Kebebasan ADINDA

Kebebasan ADINDA
Asisten Pribadi Untuk Ferdian.


__ADS_3

Ferdian sedang membutuhkan sekertaris pribadi untuk menunjang pekerjaannya.


Sudah ada calon pelamar berhasil masuk kualifikasi di kantornya. Hingga terpilihlah wanita bernama Mitha Aurelie.


"Bagaimana sudah ada sekertaris yang terpilih?" tanya Ferdian pada Nana sang HRD.


"Sudah pak! Besok mulai bekerja. Ini profilnya" Nana menyerahkan CV milik Mitha.


"Masih muda dan cantik pak" timpal Nana.


"Bu Nana, saya tidak perduli cantik apa tidak Kurus apa gemuk atau tinggi atau pendek. Saya hanya ingin orang yang siap membantu saya bekerja dan loyal terhadap perusahaan itu saja" ucap Ferdian tegas.


"Satu lagi pak, dia seksi" ucap Nana sembari berlalu dari ruangan Ferdian.


"Terserah Bu Nana sajalah" ucap Ferdian.


"Apa mungkin Pak Ferdi sekong ya tak suka perempuan" gumam nana sembari bergidig ngeri.


Di dalam ruang kerjanya, Ferdian sengaja menelepon Adinda yang tengah berada di kantornya.


"Siang sang penjaga hati!" sapa Ferdian.


"Siang cinta! Bagaimana pekerjaan kamu hari ini?" Adinda bertanya sembari tangan terus mengetik pada laptopnya.


"Cukup baik. Besok asisten ku mulai bekerja" ucap Ferdian yang langsung di sambut delikan mata tajam sang kekasih.


"Asisten? Pria atau wanita?" Suara Adinda sudah menggema di seberang telepon.


"Wanita! Namanya Mitha" jawab Ferdian polos , dia tak tahu bahwa Adinda sudah menggeram.


"Lihat fotonya! Kirimkan sekarang padaku ucap Adinda yang segera menutup telepon itu secara sepihak.


Ferdian langsung mengirimkan poto Mitha ke ponsel Adinda.


Melihat itu, mata Adinda langsung melotot tajam. Poto Mitha dengan pakaian seksi dan dada yang menonjol membuat seketika Adinda merasakan kesal.


" Gila, siapa yang merekomendasikan wanita ini untuk menjadi aspri Ferdian? Bahkan ukuran dadanya pun jauh lebih besar dia di banding aku" Adinda terus menggerutu kesal.


Dia pun segera menelepon kembali Ferdian.


"Hallo sayang, bagaimana menurutmu calon aspriku itu?" Ferdian hanya ingin tahu reaksi dari sang kekasih.


"Siapa yang merekomendasikan dia untuk jadi asprimu? Atau itu pilihanmu sendiri ya?" Adinda terus memberondong dengan berbagai pertanyaan.

__ADS_1


"Enak saja pilihanku! Bukan lah, itu pilihan HRD. Biarlah sayang aku akan memberikan dia kesempatan bekerja lagi pula dia orangnya pintar, terlihat dari sesi wawancara kemarin" ferdian menjawab sederhana agar sang kekasih tidak cemburu.


"Pintar menggoda maksudnya. Awas saja kau ya Fer jika ketahuan bermain mata dengan perempuan itu, akan ku colok kedua biji matamu" Adinda berkata dengan galaknya sembari mematikan panggilan telepon itu.


Ferdian hanya menggelengkan kepalanya.


"Perempuan ribet sekali ya! Padahal aku sangat mencintai dia, tapi curiga terus" gumam Ferdian.


¥


Siang ini Lucy dan Ana sedang berkunjung ke rumah Adinda. Mereka merasa rindu dengan Tuan Antoni dan Nyonya Rossy.


"Om senang kalian mau berkunjung kemari. Bagaimana sekolah kalian?" tanya Tuan Antoni.


"Kami rindu dengan om dan Tante! Terima Kasih kalian sudah baik terhadap kami waktu itu dan sudi menampung kami. Kebaikan om dan Tante akan kami kenang selamanya. Sekolah kami baik-baik saja om, hanya butuh sedikit penyesuaian saja" ucap Ana dengan terharu.


"Yasudah mendingan kita makan saja yuk" ajak Nyonya Rossy.


Tiba-tiba Bel rumah mereka berbunyi. ART dengan sigap membukakan pintunya.


"Silahkan masuk" ucap ART itu.


"Pak antoni" sapa Tuan Katris dari ambang pintu.


"Pak Katris, silahkan masuk!" Tuan Antoni mempersilahkan tamunya dengan sopan.


"Iya nak, di rumah kakek sendirian tak ada teman. Dan takut saja jika kalian kemari tidak di berikan makan" ucap Tuan Katris sembari tertawa.


