
Melihat ada seorang yang memeluk kedua adiknya, membuat Ferdian heran. Dia berjalan dari arah belakang menuju ruang tamu. Tampak seorang lelaki sepuh menangis di pelukan adik nya, semakin dekat wajah lelaki itu semakin jelas.
Deg deg deg.
Mata Ferdian terhanyut sekejap, pasalnya orang tua itu tak lain dan tak bukan adalah kakek nya. Tapi kenapa tiba - tiba kakek nya memeluk adiknya dengan tangis haru, apa dia mengetahui semuanya atau apa. Melihat kedatangan Ferdian, Tuan Katris segera melepas pelukan dari Ana dan Lucy, dia memandang lekat ke arah Ferdian dengan mata nanar.
"Apa kamu keponakan Pak Antoni?"tanya nya lirih.
"Betul pak, saya keponakan beliau. Belum lama di Indonesia. Ada apa bapak memeluk kedua adik saya? apa mereka telah berbuat salah sebelumnya?" tanya nya dengan jantung menderu.
Perasaan rindu mendera, ingin rasanya dia memeluk kakek nya tetapi harus di tahan, belum saatnya Tuan Katris mengetahui rahasia ini.
"Tidak ,tidak. Mereka tak berbuat salah terhadapku. Aku datang kemari untuk mengucapkan terimakasih karena sudah menolongku, siapa namamu anak muda?" tanya nya.
"Perkenalkan nama saya Ferdian Suarezz M. Keponakan dari Om Antoni " imbuhnya lugas. Mendengar itu membuat Tuan Katris menjadi terperanjat. Dia tak menyangka kalau keponakan Tuan Antoni sangat mirip dengan nama cucunya.
__ADS_1
"Btul kan itu namamu?"tanya nya lagi.
"Ya betul " jawab Ferdian.
(Kenapa nama mereka sama dengan nama cucuku, aku harus lebih intens menyelidiki mereka. Ini sangat kebetulan tetapi mereka mengaku keponakan Antoni,) gumamnya dalam hati.
Melihat pemandangan haru ini membuat seisi rumah itu menjadi terdian. Ingin sekali Ferdian mengatakan yang sebenarnya, tetapi isyarat mata Tuan Antoni mengatakan bahwa ini belum saatnya terbuka, dia sadar kalau mengatakan nya sekarang, dan Cakra mengetahui nya akan menjadi masalah yang serius jadi harus menunggu waktu yang tepat saja.
"Baiklah saya pamit dulu. Terimakasih telah mengijinkan saya kemari dan menemui kalian. Terimakasih Ana dan Lucy telah menolong saya" ucap Tuan Katris dengan lirih.
"Sama - sama pak, " balas Ana dan Lucy serentak.
" Sama - sama pak. Pintu rumah ini selalu terbuka untuk kedatangan Pak Katris kemari, " balas Tuan Antoni.
Semua yang ada di rumah itu mengantar kan Tuan Katris sampai memasuki mobil nya. Ada suatu kelegaan di hati Ferdian, tetapi juga ketakutan yang luar biasa mengingat Cakra yang sangat kejam
__ADS_1
"Sabar Ferdi, semua akan terbuka pada waktunya. Tapi ikatan batin tidak akan pernah salah, walau pun Tanteu sebenarnya ingin mengatakan kalau adikmu adalah cucu Tuan Katris, tetapi waktunya belum tepat. Kami akan bantu sampai kamu benar - benar mendapat keadilan. Sebagai hutang budi kami karena kamu telah menyelamatkan Adinda ketika dia celaka waktu itu" tutur Nyonya Rossy.
"Terimakasih Tanteu, terimasih Pak. Kalian begitu baik pada kami," ucap Ferdian.
"Hati - hati mah, kita patut curiga dengan Ferdian. Bagaimana jika sudah memiliki kekayaan nya, dia akan sombong dan balik menjadi rival perusahaan kita. Awas ya Fer, jangan jadi penghianat" seloroh Adinda.
"Kita lihat aja nanti. Lagipula emang kan perusahaan mereka itu saingan kita dari dulu" ucap Tuan Antoni terkekeh.
"Kak jadi kakek itu benar kakek kita, " tanya Ana sembari menatap Ferdian lirih.
"Betul An. Itu Kakek Katris, kakek kita. tapi kita tak boleh gegabah oke ," jawab nya.
"ya kak".
Pagi itu penuh dengam drama dan di akhiri dengan sarapan bersama.
__ADS_1