
Suasana sepi di rumah Tuan Antoni membuat Bi Omah bosan. Dia lalu berjalan di taman belakang dan melihat Nyonya Rossy sedang merapi kan bunga.
"Selamat pagi Nyonya" sapa Bi Omah dengan senyum tulusnya.
"Pagi juga Bi" jawabnya santai.
"Sarapan sudah siap Nya" ucap Bi Omah.
"Baik Bi. Oya, saya sebentar lagi mau siap-siap pergi ke kantor jadi tolong siapkan sepatu saya" perintah sang majikan.
"Baik" jawab nya.
Ketika sedang sarapan, netra mata Tuan Antoni tajam melihat putrinya yang pengangguran menuruni tangga dengan memakai baju rapi ala kantoran dengan sepatu pantopel berhak tinggi. Terlihat Adinda sedikit terseok kala sedang berjalan, karena dia tidak biasa memakai sepatu tinggi.
"Selamat pagi mama dan papaku tercinta. Kenapa lihatnya begitu amat sih pada ku. Ada yang salah ya" Tanya Adinda heran.
" Kamu sudah rapi begini mau kemana?" ucap Tuan Antoni.
"Kerja lah, kemana lagi" jawabnya simple.
"Haaahhhhhh" seruan kompak suami istri itu.
"Kok kaya gitu sih respon kalian sama aku?" tanya Adinda.
"Hmmmmmmmzz~~~~ Begini ya tuan putri kami yang manis, apa kamu terbentur dinding atau amnesia mendadak atau mendapat hidayah dari sang pencipta hingga tidak lagi menjadi kaum rebahan. Mau kerja dimana cintaku?" tanya Tuan Antoni
Mendengar perkataan dari sang suami, membuat Nyonya Rossy terkekeh.
"Aku akan bekerja di perusahaan papa dan mama lah. Aku tahu hari ini jadwal papa meeting sama client papa yang orang Singapore kan? tepat jam 08:30 sd 10:30. Lalu selanjutnya jam 11:00 sd 14:00 jadwal mama ku tercinta menghadiri pertemuan para dokter kecantikan se Asia Tenggara di Hotel kita kan dan Mama mewakili klinik dan salon mama kan. Aku sudah cek semalam sama orang kepercayaan kalian. Jadi untuk hari ini biar aku yang handle. Papa dan mama diamlah di rumah" tutur Adinda dengan semangat 45 nya.
"Kalau begitu restu kami untuk mu nak" ucap Nyonya Rossy sembari mengelus rambut sang putri.
Berangkatlah Adinda ke kantor dengan menaiki mobil nya. Sepanjang perjalanan menuju kantor, dia selalu bersenandung ria. Tetapi sekejap senang, sekejap pun dia sedih kala mengingat wajah Ferdian dan Kedua adiknya.
"Hmmnnn ... Aku sudah jadi orang yang jahat. Maafkan aku Fer, Maaf" lirih Adinda.
Sampailah dia di kantor dan di sambut oleh semua pegawainya.
"Selamat pagi Bu Adinda" Ucap semua karyawan yang dia temui.
"Selamat pagi juga. Hari ini saya akan gantikan papa untuk sementara, karena beliau ingin istirahat. Dan saya akan bekerja di ruangan papa saya. Tolong bimbing saya dan siapkan apa yang saya butuhkan" ucap Adinda dengan penuh wibawa.
"Baiklah Bu" jawab sekretaris nya.
__ADS_1
Berlalu lah Adinda menuju ruangan kerjanya. Seketika semua pegawai menggosifkannya.
"Oh jadi dia itu anaknya Pak Antoni yang mager itu?" ucap Salsa seorang manager HRD.
"Ya dia anak perempuan satu-satunya. Bukan rahasia umum lagi sih, kalau dia itu pengangguran abadi. Gue sih tahu nya dari Pak Antoni sendiri" Ucap Indri
"Cantik sih tapi malas buat apa? apa mungkin karena orang tuanya kaya raya jadi dia malas bekerja" timpal Komang seorang stap keuangan.
"Katanya lagi dia itu suka mendaki gunung. Anaknya los banget deh, pecinta alam gitu" ucap Lidya.
"sudyah berisyick yey smeong, kita kerja aja. jangan gibahudin yey. dosyah" Ucap Romi si pria kemayu yang bekerja menjadi Stap pemasaran.
Di ruang kerja, Adinda mulai memeriksa berkas perusahaan.
