Kebaikan Sebuah Pernikahan

Kebaikan Sebuah Pernikahan
Bab 38. Sah !!


__ADS_3

Kalimat penuh ketegasan dengan satu tarikan nafas berhasil di ucapkan oleh Alfan. Mungkin karena ia sudah menyiapkan diri sejak lima tahun yang lalu, hingga kalimat kabul yang berhasil mengikat Kia dalam ikatan suci pernikahan, terasa begitu mudah ia ucapkan. Di sampingnya, Kia mengucapkan rasa syukur yang tidak terhingga karena pernikahan dadakan mereka, berlangsung tanpa hambatan.


Pihak kantor urusan agama pun, terlihat tidak membuat rumit urusan berkas nya. Karena status Kia memang tidak lagi memiliki keluarga, dan sejak kecil hanya tinggal di panti asuhan, membuat urusan mengenai persyaratan nikah tidak terlalu rumit. Bisa jadi juga karena keluarga Alfan adalah keluarga yang cukup terpandang, ataukah memang Allah memang ingin segera memberinya kehidupan baru yang jauh lebih baik dari sebelumnya.


Jika hubungan mereka sudah sah secara agama maupun Negera, maka Alfan akan bebas untuk melindungi dirinya dan juga Kayra dari apapun yang mengganggu nanti. Alfan akan memiliki hak penuh atas dirinya dan juga Kayra.


"Terimakasih, Mas." Ucapnya saat Alfan selesai menyematkan cincin yang entah kapan laki-laki itu siapkan, di jari manisnya.


Alfan tersenyum mendengar sebutan yang di gunakan Kia untuknya. Ah, kata panggilan ini adalah kata yang paling ia idam-idamkan sejak dulu.


"Kalau sekarang, Kayra benar-benar sudah jadi anak Papa." Ucap Danira berkaca. Sudah lama ia ingin memaksa wanita di sampingnya ini agar menerima lamaran dari putra nya, namun, menunggu Allah menentukan takdirnya, jauh lebih baik.


Kia dan Alfan bersiap menandatangani berkas-berkas juga dua buah buku yang kini sudah resmi menjadi milik mereka.


Awal kehidupan baru yang penuh bahagia, di kuali dari sini. Begitulah yang ada di pikiran Kia. Meraih bahagia bahagia bersama Alfan dan juga putrinya. Menciptakan keluarga kecil yang di dalamnya di penuhi banyak cinta adalah impiannya.


****


Di sebuah rumah mewah, Aryan duduk di hadapan kakak iparnya, Anggi. Wanita yang selalu terlihat cantik dan anggun itu duduk dengan tenang di sofa yang ada di ruang kerja, sambil menyimak dengan seksama setiap kata yang terucap dari bibir adik iparnya.


"Kalian pasti tahu tentang Kia dan putri ku?" Tanya Aryan. Entah sudah berapa ratus kali, pertanyaan itu terdengar dari bibirnya selama lima tahun kepergian Kia.


"Iya, kami semua tahu." Jawab Anggi. "Dan Papa tidak menginginkan anak kamu terlahir dari rahimnya." Sambungnya menusuk..


Aryan mengepalkan tangannya.

__ADS_1


"Berarti kalian juga tahu, jika anak yang ada di dalam rumah ini bukanlah darah daging ku?" Tanyanya sinis.


"Aryan !!" Bentak Anggi. "Jangan menghancurkan hidupmu sendiri hanya demi seorang anak yang bisa kapan saja kamu dapatkan!" Sambung Anggi tegas.


"Hidup aku sudah hancur setelah kalian memaksa Kia pergi dari hidupku." Jawab Aryan.


"Kami tidak memaksa nya, tapi kamu yang terlalu serakah. Aku dan Aryo kan sudah mengingatkan tentang hal ini padaku sebelum Papa bertindak. Tapi kamu mengabaikan semuanya. Berlagak seakan kamu bisa tetap bertahan di antara Kia dan keluarga." Jelas Anggi, berharap kalimatnya mampu menyadarkan Aryan.


"Tapi aku mencintainya." Ucap Aryan lirih.


"Aku tahu. Apa yang kamu rasakan saat ini, sama seperti yang Mas Aryo rasakan ketika kami di jodohkan. Aku dan Mas Aryo sudah memberimu masukan, tapi kamu mengabaikannya." Ujar Anggi.


