
Bayi mungil yang sedang terlelap di atas tempat tidurnya, kini sudah berpindah dalam dekapan Alfan. Laki-laki yang belum menikah namun sudah di anggap Ayah oleh orang-orang terdekatnya itu, menatap lekat wajah mungil di hadapannya, seperti seorang Ayah menatap anaknya.
Bayi berjenis kelamin perempuan itu terlihat begitu nyaman dalam dekapannya. Mungkin ia tahu, jika laki-laki yang sedang mendekap tubuhnya ini, akan selalu memastikan ia aman.
Benar-benar sebesar ini kuasa sang pencipta. IA bahkan mampu menciptakan setetes air mani, menjadi segumpal darah dan kini menjadi bayi mungil yang begitu menggemaskan.
Krena tidak tahan melihat pipi mungil yang memerah, Alfan segera mendaratkan hidung mancungnya di pipi menggemaskan itu, lalu mulai melantunkan adzan dengan begitu pelan di telinga bayi Kia.
"Selamat datang di dunia baru, Nak." Bisik nya usai melantunkan adzan di telinga bayi itu.
"Senang sudah jadi Ayah." Ucap seseorang yang sudah Alfan tahu siapa. "Udah jago aja gendong bayi." Kekeh Dimas ikut menoel pipi bayi mungil yang terus terlelap dalam pelukan Alfan. Beruntung Ayah dadakan itu segera menjauhkan bayinya dari jangkauan jari penuh kuman milik sahabatnya.
"Aku mau menyentuhnya sedikit, Fan. Bagi dong." Rengek Dimas masih berusaha menoel pipi menggemaskan itu.
"Kamu belum cuci tangan." Jawab Alfan tidak rela jika Dimas menyentuh bayi nya.
"Dih, pelit banget!" Gumam Dimas.
Alfan melangkah mendekati ranjang bayi, lalu meletakkan bayi mungil itu kembali ke tempat tidurnya dengan hati-hati.
"Nyenyak banget sih." Ucapnya lalu kembali menyentuh pipi mungil itu dengan hidung mancungnya.
"Bayi emang kerjaannya tidur." Ujar Dimas masih kesal karena tidak di izinkan menyentuh bayi padahal ia sudah mencuci tangan.
"Permisi, Pak. Ibu Kia sudah di pindahkan ke ruang perawatan. Bapak di minta dokter ke sana." Seorang perawat yang sejak tadi terus menyaksikan kekonyolan dua bersahabat, akhirnya bersuara.
__ADS_1
Alfan menoleh, lalu beralih menatap sahabatnya dengan bingung. Bagaiman pun, ia dan Kia sama sekali tidak memiliki ikatan yang sah di mata agama, dan ia tidak mau bertindak lebih jauh hingga akhirnya akan mengecewakan Kia nanti.
"Ayo sana. Tidak apa-apa, mungkin dokter hanya ingin menjelaskan tentang kesehatan Kia. Untuk masalah lain kan, ada Bik Ida." Ujar Dimas mematahkan keraguan Alfan. Ia ingin, laki-laki yang sudah menjadi sahabatnya selama bertahun-tahun ini, akan memulai langkah yang baru untuk untuk memperjuangkan cintanya.
"Baiklah. Tolong jaga putri ku." Ucap Alfan, lalu melangkah keluar dari ruangan itu menuju ruangan lain di mana Kia berada.
Saat tiba di depan ruang perawatan tempat Kia berada, langkah kakinya berhenti di depan pintu ruangan itu. Rasa khawatir kembali mengganggu, juga sedikit keraguan jika Kia menolak keberadaannya.
"Masuk, Den." Pinta Bik Ida sambil membuka pintu ruangan itu.
Alfan tersadar dari lamunannya. Ia menatap wanita yang masih belum sadarkan diri di atas ranjang pasien. Juga ada satu orang dokter wanita yang sedang memeriksa cairan infus yang sedang menggantung di sisi ranjang.
"Ini suaminya ya?" Tanya dokter cantik itu saat melihat Alfan sudah berada di dalam ruangan yang sama.