" Dokumen apa ini. Seumur-umur baru lihat yang kaya gini. Aku harus telp papa".
Tak lama ponsel Tuan Antoni berdering. Dan di angkatlah.
"Hallo nak. Kenapa kamu telp papa?" tanya Tuan Antoni
"Pa, Aku cuma ingin tanya, Soal pengembangan perusahaan selain pendanaan apalagi pah? pusing pala barbie, gak ngeri aku tuh. Pah, ternyata bekerja itu susah banget. Maafin aku ya papa ku sayang kalau aku suka nyepelein soal kerjaan sama papa dan mama" keluh Adinda di balik telp.
"Sekarang deh papa ke kantor ya. Kita kerjakan bareng-bareng dan hadirin meeting. Noh kamu tahu gimana susahnya cari uang. Mulai sekarang kamu harus bekerja keras" jawab Tuan Antoni.
"Ada apa sih pah?" tanya sang istri.
"Dinda kesulitan kerja mah. Biasa awal-awal emang semua orang kaya gitu. Semoga aja dia tulus mau bekerja tanpa ada udang di balik piring" tutur Tuan Antoni.
"Hari ini jadi kan pah, kita ke rumah Pak Katris?. Kita harus cepat membawa ketiga cucunya datang kemari. Apalagi takutnya kalau Pak Cakra mulai curiga sama kita" tanya Nyonya Rossy.
"Jadi dong sayang ku. Kalau papa sudah beres langsung jemput mama kemari" Jawab Tuan Antoni, tapi kita harus konfirmasi dulu sama beliau kalau kita akan bertamu ke rumahnya." ucap Tuan Antoni.
di telpon lah, dan terdengar suara seorang wanita dari balik telp.
"Hallo, dengan kediaman Tuan Katris. Saya atas nama Yulianti. Ada yang bisa saya bantu?" ucap seorang kepala ART yang bernama Yulianti.
"Saya dengan Antoni. Saya siang ini akan datang kesana. Apa Pak Katris hari ini ada di rumah?" tanya Tuan Antoni.
"Hmmmmm. Saat ini beliau sedang di rawat di rumasakit. Jantungnya kambuh lagi pak" tutur Yulianti.
"Baiklah. Boleh saya meminta alamat rumasakitnya?"
"Tentu bisa pak. Rumasakit Harapan Sehat, ruang rawat no 109"
__ADS_1
"Terimaksih"
Di tutup lah telp itu.
"Kenapa pah?" tanya sang istri.
"Pak Katris di rawat mah, ayo sekarang ikut papa ke kantor, sekalian kita ajak Dinda kesana" ajak Tuan Antoni.
"Ayo pah" jawab Nyonya Rossy sembari menyambar tas nya.
Sampailah di kantor, mereka sedang melihat Adinda tengah mengadakan rapat membahas kelanjutan pengembangan produk.
"Baiklah, meeting ini saya akhiri. Semoga anda semua bisa menjalankan pekerjaan ini sesuai harapan. Dan semoga produk yang kita hadirkan bisa di terima di tengah masyarakat" ucap Adinda dengan penuh wibawa.
"Silahkan jika semua ingin meninggalkan tempat ini. Saya masih banyak pekerjaan" ucap nya lagi.
"Baik bu" ucap seluruh direksi.
Melihat sang putri yang sudah mau bekerja dan memimpin rapat, membuat Nyonya Rossy terharu dan menitikan air mata.
"Mama kenapa nangis?" tanya sang suami.
"Saya terharu melihat perubahan pada diri Adinda" jawab Nyony Rossy.
"Ayo kita masuk"
"Ayo pah"
Masuklah mereka dan melihat sang putri tengah berkutat dengan laptopnya.
"Sayang. Semangat banget kerjanya" sapa Nyonya Rossy.
"Mama/papa, kapan kesini?" tanya Adinda.
"Baru saja kami tiba nak. Sekarang kamu ikut papa ke rumasakit, kita akan jenguk Pak Katris, beliau di rawat karena penyakit jantungnya kumat" tutur Tuan Antoni
"Ya tuhan kasian sekali. Tapi aku takut pah buat ketemu kakek itu. Aku takut dia marah sama aku, sebab akulah yang usir ketiga cucunya" jawab Adinda sembari bergidik ngeri.
"Gak apa-apa, sekarang kamu jelasin aja ke beliau dan minta maaf" ucap sang papa.
"Ya udah ayo pah".
Berangkatlah mereka menuju Rumasakit.
__ADS_1