
Setelah menyelesaikan ritual mandi nya di dalam kamar mandi, Kia keluar dari dalam bilik mewah itu lalu melangkah menuju ruang ganti. Memilih piyama terbaik untuk ia gunakan malam ini. Senyum di sertai wajah merona terlihat begitu jelas di wajah cantik nya. Ini yang kesekian kalinya, namun, tetap saja mampu membuat nya berdebar. Berharap, dengan ia melakukan hal yang paling di inginkan oleh seorang suami ini, mampu membuat Aryan akan semakin cinta pada nya.
"Sayang... "
"Astagfirullah, Mas. Bikin kaget aja." Kia kembali memasukkan piyama yang ada di tangannya, ke dalam lemari pakaian.
"Pakai baju lain dulu, ada yang mau aku bicarakan." Ujar Aryan sambil melirik piyama kesukaan nya, yang baru saja di kembalikan ke tempat nya semula.
Kia tersenyum malu. Namun, ketika melihat wajah sendu Aryan, ia tahu ada yang tidak beres. Gegas ia meraih pakaian lain, lengkap dengan hijab andalan, kemudian mengenakannya.
"Kita bicara di ruang keluarga, ya." Pinta Aryan.
Kia menatap heran.
"Kenapa tidak di kamar aja, Mas. Aku ga enak ketemu Mama." Lirih Kia.
Aryan menarik tubuh istrinya, kemudian memeluk nya erat.
"Kia, apapun yang terjadi nanti, kamu harus janji jangan tinggalkan aku, aku mohon." Pinta Aryan.
Kia tidak menjawab. Beberapa saat kemudian pelukan erat di tubuh nya terlepas, berganti genggaman hangat di jemarinya. Tubuh mungil nya lalu di tarik pelan, keluar dari dalam kamar.
__ADS_1
Aryan terus menggenggam tangan Kia, sambil menuruni satu per satu anak tangga, menuju ruangan di mana sang Mama tengah menunggu mereka.
Tidak membutuhkan waktu lama, Aryan dan Kia sudah duduk di atas sofa tepat di hadapan wanita paruh baya yang sedang melipat tangannya di atas dada.
"Kalian tuh ngapain aja di kamar? Mama sudah dari tadi menunggu kalian di sini." Ujar nya kesal.
"Maaf, Ma." Ucap Kia merasa tidak enak karena sudah membuat Mama mertua nya menunggu.
Wanita paruh baya itu hanya mendengus kesal.
"Mama langsung ke intinya saja." Ujar nya. "Aryan akan menikah lagi, ini sudah keputusan kami sekeluarga." Sambungnya membuat Kia tertegun.
Dari sekian banyak hal yang membuat hati nya terluka, ini adalah yang terparah. Keputusan bersama? Siapa? Mengapa ia tidak mengetahui hal ini?
"Semua permintaan kamu, sudah kami turuti, Kia. Walaupun kami tidak merestui pernikahan kalian, kami tetap menerima kamu di rumah ini, buktinya kamu sedang duduk di sini." Ujar wanita paruh baya yang bernama Dian itu, lagi.
Kia masih duduk dengan tenang di hadapan ibu mertuanya. Tak sekalipun ia membantah semua yang di perintahkan oleh wanita paruh baya yang selalu saja menatapnya hina, ini. Tapi hari ini, setelah sekian banyak permintaan yang selalu ia turuti, juga pengabdiannya terhadap seluruh keluarga sang suami, wanita yang selalu ia hormati seperti ibu kandungnya ini, kembali memberikan titah yang begitu sulit untuk ia terima.
"Maafkan Kia, Bu. Untuk permintaan ini, Kia benar-benar tidak bisa mengabulkannya." Ucap Kia pelan. Berusaha setenang mungkin, walau kini hatinya bagai di remas kuat, sakit.
"Kami tidak membutuhkan izin mu, kami hanya memberitahu !" Tegas wanita paruh baya itu, dengan angkuh nya.
__ADS_1
Kia menarik nafasnya dalam-dalam, mengangkat wajahnya yang tertunduk, lalu menatap lekat pada laki-laki yang masih saja membisu di sampingnya.
"Apa Mas juga sudah menyetujui kesepakatan ini? Apa Mas akan membawa wanita lain ke dalam pernikahan kita?" Tanya Kia beruntun.
