
Benar kata Alfan, laki-laki yang sempat menjadi topik perbincangan mereka beberapa saat yang lalu, kini keluar dari dalam mobil mewah dengan tergesa-gesa. Kia tercekat, beruntung saat ini tubuh nya sudah berada di dalam mobil milik atasan nya.
"Dunia ini sepertinya begitu sempit. Aku hanya memikirkan tempat ini, setelah Dimas mengatakan jika kamu tidak berada di apartemen. Dan itu benar. Sepertinya, hari ini Allah memberikan jalan yang mudah pada ku." Ucap Alfan. Ia pun terus mengikuti langkah kaki Aryan yang begitu terburu-buru masuk ke dalam gedung Bandara.
"Dia benar-benar datang." Ucap Kia lirih. Ia benar-benar tidak menyadari, orang seperti Alfan dan Aryan akan begitu cepat menemukan di mana dirinya berada.
"Tidak hanya itu, Kia. Setelah ini, mereka pasti akan dengan mudah menemukan kota atau negara tujuan mu tadi." Jawab Alfan.
Kia terdiam. Yah, ia baru menyadari, jika dirinya memang bukanlah sebanding dengan keluarga suami nya itu. Ke mana pun ia pergi, jika semua masalah masih belum jelas di mana ujungnya, lelaki itu pasti akan terus mencari nya.
"Masih mau tetap mengikuti rencana mu? Atau ikut rencana ku?" Tanya Alfan.
"Anak ku akan baik-baik saja, kan?" Tanya Kia memastikan.
Alfan terdiam sebentar, kemudian mengangguk mengiyakan.
Jika jalan ini yang memang Allah sediakan untuk bisa memastikan Kia baik-baik saja, maka resiko yang akan ia dapat, biar menjadi urusan nanti. Hidup di dalam keluarga yang selalu takut akan murka Allah, Alfan selalu berhati-hati dalam mengambil tindakan. Namun, untuk hari ini, ia melewati batas itu. Ia melanggar semua peringatan yang selalu di ucapkan oleh sang Mami padanya.
"Istirahat lah." Ujar Alfan kemudian mulai melajukan mobilnya meninggalkan area parkir bandara.
Kia mengangguk sopan. Wanita itu lalu menyandarkan tubuhnya lalu menutup mata nya yang memang sejak pagi ini terasa begitu berat.
Setelah mobil mulai berbaur dengan kenderaan lain yang juga sedang melaju di jalanan, tidak ada lagi pembicaraan di antara keduanya. Kia menutup matanya sambil bersandar di kursi mobil. Angin yang berhembus dari jendela mobil, membelai wajah pucat nya.
Tidak hanya mata nya yang terasa berat. Namun, semua yang ada di dalam hidup nya benar-benar begitu berat untuk di lalui. Takdir yang Allah berikan hari ini, benar-benar membuat semuanya terasa berat.
"Pak..." Panggil Kia.
Akan berdehem sambil terus berkonsentrasi dengan kemudi.
"Menurut Bapak, mana yang lebih penting, istri ataukah keluarga?" Tanya Kia berusaha memecah keheningan di dalam mobil yang sedang melaju entah kemana.
"Keduanya penting." Jawab Alfan singkat.
"Jika di suruh memilih apa yang akan Bapak pilih?"
Alfan menoleh sejenak, lalu kembali berpaling dan menatap jalanan di mana mobil nya melaju.
__ADS_1
"Tidak ada. Aku tidak mau memilih." Jawab Alfan.
Kia mendengus kesal.
"Apa orang-orang kaya itu semuanya sama?" Tanyanya kesal.
Alfan terdiam.
"Karena keluarga ku tidan akan pernah melakukan itu." Jawab Alfan.
"Bahkan pada gadis biasa seperti ku?" Tanya Kia lagi.
Alfan memasukkan mobil nya ke dalam halaman rumah entah milik siapa. Tidak terlalu besar, namun, memiliki model bangunan yang nampak terlihat indah jika di lihat dari luar.
"Di mata keluarga ku, semua manusia yang ada di bumi ini sama derajatnya." Jawab Alfan. Lelaki itu memarkirkan mobil nya di pelataran rumah, lalu melepaskan sabuk pengaman yang melingkar di tubuh nya.
"Ini rumah keluarga Bapak, ya? Apa mereka tidak akan bertanya-tanya tentang saya, Pak?" Tanya Kia ragu.
"Ayo keluar. Di sini akan lebih aman untuk kesehatan mu dan juga bayi mu." Ajak Alfan tanpa berniat menjawab pertanyaan Kia. Maminya pasti akan marah dengan keputusan yang ia ambil hari ini, namun, ia pun tidak mau mengambil resiko jika sesuatu yang buruk terjadi pada wanita di sampingnya ini.
