Kebaikan Sebuah Pernikahan

Kebaikan Sebuah Pernikahan
Bab 15. Pergi


__ADS_3

Setelah berbicara melalui telepon, Kia segera menekan tombol yang tersedia di sana, guna meminta petugas medis untuk mendatangi ruang rawat nya.


Tidak membutuhkan waktu lama, seorang perawat masuk ke dalam ruangan sambil mendorong peralatan yang mungkin akan di perlukan oleh pasien.


Kia memasang senyum terbaiknya, walau bibir nya masih terlihat begitu pucat.


"Sus, pakaian yang saya kenakan semalam ke mana?" Tanya Kia.


"Ada, teman saya menyimpannya di sana, Bu." Jawab Suster itu sambil menunjuk satu buah nakas lengkap dengan laci yang ada di samping ranjang.


"Sus, jika saya mengajukan diri untuk pulang hari ini, bisa nggak?" Tanya Kia.


"Alangkah lebih baik Ibu mengikuti waktu yang di sarankan dokter. Besok benar-benar waktu yang tepat." Jawab Suster tersebut.


Kia menggeleng.


"Saya sudah baik-baik saja. Tolong lepaskan ini, ya. Nanti saya akan menandatangani semua berkas nya, agar rumah sakit ini tidak akan bertanggung jawab dengan keputusan saya hari ini." Jawab Kia. "Nanti ada keluarga saya yang datang, wanita dengan hijab panjang." Sambung nya memberi tahu.


"Bu...


"Saya mohon, Sus. Ini tidak sesederhana yang terlihat. Tolong bantu saya keluar dari rumah sakit ini. Saya akan mengingat kebaikan Suster sampai kapan pun." Pinta Kia lagi, memohon.


Suster itu terdiam sejenak. Menatap dalam-dalan pasien yang sedang duduk di atas ranjang. Benar, senyum yang terukir di bibir wanita yang mungkin masih seumuran dengannya ini, bertolak belakang dengan mata sendu penuh kesedihan itu.


"Simpan ini, jika nanti wanita berhijab panjang yang saya sebutkan tadi tidak datang, Sus boleh menjual cincin ini untuk menanggulangi administrasi nya." Ujar Kia lagi setelah perawat yang ada di depannya selesai melakukan apa yang ia perintah kan.


"Tidak perlu, Bu. Biaya administrasi nya tidak seberapa kok. Cincin ini pasti sangat mahal." Tolak perawat itu.


Kia menggeleng. Meraih tangan Suster itu lalu meletakkan cincin pernikahan nya dengan Aryan dalam genggaman Suster itu.

__ADS_1


"Ini tidak lagi berarti, dan aku tidak membutuhkan nya." Ujar Kia.


Setelah mengatakan itu, Kia membawa pakaiannya yang ia kenakan semalam, menuju kamar mandi lalu mengganti piyama pasien dengan pakaian itu.


"Terimakasih, Sus. Aku harap setelah ini kita bisa bertemu lagi, agar aku bisa membalas kebaikan mu hari ini. Jika petugas medis lain bertanya, dan meminta mu bertanggung jawab, katakan saja pada mereka jika saya melarikan diri." Ujar Kia lagi sebelum kemudian ia berlalu dari ruangan itu.


Dengan langkah perlahan karena tubuhnya yang masih terasa lemas, Kia melangkah meninggalkan ruangan menuju lobi rumah sakit.


"Bantu Ibu ya, Nak. Kita akan semakin sulit keluar dari masalah, jika tidak membuat keputusan." Gumam Kia sambil mengusap perut nya yang masih rata.


Benar kata Alfan, jika nyawa yang sedang menumpang hidup di tubuh nya, ingin di beri kesempatan hidup. Lagi pula, ia pun masih menyayangi raga dan jiwa nya, dan tidak ingin terus tersiksa dengan keadaan ini.


"Kita selesaikan satu per satu ya, Nak." Gumam nya lagi.


Setelah berhasil sampai di pelataran rumah sakit, tidak membutuhkan waktu lama taksi yang memang sangat ia perlukan saat ini, berhenti di sisi jalan. Kia menguatkan langkah agar cepat tiba di dekat taksi itu. Setelah tubuh nya duduk dengan nyaman, mobil taksi itu mulai melaju meninggalkan rumah sakit.


Allah Maha Tahu atas segala niat setiap umat Nya, jangan terlalu khawatir dengan hasil yang akan di dapat dari sebuah keputusan.


