
Seperti biasa, pagi ketika Adinda sedang sarapan dan melihat berita update di smartphone ya. Artikel tentang jalur pendakian gunung salak sudah di buka, bahkan telah di buat jalur baru. Bayangan tentang mendaki kembali hadir, meskipun dia barusaja mengalami kecelakaan dan hampir merenggut nyawanya.
"Ya,, ya aku harus OTW, Besok jadwalin aja. tapi mama dan papa gak usah tau. Berabe kalau mereka tau" gumamanya.
Malamnya dia mempersiapkan itu semua sesudah penghuni rumah semua nya tertidur, dia mengendap-endap dan memasukan semua barang bawaannya kedalam mobil. Tanpa di ketahui, sepasang mata melihat gerak gerik Adinda.
"Mau ngapain dia mengendap-ngendap seperti itu, dan membawa barang banyak untuk apa" tegas nya.
"Beres juga akhirnya, tinggal tidur dan cari alasan yang bagus pada mama" seru nya.
Seperti biasa jika dia ingin mendaki gunung maka dia bangun masih pagi buta. Bi Omah yang saat itu sedang mencuci piring pun sudah tak asing lagi dengan pemandangan itu. "hmmmm,, pasti si non mau berangkat mendaki lagi, apa tidak kapok setelah kejadian itu. Aku sudah hapal betul gelagat nya, tapi dia gak bawa tas besar nya aneh juga" gumamnya dalam hati.
"Selamat pagi Bi Omah. Udah beres-beres aja nih, bikinin aku sarapan dong," sapa Adinda pada pembantu sepuh nya.
__ADS_1
"Non Dinda mau kemana sudah rapi lagi? hmmm saya tau non mau mendaki lagi kan ? ojo macem - macem non, nanti nyonya marah" gusar Bi Omah.
"Bibi suka sotoy deh, siapa juga mau mendaki, aku tuh mau reunian tau. Bilangin mama papa, aku mau reunian ke puncak. Acaranya pagi, " jawabnya.
"Tapi non, non. Ekh gimana sih maen pergi aja" kata Bi Omah resah.
Adinda tidak memperdulikan lagi dan langsung pergi membawa mobilnya. Tak ada yang aneh di dalam mobil selama dia berkendara, tetapi batinnya berkata di dalam mobil itu dia tidak sendiri, di lihatnya sudut mobil itu dan tak ada siapapun didalam. Tetapi kepekaannya mengatakan ada seseorang di dalam mobil itu.
"kenapa piling ku mengataka kalau aku tidak sendiri, tapi manamungkin dedemit ikut. Numpang- numpang ya mbah, saya gak ganggu kok" kata Adinda.
Di lihatnya kedai kecil dan dia segera berjalan untuk sekedar menikmati seteguk kopi.
"Neng kesini mau mendaki apa cuma menikmati suasana kampung sini?" tanya perempuan penjual kopi.
__ADS_1
"Saya mendaki teh, " jawabnya singkat.
"Eleuh eleuh, mendaki kok sendiri neng, berani euy si neng ini, mana bekal nya ," tanya wanita itu.
"Oya,.bekal saya masih di dalam mobil teh, ini uangnya, saya berangkat dulu" ungkapnya.
Di bawanya semua peralatan mendaki dalam bagasi mobil, dan dia mulai berjalan menyusuri jalan setapak. Rasa aneh kembali menyelimuti nya, seperti ada sepasang mata yang mengikuti tapi entah siapa.
"Kok berasa gak tenang gini, berasa ada yang mengikuti. Mbah punten ya saya gak ganggu, saya cuma pecinta alam mbah" ungkapnya gusar.
Di sela- sela pemberhentian karena rasa lelah, Tiba- tiba terdengar suara dari balik pohon. "Katanya mau reuni di puncak, tapi malah mendaki lagi, gak takut celaka ya non" kata seseorang di balik pohon pinus.
Mendengar itu menbuat dia terperanjat. "siapa itu, siapa disana. Plis jangan nakutin. Hidup masing - masing saja. Saya gak ganggu kalian dan kalian juga jangan ganggu saya paham" teriak Adinda panik .. tapi seketika dia ingat suara itu. Ya suara Ferdian. Tapi dia tahu darimana kalau Adinda pergi kesini. Tapi dia segera menepis itu. Dia berfikir kalau dia sedang berhalusinasi. "Fokus Adinda fokus. Tak ada yang tahu kamu kesini" gumamnya.
__ADS_1
Dan dia pun kembali melanjutkan perjalannya.