"Aku hanya akan mencintai mu, Kia. Pernikahan ini hanyalah pernikahan politik. Kali ini aja, turuti kemauan Ibu." Pinta Aryan memohon.
Mendengar kalimat Aryan, air mata Kia akhirnya lolos juga dari pelupuk matanya. Air mata yang sudah berusaha keras ia tahan agar jangan tumpah, meskipun perlakuan keluarga suami nya selalu saja membuat dadanya sesak, akhirnya luruh membasahi wajah teduh, serta hijab yang menutupi dada nya. Ia berharap Aryan akan menolak permintaan itu, tapi kenyataannya justru membuat angan nya tentang pernikahan yang sakinah, melayang entah kemana. Tatapan penuh permohonan dari sang suami, membuat hatinya semakin sakit.
"Apa Mas menginginkan pernikahan itu?" Tanyanya lagi.
"Tentu saja. Kamu lihat kan tadi ada orang di ruang tamu. Mereka itu adalah calon keluarga Aryan, dan Aryan pun sudah menerima semuanya. Ngga usah sok deh kamu, Rika dan kedua orang tuanya yang seorang pejabat mau nerima kamu, dan rela putri mereka di jadikan istri kedua." Jawab wanita paruh baya yang masih duduk dengan angkuh di hadapan Kia.
"Kia dan Mas Aryan perlu bicara, Ma. Kia pamit ke kamar." Pamit Kia. Tanpa menunggu jawaban apapun dari mertuanya, Kia segera beranjak dari sofa. Dengan tanpa mengurangi rasa hormat kepada ibu mertua nya, Kia melangkah menuju tangga dan masuk ke dalam kamar.
Yah, Ia harus membicarakan ini kepada suaminya sebelum kemudian mengambil keputusan. Meskipun pernikahan mereka masih seumur jagung, tetap saja ia begitu menghargai pernikahan ini. Ia benar-benar mencintai Aryan, dan rela mengabdikan hidupnya pada laki-laki itu, namun, jika akhirnya akan seperti ini, itu berarti Allah sudah merencanakan sesuatu yang lain. Jika jalan perpisahan yang harus ia tempuh, itu berarti Allah memang belum mengizinkan dirinya meraih sakinah itu bersama Aryan.
Toh, selama ini, ia sudah berusaha untuk menjadi menantu yang di inginkan oleh keluarga, akan tetapi sampai detik ini, keberadaannya masih belum bisa di terima oleh keluarga suami nya. Baginya itu bukan lagi kesalahan nya. Ia pun tidak ingin menyalahkan keluarga Aryan tentang semua ini. Seharusnya, ia tidak terlalu mempercayai kata cinta dan janji Aryan, sebelum memastikan sendiri jika orang tua laki-laki itu, benar-benar telah menerima kehadirannya.
Setelah memasuki kamar, Kia langsung merangkak naik ke atas ranjang. Menarik selimut putih yang tertata rapi di atas ranjang mewah itu, lalu menutup kaki hingga dadanya dengan kain lembut itu.
Ingin menangis, tapi air mata nya terlalu berharga untuk di keluarkan. Beberapa saat kemudian, pintu kamar tempat dirinya berada, terbuka perlahan. Ia tidak lagi menebak siapa yang sedang membuka pintu kamar itu. Karena ia tahu, laki-laki yang ia tinggalkan di ruang kekuarga tadi, pasti akan ikut masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Dengan perlahan, Kia berbalik, membelakangi Aryan yang baru saja duduk di sisi lain ranjang tempat dirinya terbaring. Sungguh ia masih belum ingin membahas tentang pernikahan kedua suaminya ini. Dan apapun itu, ia tidak ingin berbagi cinta dengan siapapun, termasuk wanita yang bernama Rika itu. Terserah jika orang menganggapnya serakah. Namun, inilah seorang Kia. Dan pernikahan yang ia impikan bukan seperti ini. Tak masalah jika Aryan hanya bisa memberinya uang bulanan yang cukup untuk di pakai makan. Tak masalah jika ia akan tinggal di apartemen sempit. Dan bukan masalah pula jika ia tidak mengendarai mobil mewah seperti hari ini. Yang terpenting adalah, hanya dirinya satu-satunya wanita di hidup Aryan.