"Tapi Kia tidak sama seperti istri simpanan Mas Aryo itu. Kia tidak akan pernah mau menjalani kehidupan seperti itu." Aryan sudah tertunduk dalam.


Aryan hanya diam. Benar kata Anggi, dirinyalah yang terlalu serakah ingin merangkul semuanya di dalam tangannya. Cinta Kia, dan juga keluarga nya.


"Tolong bantu aku mendapatkan hak asuh putriku." Aryan sudah menatap Anggi dengan penuh permohonan. Namun, wanita cantik itu langsung menggeleng tegas.


"Kenapa? Buka kah Kak Anggi punya akses penuh atas kuasa hukum Papa?" Tanya Aryan beruntun.


"Di samping Papa tidak menginginkan putri mu, aku juga tidak mau merusak reputasi keluarga hanya demi satu anak kecil yang bisa kamu dapatkan kapan saja dengan wanita lain." Jawab Anggi tegas.


"Kak tolong bantu aku. Lakukan itu secara diam-diam." Pinta Aryan lagi.


"Diam-diam? Iya, kita bisa melakukannya diam-diam. Tapi Kia pasti tidak akan tinggal diam, Aryan. Kamu tahu bagaimana populernya istri mu di media sosial. Keberuntungan masih berpihak pada kita, karena setelah keluarga kita melukainya, dia masih diam dan memilih menjauh." Ujar Anggi kesal. "Oh iya, kamu tahukan siapa keluarga yang sedang berdiri di belakangnya. Dan sesuai informasi yang aku dapatkan, putra dari Arion Pratama itu memang sudah lama mencintai istrimu, bahkan sebelum kalian menikah. Ayolah Aryan, kamu memiliki harta yang sama banyaknya dengan anak itu, tapi kamu tidak memiliki cinta seperti yang keluarga itu persembahkan untuk Kia. Bersyukurlah mereka mencintai putri mu. Jangan mengganggu kebahagiaan nya lagi." Sambung Anggi, laku beranjak dari sofa dan segera meninggalkan ruang kerja.

__ADS_1


Saat pintu ruangan di buka, Anggi kembali menoleh ke belakang karena wanita tidak berguna sedang berdiri di hadapannya.


"Istri dan putramu sedang menunggu." Ucap Anggi meledek. Ia lalu melewati Rika begitu saja, tanpa berniat menegur atau apapun pada adik iparnya itu.


Aryan yang masih berada di ruang keluarga, ikut melangkah keluar. Menatap Rika sebentar, lalu melewatinya begitu saja.


"Andra ke Mbak dulu ya.. Mama mau bicara dengan Papa sebentar." Ucap Rika pada putranya.


Mendengar hal itu, Aryan terpaksa menghentikan langkahnya lalu kembali melangkah masuk ke ruang kerja.


"Kita bicara di sini saja." Ujar Rika.


"Ga usah banyak drama, Rika. Aku ga mau masalah ku semakin menumpuk karena ulah mu." Ujar Aryan kesal sambil terus melangkah masuk ke dalam ruang kerja.


"Bukan salah ku berselingkuh. Jika kamu mau menerima pernikahan kita, aku pasti tidak akan melakukan hal hina itu." Ujar Rika kesal.


Alfan menoleh, menatap istrinya itu, tajam.


"Ngga usah berpura-pura menjadi seorang korban, Rika. Korbannya di sini adalah pernikahan ku dengan Kia. Kamu pikir aku tidak tahu jika anak itu sudah ada di dalam kandungan mu sebum menikah dengan ku? Keluarga ku pun tahu, tapi tetap diam karena keberadaan mu di rumah ini masih di butuhkan oleh mereka." Jawabnya kesal.


Rika melipat tangannya di dada, lalu menatap remeh ke arah Aryan.


"Kalau begitu, berbaik hatilah pada anak ku, sebelum aku merusak reputasi keluarga kalian." Ancam Rika.


Aryan mengepalkan tangannya kesal. Di paksa melakukan hal yang tidak ia inginkan, begitu mengesalkan. Dan entah mengapa, semuanya bentuk paksaan seakan terus melekat di hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2