"Hahaha! Tuan rumah tidak sekejam itu" ucap Tuan Antoni tertawa.


"Oh ya kemana calon cucuku?" Tuan Katris mencari Adinda.


"Dia sudah bekerja menggantikan saya. Saya sudah bebas dan tenang menjalani hari tua" jawab Tuan Antoni.


"Akhirnya dia bekerja juga" ucap Tuan Katris sembari tertawa.


"Yasudah nanti saja lanjut mengobrol nya. Ayo kita makan" Nyonya Rossy langsung mempersilahkan mereka makan siang.


Skip


Kini Tuan Antoni sedang duduk berdua dengan Tuan Katris. Terlihat pria tua itu seperti dengan murung dengan berjuta masalah di kepalanya.


"Pak, bagaimana sekarang semenjak perusahaan di pegang oleh Ferdian?" tanya Tuan Antoni.

__ADS_1


"Syukurlah semua kesulitan di perusahaan bisa teratasi. Saya tidak menyangka dia bisa bekerja di perusahaan walau sejatinya dia tidak pernah sekolah. Dia pemuda yang jujur dan bertanggung jawab" Ucap Tuan Katris.


"Syukurlah kalau begitu. Bagaimana dengan Pak Cakra setelah tahtanya di rebut oleh sang keponakan?" Tuan Antoni ingin tahu sekilas persoalan keluarga itu.


"Itu yang menjadi duri sekarang! Cakra terlalu serakah dan saya aku merasa gagal mendidik seorang anak" ucap pria tua itu dengan wajah sendu.


"Apa sebaiknya Ferdian punya pengawal pribadi saja supaya dia aman?" tanya Tuan Antoni berusaha mengemukakan pendapatnya.


"Sudah aku tawari, hanya dia menolaknya dengan alasan terlalu berlebihan" jawabnya.


"Bagaimana jika pak Cakra nekat menyakiti Ferdian pak? Aku hanya takut saja Adinda akan sedih jika terjadi apa-apa dengan kekasihnya" Tuan Antoni sangat khawatir.


"Ya semoga saja tidak terjadi hal yang demikian. Oh ya bagaimana kalau kita nikahkan saja anakmu dengan cucuku secepatnya?" Tanya Tuan Katris dengan senang.


"Duh kalau itu kita mesti tanyakan dahulu pada kedua anak itu. Lagipula mereka kan baru saja bekerja pak, Belum banyak berkembang, aku takut saja jika mereka menikah secepatnya maka lebih memprioritaskan satu sama lainnya dan sedikit acuh pada perusahaan. Bukannya saya menolak sekarang-sekarang hanya mereka kan masih perlu pengembangan diri masing-masing" tutur Tuan Antoni selembut mungkin takut akan melukai hati Tuan Katris.


"Kau benar juga. Aku kadang suka terburu-buru mengambil sebuah keputusan" ucapnya sembari terkekeh.


Hari sudah lumayan sore, Tuan Katris mengajak kedua cucunya pulang.


"Terimakasih om dan Tante sudah mengizinkan kami berkunjung. Lain kali kami akan main kemari lag" ucap Ana dan lucy, lalu mereka menyalami tangan sang tuan rumah dengan takzim.


Mereka pun pulang dengan mobil jemputan supir pribadi Tuan Katris.


Di jalan pulang, Ana merasa lapar.


"Kakek aku lapar" ucapnya sembari memegang perutnya.


"Baiklah kita makan di restoran favorit kakek ya" ucapnya.


Tibalah di sebuah resto mewah, Mobil itu berhenti.


"Ayo kita makan" ucap Tuan katris.


Tetapi mata Lucy melihat supir pribadi sang kakek. Dia melihat oria paruh baya berbadan ceking itu sepertinya belum makan.


"Mang Asep, sudah makan?" tanya Lucy.


"Hmmmzz sudah non" ucapnya lesu.


"Bohong nih Mang Asep! Ayo ikut kita makan" Ana langsung mengajak supir itu ikut kedalam resto.


"Mang Asep emang begitu, dia susah di suruh makan! Ngopinya kuat" Seloroh Tuan Katris yang takut dikira pelit oleh kedua cucunya.

__ADS_1


Ketika memasuki resto, ujung mata Tuan Katris melihat Cakra sedang menyuapi makan pada gadis muda. Cakra dengan gemas mencium pipinya, mencolek dagunya. Dia seakan tuli dengan keadaan sekitar, hal itu membuat sang papa menjadi jijik melihatnya. Dia pun menghampiri Cakra.


"Oh begini ternyata kelakuan kamu selama ini?" Tuan katris langsung mengguyurkan air pada kepala Cakra.


__ADS_2