
"Ada apa, Tan?" Tanya Kia sambil menahan lengan Danira, saat wanita paruh baya itu terlihat begitu terburu-buru hendak keluar dari salam mobil.
"Kamu akan di anatar sama sopir Tante, ga apa-apa kan? Menantu Tante mau melahirkan." Jawab Danira terburu-buru.
Kia mengangguk paham.
"Tapi bagaimana dengan Tante? Kia bisa pakai taksi kok, di mana alamat yang jadi tujuan Kia?" Tanya Kia beruntun.
Danira mengusap kepala Kia dengan lembut, lalu menggeleng.
"Pak, pastikan dia sampai di rumah dengan selamat." Perintahnya, dan langsung di angguki oleh laki-laki yang sedang duduk di bangku pengemudi.
Setelah berpamitan, Danira langsung keluar dari mobilnya, lalu menjegal taksi dan segera ke rumah sakit.
Sedangkan Kia, hanya bisa menetap taksi yang sudah berlalu itu, dengan tatapan sendu nya. Tidak banyak hal yang di inginkan oleh wanita seperti dirinya. Cukup di berikan ibu mertua yang akan memperlakukan dirinya seperti anak kandung, sudah lebih dari cukup.
"Kita lanjut jalan ya, Neng." Ucap lelaki itu.
Kia tersenyum, lalu mengangguk.
"Perjalanannya jauh, jika lelah Neng istirahat aja." Ucap lelaki aruh baya itu lagi. "Kata Pak Arion, akan berbahaya jika menggunakan pesawat, dan meminta saya untuk mengantarnya sendiri." Sambungnya lagi.
"Pak Arion? Siapa?" Tanya Kia.
Hampir seminggu ia berada di tengah-tengah keluarga bos nya ini, namun, ia belum mengetahui seluruh keluarga itu. Ia sedikit heran dengan perlakuan mereka yang begitu baik, padahal dirinya bukan siapa-siapa.
"Oh itu, suaminya Ibu Danira, Neng." Jawab lelaki yang terus berkonsentrasi dengan kemudi di tangannya.
"Apa mereka memang sebaik ini pada orang lain?" Tanya Kia.
Lelaki paruh baya itu langsung mengangguk.
__ADS_1
"Semoga Allah akan selalu menjaga keluarga ini." Ucap Kia tulus.
"Aamiin, Neng." Jawab lelaki di depannya.
Kia lalu menyandarkan punggungnya di sabaran kursi mobil, lalu menutup matanya perlahan. Berharap saat ia membuka matanya nanti, akan ada kehidupan baru yang jauh lebih baik dari hari ini.
****
Di perjalanan menuju rumah sakit, Danira mengabarkan pada Alfan jika dirinya tidak sempat mengantarkan Kia ke rumah baru yang sudah di siapkan oleh putranya itu. Tak lupa pula, kalimat-kalimat penuh ketegasan ia lontarkan, agar putranya, tidak akan salah dalam mengambil keputusan. Karena, walaupun tindakan hari ini benar, tetap saja akan salah jika Alfan melewati batas.
Beruntung, Danira sudah tahu siapa anak-anak nya. Dan ia yakin, putra yang ia didik dengan baik itu, tidak akan mengambil langkah yang di murkai oleh sang pemilik kehidupan.
Tidak membutuhkan waktu lama, mobil taksi yang membawanya ke rumah sakit sudah berhenti di pelataran bangunan berlantai yang terlihat begitu megah. Danira pun terburu-buru keluar dari dalam taksi, kemudian melangkah cepat masuk ke dalam bangunan itu, usai membayar ongkos dan mengucapkan Terima kasih pada pengemudi taksi tersebut.
Tanpa melihat ke sekelilingnya, Danira melangkah cepat menyusuri koridor rumah sakit menuju ruangan menantunya. Namun, saat tiba di sana, wanita yang ia khawatirkan saat ini, sudah tidak lagi berada di sana, hanya ada satu orang suster yang sedang merapikan ranjang pasien.
"Pasien yang menempati ruangan ini ke mana, Sus?" Tanya Danira.