Dengan perlahan, Kia pun melepaskan sabuk pengaman yang melingkar di tubuh nya, kemudian ikut keluar dari dalam mobil mewah itu.
"Ayo masuk." Ajak Alfan saat pintu yang sedang mereka tuju sudah terbuka lebar. "Mami.." Matanya melotot. Ia terkejut mendapati wanita yang ingin ia hindari sudah berada di dalam rumah itu.
Danira melangkag cepat menuju putranya, lalu memukul putranya itu tanpa ampun.
"Kamu mau jadi perebut istri orang!" Danira terus memukul tubuh tinggi putra nya.
Alfan segera memeluk tubuh Mami nya itu, lalu membawanya menuju sofa.
"Itu menuduh namanya, Mi." Ucap nya kesal "Kia, tutup pintu nya." Perintah nya kemudian.
"Bang Azam nelpon Mami. Katanya kamu minta izin untuk meminjam rumah nya." Omel Danira.
"Iya, Mi. Tapi ini bukan seperti yang ada di otak Mami itu." Jelas Alfan, namun, Danira masih menatap putra nya tidak percaya.
Yah, cinta bisa membuat hati orang buta, dan membuat kebanyakan orang tidak bisa membedakan mana ya benar dan salah.
__ADS_1
Danira lalu beralih menatap wanita berhijab yang masih berdiri di dekat pintu rumah.
"Kamu ngga di culik kan?" Tanya Danira.
Kia terkejut dengan pertanyaan itu, sedangkan Alfan hanya bisa menatap wanita oaruh gaya yang ada di samping nya itu, frustasi.
"Apa sih, Mi. Kalau aku culik, paling sekarang tangan Kia terikat, dan mulut nya di lakban." Jawab Alfan kesal, membuat Kia hampir saja tidak bisa menahan tawa nya.
"Lalu apa? Kenapa kamu begitu berani membawa wanita yang masih hak milik orang lain ke rumah ini? Kalau suami nya tahu, dan menuntut mu, bagaimana?" Tanya Danira beruntun.
"Kata Mami, Mami akan membantu nya. Alfan hanya membuka jalan, setelah ini Mami bisa membantu nya." Jawab Alfan. Lelaki itu lalu bersandar di sofa tempat ia duduk. "Kamu hanya akan terus berdiri di sana?" Tanyanya karena Kia masih belum beranjak dari tempatnya berdiri.
Kia melangkah menuju sofa di mana atasan dan wanita paruh baya itu berada. Ia lalu meminta izin duduk di sana.
"Kenapa bisa?" Tanya Danira.
Kia tidak mengerti dengan pertanyaan dari wanita paruh baya yang ada di hadapannya ini. Menoleh sejenak pada laki-laki yang masih menyandarkan kepalanya di sandaran sofa seolah meminta bantuan untuk menjawab pertanyaan yang tidak ia mengerti itu.
"Bukannya kamu masih sakit? Seharusnya kamu tetap berada di rumah sakit, Nak." Ujar Danira lagi.
Kia menarik nafasnya dalam-dalam. Sejujurnya ia tidak ingin menceritakan kisah rumit rumah tangga nya, namun, seperti nya hanya dengan cara ini agar hidupnya bisa kembali seperti dulu. Tanpa di minta, Kia menjelaskan apa yang ia alami hingga berakhir di rumah sakit malam itu.
Mendengar penjelasan yang cukup membuat hati nya perih sebagai sesama perempuan, Danira akhirnya memutuskan untuk membantu. Tapi dengan syarat, Alfan tidak akan ikut andil dalam hal itu.
Meskipun Alfan sempat protes dengan keputusan sang Mami, ia akhirnya tetap menyetujui demi Kia.
"Tapi Alfan bisa datang melihat nya kan, Mi?" Tanya Alfan saat Kia sudah di antar oleh wanita paruh baya yang menjaga rumah itu.
"Ngga boleh!" Jawab Danira tegas. "Pulang sana, dan jangan datang lagi ke tempat ini." Usir nya.
"Mami.....
"Hanya ingin memastikan Kia baik-baik saja, kan? Kalau begitu semuanya biar menjadi urusan Mami." Ujar Danira lagi.
"Mau pamit sama Kia, boleh ya?" Tanya Alfan lagi.
"Pergi atau Mami laporin Papi." Ancam Danira.
__ADS_1
Alfan akhirnya beranjak dari sofa lalu melangkah keluar dari rumah itu setelah mencium punggung tangan sang Mami.
"Jaga milik Alfan dengan baik ya, Mi." Ucap nya sambil tertawa, lalu segera keluar dari ruangan itu sebelum mendapat amukan dari wanita yang ia cintai itu.