Kebaikan Sebuah Pernikahan

Kebaikan Sebuah Pernikahan
Bab 52. S2 ( Ananta )


__ADS_3

Salah satu bandara di Amerika, terlihat begitu ramai oleh lalu lalang penumpang. Azka menatap beberapa dolar di tangannya. Entah di mana ia harus menemui gadis itu untuk membayar uang yang ia pinjam. Kutuk saja dirinya yang tidak meminta nomor ponsel gadis itu. Tidak, bukan itu. Jika hanya ingin menemuinya, bukan lah hal yang sulit, dia saja yang terlalu pengecut untuk melakukannya dan bertemu gadis itu.


Hotel tempat mereka bertemu, adalah tempat gadis itu bekerja. Seharusnya ia datang dan tidak mempedulikan kalimat yang di ucapkan gadis itu sebelum mereka berpisah pagi itu.


Beberapa menit kemudian, Azka beranjak dari tempat duduknya dan masuk ke dalam Bandara untuk melakukan cek in dan memasukkan uang beberapa dolar itu kembali ke saku celana panjang yang ia kenakan. Karena sebentar lagi pesawat yang akan membawanya ke Indonesia akan berangkat.


Akan lebih berbahaya jika ia tidak kembali hari ini juga ke Indonesia. Wanita yang sudah berulang kali menghubunginya selama beberapa hari ini, pasti akan mengamuk padanya jika ia sampai menunda lagi kepulangannya hari ini.


Meskipun besar keinginannya untuk bertemu gadis itu dan meminta maaf atas apa yang terjadi beberapa hari yang lalu, namun, keadaan harus tetap memaksanya pulang. Pernikahan Kayra, adik sepupunya sebentar lagi akan di gelar oleh keluarga besar, dan ia tidak boleh melewatkan itu jika tidak ingin mendapat amukan dari ibu nya.


Setelah melakukan seluruh prosedur penerbangan di Bandara, Azka kembali melangkah menuju ruang tunggu keberangkatan. Melihat sekeliling ruangan itu, mencari sosok yang entah mengapa setelah malam itu terus mengisi otak nya. Padahal ia tahu, gadis itu pasti tidak akan pernah ada di sana, karena mungkin saat ini sedang sibuk dengan setumpuk pekerjaan.


Gadis yang tidak seberuntung dirinya itu, pasti sedang sibuk mencari uang untuk membiayai kehidupan. SSSungguh beruntung dirinya karena terlahir dari orang tua yang salling mencintai dan memiliki segalanya. Karena ia tidak perlu bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup seorangh diri.


Setelah mendengar pemberitahuan agar penumpang segera memasuki pesawat, Azka akhirnya bangkit dari tempat duduknya. Sepertinya ia tidak di takdirkan bertemu untuk yang kedua kalinya dengan gadis itu walau hanya sekedar untuk meminta maaf dan mengembalikan selembar uang yang ia gunakan untuk pulang dari hotel pagi itu.


Beberapa saat kemudian, pesawat yang di tumpangi Azka mulai bergerak naik.


"Aku pasti akan datang dan menemui." Ucap Azka. Ia melihat pemandangan dari ketinggian. Pesawat yang ia tumpangi sudah mengudara, dan bersiap meninggalkan negeri itu.

__ADS_1


Tidak, tidak ingin berjanji. Kalimat itu sedang meminta pada sang kuasa, semoga kelak entah kapan, ia bisa kembali bertemu gadis itu. Semoga nanti, entah di mana ia masih akan di beri kesempatan untuk bertemu gadis satu malam nya itu..


Selamat tinggal, Annanta. Sampai jumpa lagi di lain waktu.


***


Di tempat lain yang ada di Amerika, Anna menyusuri jalanan dari kampus tempatnya menimba ilmu, menuju flat yang ia sewa selama di sin dengan berjalan kaki. Selain lebihb sehat, itu juga bisa mengurangi biaya sehari-hari. Di saat anak-anak lain seisianya sesang menikmati waktu bermain mereka dengan mengunjungi tempat-tempat hiburan, dia justru harus segera pulang tepat waktu untuk bersiap ke tempat kerja.


