Kebaikan Sebuah Pernikahan

Kebaikan Sebuah Pernikahan
Bab 22. Kebingungan


__ADS_3

Mobil yang sejak beberapa jam lalu terus melaju di jalanan, kini sudah berhenti di depan sebuah bangunan yang terlihat begitu mewah. Halaman rumah yang nampak begitu asri, juga ada beberapa pepohonan yang begitu terawat, membuat halaman itu semakin indah di pandang mata.


Ada sebuah taman kecil yang begitu indah, juga beberapa bunga hias nampak menggantung indah di pagar tembok yang mengelilingi halaman rumah


Sudah beberapa menit berlalu Adzkia masih berdiri di depan rumah megah itu, sambil terus mengelilingi pelataran tempat ia berdiri, dengan pandangannya.


Rasa penasaran terus mengusik pikirannya. Apakah ia akan tinggal di sini ?


"Neng, ayo masuk." Ajak lelaki paruh baya yang sudah membawa sebuah koper kecil, dengan sopan.


Kia mengalihkan pandangannya, lalu menatap wajah yang sudah mulai keriput itu


"Ini rumah siapa, Pak?" Tanya Kia.


Lelaki itu terdiam sambil menatap wanita muda yang nampak kebingungan di hadapannya.


"Ayo, Neng." Ajaknya lagi tanpa berniat menjawab pertanyaan Kia.


Kia pun tidak lagi bertanya. Ia mengerti, mungkin saja laki-laki paruh baya di hadapannya ini, tidak ingin menjawab karena memang tidak tahu apa-apa. Dengan langkah pelan, Ia mengikuti lelaki yang sudah membawanya selamat ke tempat tujuan itu, dari belakang.


****


Di dalam ruangan, Alfan terus mondar mandir bagaikan setrikaan. Hingga bunyi bel yang berasal dari depan pintu utama, membuat kakinya berhenti melangkah.


Tatapannya langsung tertuju pada Dimas. Laki-laki yang terus saja membuat nya kesal dengan ocehannya itu, masih saja terlihat santai sambil mengusap-usap layar ponselnya.


"Kia di sini. Aku harus bagaimana?" Tanya Alfan khawatir.


Dimas mengangkat wajahnya, lalu menatap Alfan dengan kening mengkerut.


"Yah bukain pintunya. Apa lagi?" Jawab Dimas acuh, lalu kembali fokus dengan layar ponselnya.


"Bukain pintunya, bilang aja aku ga ada." Perintah Dimas. "Mami sih, pakai nggak datang." Sambungnya mengomel.

__ADS_1


Dimas beranjak dari tempat duduknya, lalu melangkah menuju pintu utama. Alfan terus menatap punggung sahabatnya yang semakin menjauh. Jantungnya terus berdetak kencang tidak karuan.


"Dim, biar aku aja." Cegah Alfan.


Dimas menghentikan langkahnya, lalu menatap kesal laki-laki labil yang kini melangkah cepat menuju ke arahnya.


Pintu utama sudah terbuka lebar. Wajah yang tadinya penuh kekhawatiran, berganti wajah dingin nyaris membekukan orang yang melihatnya. Laki-laki yang sejak tadi menatap Alfan kesal, kini hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.


Di depan rumah, Kia hanya bisa terdiam di belakang laki-laki paruh baya yang sedang menarik koper kecilnya.


"Mari silahkan masuk, Neng." Ajak lelaki paruh baya itu. Sedangkan Alfan, bergeser sedikit dari tempat nya berdiri, guna memberi jalan untuk dua orang yang sedang berdiri di depan rumah nya.


Sama seperti tadi, Kia mengikuti langkah kaki lelaki paruh baya yang ada di depannya tanpa suara. Alfan pun sama. Ia melangkah menuju sofa yang ada di ruang tamu rumahnya dengan acuh. Kekhawatiran yang sejak tadi menyelimutinya, menghilang entah ke mana.


"Pak..." Panggil Kia.


Alfan menoleh, tatapannya masih saja dingin hingga membuat Dimas menggeleng tidak percaya. Padahal baru beberapa menit yang lalu, lelaki yang sudah lama menjadi sahabatnya ini, mondar mandir bagaikan setrikaan karena khawatir bertemu Kia.