"Di ruang bersalin, Bu." Jawab wanita yang mengenakan pakaian serba putih itu, dengan ramah.
"Kenapa kamu ada di luar?" Tanya Danira kesal saat melihat Azam hanya terus mondar mandir di depan pintu ruang bersalin.
"Kenapa Mami lama? Ya Allah, Azam mau gila." Lirih Azam saat melihat ibu nya sudah berdiri di hadapannya.
Tanpa menjawab pertanyaan Azam, Danira langsung menarik tangan putranya masuk ke dalam ruangan itu. Suster yang sedang bertugas di dalam pun, langsung memberikan ruang agar wanita paruh baya yang sedang menyeret putranya, agar lebih dekat dengan ranjang pasien.
Mata Azam berkaca, saat melihat bibir pucat Trias yang berusaha tersenyum ke arah nya.
"Maafkan aku." Lirih nya sambil melangkah lebih dekat dengan Trias.
Trias hanya tersenyum, sambil menahan rintihan karena kontraksi yang mulai intens.
__ADS_1
"Aku harus apa?" Tanya Azam lagi sambil mengusap giliran peluh yang ada di dahi istrinya.
"Diam lah!" Kesal Danira sambil memukul baju putranya. Wanita paruh baya yang masih nampak terlihat cantik itu, meraih tangan menantunya kemudian menggenggam nya dengan erat. Menyalurkan kekuatan sebagai sesama ibu, agar menantunya itu tetap semangat untuk membawa penerus keluarga menuju dunia yang baru.
"Sayang.." Azam tercekat ketika mendengar dokter, jika bayi siap untuk di lahir kan.
Trias berusaha untuk tersenyum, agar laki-laki di samping nya ini bisa sedikit lebih tenang.
Lafadz salah satu surat di kitab suci terus di terdengar di sela-sela rintihan Trias. Hingga suara tangis bayi akhirnya menggema di dalam ruangan itu. Air mata Azam yang sejak tadi menggenang di pelupuk matanya, tidak bisa lagi ia tahan. Lelaki yang masih sesenggukan karena haru bercampur khawatir itu, membungkuk di depan wajah pucat istrinya. Mengecup wajah cantik yang baru saja memberinya hadiah satu kehidupan itu, berulang kali berasa dengan air mata yang terus jatuh membasahi pipi hingga wajah istrinya.
"Terimakasih." Gumamnya pelan.
Senyum kecil kembali terhias di bibir pucat Trias. Terlebih saat bayi mungil yang masih kemerahan itu, kini tengkurap di atas dadanya.
"Selamat datang di dunia Baru, Azam junior." Lirih nya pelan.
Mata Azam semakin basah dengan buliran bening saat melihat ciptaan Allah yang begitu menggemaskan sedang mencari sumber makanannya.
"Dia sudah bisa minum, Mi?" Tanya Azam polos saat melihat bayi mungil yang sesekali menggeliat di atas dada istrinya.
"Iya itu namanya kolostrum, dan sangat penting untuk bayi." Jawab Danira menjelaskan. Wanita yang sejak tadi berusaha kuat di depan putranya, kini ikut berkaca. Ia melangkah mendekati menantunya, lalu mengucapkan terimakasih atas hadiah yang di berikan pada keluarga nya hari ini.
Trias kembali tersenyum. Beberapa saat kemudian, bayi yang sedang tengkurap di atas dadanya, sudah di bawa oleh suster untuk di siapkan.
"Sana ikutin mereka. Nanti di adzanin." Pinta Trias pada suaminya.
"Aku sama kamu aja." Jawab Azam enggan melepaskan tangannya dari tubuh istrinya.
"Ish, sana!" Pukul Danira lagi. "Sudah jadi Ayah kok masih manja aja." Sambungnya.
"Tapi Trias..
__ADS_1
"Biar Mami yang jagain. Seorang Ayah harus jadi yang pertama kalinya memeluk putranya. Ayo sana!" Usir Danira karena Azam masih terus berdiri di samping ranjang menantunya.
Trias hanya tersenyum. Keadaan seperti inilah, yang akan selalu ia kenang di dalam keluarga suaminya ini.