Tanpa ingin membandingkan kehidupannya dengan anak-anak beruntung di sana, Anna tetap bersemangat mengayuhkan langkah, menyusuri trotoar. Menghirup oksigen yang berasal dari pohon-pohon yang berjejer di sana. Sesekali ia melirik jam kecil yang melingkar di pergelangan tangannya, guna memastikan jika dirinya belum terlambat ke tempat kerja.


Tidak jauh berbeda dengan Azka. Anna juga terus teringat kejadian pagi itu saat ia mendapati dirinya terjaga tanpa sehelai benang yang melekat di tubuhnya. Entah siapa yang melakukan hal itu, dan untuk apa. Karena, benar-benar tidak ada yang terjadi di antara mereka. Ia bahkan sudah memeriksakan diri ke dokter, dan hasil nya ia baik-baik saja. Tidak ada yang hilang dari tubuhnya, semuanya masih utuh.


Meskipun Azka berbeda dari anak-anak konglomerat lainnya yang gemar bersenang-senang di sini, namun, laki-laki itu tetap menjadi mahasiswa paling di idolakan di sini. Untuk itu, kabar kepulangan Azka ke Indonesia, langsung menyebar ke mana-mana.


Tiba di flat yang menjadi tempat tinggalnya, Anna mendapati seorang laki-laki yang sudah menunggunya di sana.


"Aku butuh uang." Ucap laki-laki itu.


Anna hanya menatap sekilas, lalu membuka pintu kamarnya. Ia tidak lagi terkejut dengan laki-laki yang sudah menunggunya di depan pintu kamarnya ini.

__ADS_1


Laki-laki yang entah sejak kapan berada di sana, ikut masuk ke dalam ruangan kecil itu.


"Sialan, Adam." Maki Anna kesal, namun tidak bisa berbuat apa-apa saat kakak kandungnya itu merampas tas yang menggantung di punggungnya dan mulai mengobrak-abrik isi dari tas itu. Sungguh, ia begitu menyayangi laki-laki yang sedang mengacak-acak isi dari dalam tas nya itu, tapi jika seperti ini, tidak menutup kemungkinan kebencian akan ikut tumbuh di dalam hatinya.


"Terimaksih." Ujar laki-laki bernama Adam itu, lalu melangkah keluar dari tempat tinggal adiknya tanpa merasa bersalah.


Anna menatap nanar laki-laki yang baru saja pergi meninggalkan dirinya bersama uang yang sudah susah payah ia cari.


Karena tidak bisa melakukan apa-apa, Anna akhirnya merelakan uang yang sudah susah payah ia cari itu, di bawa pergi oleh laki-laki itu.


Tidak lagi ingin membuang waktu, Anna segera bersiap untuk pergi ke tempat kerja nya. Sama seperti biasanya, flat yang ia sewa ini hanya menjadi tempat untuk menyimppan barang-barang priibadinya. Jarang sekali ia memiliki waktu untuk menikmati harinya di tempat ini.


Dulu, ketika ia memutuskan untuk menyusul sang kakak di tempat ini, ia berharap akan mendapatkan masa depan yang jauh lebih baik. Begitu besar harapannya, laki-laki ini akan menjalani hidup yang berbeda dengan orang tua mereka di kampung halaman, tapi kenyataannya sema saja. Sejak ia datang, Adam tidak lagi bekerja dan hanya terus bergantung padanya.


"Ayo, Anna. Kamu harus semangat." Ujar nya menguatkan dirinya sendiri.


karena hotel tempat ia bekerja lumayan jauh dari tempat tinggalnya, Ana terpaksa harus mengeluarkan biaya transportasi. Dengan langkah cepat, ia berjalan menuju halte terdekat.


Bersabar sedikit lagi untuk sebuah masa depan yang lebih baik, bukanlah hal sulit. Jika waktu empat tahun bisa ia lewati begitu saja, kenapa harus menyerah dengan waktu yang hanya tersisa kurang dari dua bulan lagi?

__ADS_1


__ADS_2