"Ada apa?" Jawab Alfan. Lelaki itu menghempaskan tubuhnya di atas sofa.


"Mami yang meminta ku menyiapkan rumah ini." Jawab Alfan.


Dimas tersedak dengan air liurnya sendiri, karena mendengar jawaban Alfan. Mami? Bukannya laki-laki labil ini yang begitu bersemangat menyiapkan rumah untuk istri orang lain?


"Terimakasih, Pak." Ucap Kia.


Alfan tidak menjawab. Ia lalu beranjak dari atas sofa, dan bersiap keluar dari rumah itu.


"Nanti ada sepasang suami istri yang datang menemaninya. Nanti setelah mereka tiba, Mamang baru boleh kembali ke Jakarta." Perintah Alfan, dan langsung di iyakan oleh lelaki paruh baya yang sedang berdiri di samping sofa tempat Kia duduk.


Alfan lalu beranjak dari atas sofa, lalu melangkah meninggalkan ruangan, tanpa menoleh pada wanita yang masih menatap lekat ke arah nya.


"Terimakasih, Pak Dimas." Ucap Kia lagi saat melihat Dimas ikut melangkah mengikuti bos mereka yang semakin menjauh menuju pintu utama.

__ADS_1


"Santai aja, Kia. Kita pernah jadi teman di masa lalu, jadi ga usah sungkan padaku." Jawab Dimas.


"Kamu mau aku tinggal di sini!" Teriak Alfan dari depan pintu yang sudah terbuka.


"Aku pergi ya, Kia. Kamu hati-hati di sini. Kalau ada apa-apa, langsung hubungi aku. Aku siap jagain kamu dan calon bayi." Ucap Dimas lagi tanpa memperdulikan teriakan sahabat sekaligus atasannya dari depan rumah.


Kia pun mengikuti Dimas hingga ke depan pintu. Gadis itu tersenyum saat Dimas melambaikan tangan dan masuk ke dalam mobil di mana bos mereka berada.


"Hati-hati, Pak." Ucap Kia sopan.


Alfan menoleh sebentar, lalu kembali fokus pada benda pipih di tangannya.


Setelah mobil yang membawa Alfan dan Dimas berlalu dari pelataran rumah, Kia kembali melangkah masuk ke dalam rumah mewah itu, dan menutup pintu.


"Saya antar ke kamar, Neng." Ajak lelaki yang entah sejak kapan sudah berdiri di dekat pintu utama.


"Baik, Pak." Jawab Kia. Ia lalu melangkah mengikuti lelaki paruh baya itu dari belakang.


"Kata Nyonya, Neng akan menempati kamar utama. Lalu di samping kamar utama, sudah di siapkan untuk calon bayi Neng nanti." Jelas lelaki itu lagi.


"Maksudnya?" Tanya Kia kebingungan.


"Nanti Neng boleh langsung menghubungi Nyonya untuk meminta penjelasan." Jawab lelaki itu.


Kia tidak lagi menjawab. Biarlah, ia akan menanyakan semuanya jika wanita baik bak malaikat itu menghubunginya.


"Saya akan menunggu orang yang akan membantu Neng di depan." Pamit lelaki itu setelah mengantar Kia ke depan pintu kamar. "Neng istirahat dulu." Pintanya lagi.


Kia tersenyum, lalu mengucapkan terimakasih pada laki-laki yang sudah melangkah menuju depan untuk menunggu asisten rumah yang sudah di siapkan Alfan. Setelah laki-laki yang sejak tadi menemaninya di perjalanan sudah menghilang di balik pintu pembatas ruangan, Kia menekan handel pintu dengan perlahan lalu masuk ke dalam kamar. Sejenak ia terpaku di ambang pintu kamar, menatap ranjang besar yang ada di dalam ruangan mewah itu.


Orang seperti apa yang sedang membantunya hari ini, hingga menyiapkan semuanya sampai seperti ini. Tempat tinggal yang nyaman, dengan perabotan yang mungkin memiliki harga sepuluh kali lipat dari gajinya sebulan, padahal ia bukan siapa-siapa dalam keluarga ini.


"Terimakasih, Bu." Ketik Kia di layar ponsel yang juga di siapkan oleh wanita paruh baya itu.

__ADS_1


Ia lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.


__ADS_2