Dengan ragu Alfan mengangguk. Menerima uluran tangan dokter itu, dan menjabat tangan itu dengan hati-hati.
Alfan mengangguk mengerti. Mendengar Kia baik-baik saja, baginya sudah lebih dari cukup.
"Kalau begitu, saya permisi, Pak, Bu." Pamit dokter itu kemudian berlalu dari ruangan perawatan Kia.
setelah kepergian dokter wanita itu, Bik Ida melangkah menuju sofa yang ada di ruangan itu dan duduk di sana. Sedangkan Alfan, menarik satu buah kursi dan membawanya ke samping ranjang si mana Kia sedang terbaring, dan duduk di sana. Wajah pucat Kia, ia tatap dalam-dalam.
"Kamu harus lebih kuat lagi. Sekarang ada bayi cantik yang membutuhkan perlindungan mu." Ucap Alfan sambil terus menatap wajah Kia. Setelah sekian bulan tidak melihat wajah cantik ini, kini ia lebih lega karena Kia berhasil melewati masa-masa sulit yang mungkin hanya sebagian wanita yang mampu melewatinya.
Menjalani kehamilan tanpa seorang suami, bukanlah hal yang mudah. Dan kini wanita yang belum sadarkan diri ini, harus lebih kuat lagi agar bisa selalu melindungi putrinya.
__ADS_1
"Jika kamu mengizinkan, aku ingin ikut andil melindungi bayi cantik itu, Kia." Ucap Alfan lagi. Orang yang sedang ia ajak berbicara masih belum sadarkan diri.
"Neng Kia pasti mau. Meskipun belum sekarang, pasti waktu itu akan tiba, Den." Ucap Bik Ida dari sofa di sudut ruangan.
Alfan tidak menoleh, dan hanya mengamini kalimat Bik Ida itu, di dalam hatinya.
Tatapan Alfan kini berpindah pada punggung tangan yang sedang tertancap selang infus. Begitu besar perjuangan wanita yang ia cintai ini, untuk mematikan anaknya bisa melihat dunia. Jika saja tangan itu sudah halal untuknya, ingi. rasanya ia menggenggamnya erat. Memberikan kekuatan melalui genggaman tangan itu, agar Kia lebih kuat lagi dalam menghadapi hari.
Cukup lama Alfan duduk di sisi ranjang itu. Menatap wajah dan tangan Kia bergantian, tanpa berani menyentuh, walau sejujurnya ia begitu ingin melakukan hal itu. Perlahan mata yang kurang lebih setengah jam yang lalu masih tertutup rapat, mulai terbuka perlahan.
"Pak.." Ucap Jia lemah bercampur terkejut.
"Tetaplah berbaring." Pinta Alfan. Ekspresi dingin yang selalu ia tunjukan pada Kia, menghilang entah kemana. Berganti tatapan hangat bercampur lega, karena Kia sudah sadar.
Wanita paruh baya yang hanya bisa menyaksikan keadaan di ruangan itu dari sofa, segera beranjak dan mendekati ranjang. Menanyakan bagaimana perasaan Kia, dan apa yang di inginkan oleh wanita yang baru saja resmi menjadi Ibu itu..
"Bayi ku di mana, Bik?" Tanya Kia pelan.
"Tetap berbaring. Aku akan meminta Suster membawanya kemari." Ujar Alfan lagi.
Bik Ida tidak sempat menjawab, dan langsung kuat dari ruangan itu menuju ruangan lain di mana bayi Kia berada.
"Terimakasih, Pak." Ucap Kia pelan.
"Berhenti berterimakasih, Kia. Aku bahkan tidak melakukan apapun. Kamu berjuang sendirian." Jawab Alfan.
__ADS_1
Ia ingin marah pada dirinya sendiri dengan keadaan mereka. Banyak hal yang bisa ia lakukan, dan yang membuat nya kesal adalah, ia tidak bisa menjaga wanita yang ia cintai dengan tangannya sendiri. Membiarkan Kia tinggal sendirian di dalam rumah yang ia siapkan, dan berjuang seorang diri.