kia, sudah menoleh keluar jendela mobil. Jantungnya masih terus berdetak dengan begitu cepat. Bertemu kembali dengan laki-laki dari masa lalu yang penuh luka, memang membuat adrenalin nya terpacu.

__ADS_1


__ADS_2