"Tunggu sebentar ya, Pak. Saya tidak akan lama." Ucap Kia. Kesempatan nya hanya hari ini, karena seluruh keluarga sedang bersuka cita dengan pernikahan suami nya. Dan pasti, tidak ada satu orang pun yang ada di rumah megah ini.


"Selamat Pagi, Pak." Sapa Kia pada petugas keamanan rumah mertuanya.


"Eh, Nona Kia. Sudah sembuh?" Tanya petugas itu sambil mendorong pintu gerbang.


"Alhamdulillah, Pak. Oh iya, apa Mas Aryan masih berada di hotel?" Tanya Kia.


"Iya, Non." Jawab lelaki itu sungkan.


Kia tersenyum seolah mengatakan pada laki-laki itu bahwa ia baik-baik saja dengan pernikahan suami nya itu.

__ADS_1


"Saya masuk ya, Pak. Mau berangkat ke kantor." Pamit Kia.


Wanita yang masih terlihat lemas itu melangkah cepat masuk ke dalam pelataran rumah. Hanya tas kecil dan barang pribadi nya yang ingin ia ambil, untuk pakaian akan ia urus nanti.


****


Tidak membutuhkan waktu lama, kartu-kartu penting sudah berada di dalam tas kecil nya. Tanpa membuang waktu, ia bergegas keluar dari dalam kamar yang ia tempati bersama Aryan, menuju pelataran. Beruntung laki-laki yang masih berstatus sebagai suami nya itu, tidak menyembunyikan barang-barang penting milik nya, hingga tidak membuatnya kesusahan.


Tidak lupa pula ia mengganti pakaiannya dengan yang lebih rapih, agar lelaki yang sedang menjaga kediaman mertua nya itu tidak curiga.


"Non Kia tidak menyetir?" Tanya lelaki paruh baya itu saat Kia sudah berada di pelataran rumah dan bersiap keluar dari pintu gerbang.


"Saya masih sedikit lemas, Pak. Pakai taksi lebih aman." Jawab Kia. Tanpa menunggu jawaban dari lelaki paruh baya itu, Kia segera berpamitan menuju taksi yang masih menunggunya di sisi jalan.


"Ke Bandara ya, Pak." Pinta Kia, saat ia sudah duduk dengan nyaman di bangku penumpang. Sopir itu mengiyakan perintah dari penumpang nya, kemudian berlalu dari sana.


Kia menatap bangunan megah yang menyimpan banyak kesedihan nya itu dengan lekat, sembari berjanji di dalam hatinya jika ia tidak akan mau menginjakkan kaki nya lagi di sini. Tidak lupa pula ia mengusap lembut perut nya yang masih rata, seolah mengatakan pada darah daging nya, jika ia mampu memberi bahagia dan memastikan semua baik-baik saja tanpa Aryan.


Keputusannya ini memang salah di mata sang Pencipta. Namun, ia tidak ingin mengambil resiko, jika nanti Aryan akan mempersulit perpisahan mereka. Sementara lelaki itu, sudah menikahi wanita lain dan tidak menutup kemungkinan wanita yang di nikahi oleh suami nya hari ini, akan di bawa masuk ke dalam rumah megah itu.


Akan seperti apa kehidupannya jika semua itu benar terjadi. Tidak, ia tidak mau terlalu lama menjalani kehidupan yang menyiksa. Selagi ada kesempatan untuk melangkah ke kehidupan yang lebih baik, mengapa harus menghabiskan waktu dengan orang-orang yang tidak bisa menghargai keberadaannya.


"Terimakasih ya, Pak." Ucap nya lembut, sambil mengulurkan uang lebih dari tarif kepada sopir taksi itu.


"Ini sangat banyak, Neng." Ujar lelaki paruh baya itu.


"Simpan saja buat, Bapak. Doakan saya agar tetap di lindungi oleh Allah ya, Pak." Ucap Kia, lalu melangkah masuk ke dalam bangunan yang menjadi tujuannya.


Ia menatap banguna yang terlihat begitu indah dari luar nya. Namun, hanya di dalam bangunan ini pula dua perasaan dapat di rasakan. Perasaan sedih ketika berpisah dengan orang yang di cintai, juga perasaan bahagia karena kembali di pertemukan dengan orang yang di cintai.

__ADS_1


Dan saat ini, ia dengan merasakan keduanya. Sedih karena harus membawa janin yang mungkin tidak akan pernah tahu siapa Ayah nya, juga bahagia karena terbebas dari kehidupan menyedihkan itu.


Sampai berjumpa lagi di lain waktu!


__ADS_2