Kebebasan ADINDA

Kebebasan ADINDA
Menyusul Adinda


__ADS_3

Ferdian memitikan air mata ketika melihat kepergian Adinda dan Lucy. Rasa hati ingin ikut bersama tapi Ana tidak mau pergi dan Ferdian tak akan tega meninggalkan Ana sendiri di sini. Tak tahan melihat kekasih dan adik nya sudah semakin jauh membuat dia segera berlalu meninggalkan rumah gubuknya.


"Bang Ferdi mau kemana?" tanya Ana.


"Cari kayu bakar" jawabnya singkat.


"Bang kenapa sih cuek begitu?“ tanya Ana lagi.


" Pikir sendiri sajalah kamu sudah dewasa kan" jawab Ferdian ketus.


"Issss, abang ini semenjak kenal dengan Kak Dinda jadi beda" gumam Ana.


Ana pun mendudukan bokongnya di depan gubuk itu, rasa sepi menyelimuti kalbunya. Dia berfikir kenapa dia tidak ikut saja dengan Lucy, dan menyesal karena telah memarahi Adinda.


"Masa sih aku harus disini terus sampai tua, Lucy sebentar lagi akan hidup enak" gumamnya.


Ana pun segera berlari menyusul Ferdian ke hutan.


"Bang Ferdi? Bang Ferdi dimana?" Ana terus saja berteriak memanggil nama sang kakak.


Tak lama, Ferdian pun menghampirinya dengan bahu memanggul seikat kayu bakar dan membawa seekor ayam hutan.


"Apasih An teriak-teriak begitu?" tanyanya sedikit kesal.


"Bang, sekarang aku sadar aku tidak akan egois lagi. Ayo kita susul Kak Dinda dan Lucy" ucapnya sembari memegang tangan Ferdian.


Ferdian pun hanya bisa ternganga melihat tingkah Ana yang di nilainya sangat labil.


"Bang ayo tunggu apa lagi?" Ana langsung menarik tangan Ferdian.


Di sepanjang jalan, hanya ada ilalang dan padang savana. Lucy sudah tidak sanggup lagi berjalan kaki.


"Kak, aku cape" Lucy meringis.


"Minum dulu ya. Nanti Kak Dinda gendong kamu" ucap Adinda.


Lucy hanya mengangguk saja sembari mendaratkan bokong nya di atas rerumputan. Panas terik seakan membakar kepala mereka berdua, tetapi Adinda tidak akan menyerah untuk membawa gadis kecil ini pulang ke Jakarta.


"Kak Dinda cape?" pertanyaan polos terlontar di mulut gadis kecil itu.


"Tidak! Kak Dinda kuat dan wonder women! jawab Adinda sembari terkekeh.


Sudah cukup lama mereka istirahat, kini keduanya melanjutkan perjalanan kembali.


Hari pun semakin senja, Adinda memutuskan untuk mendirikan tenda. Malam semakin larut, rasa lapar pun mendera mereka berdua.


" Kak, aku lapar!" lucy meringis kala cacing-cacing di perutnya mulai meminta jatah.


"Sama Kak Dinda juga lapar. Di carier ada sosis, kornet dan mie rebus kita makan itu saja ya. Tapi kita harus cari sumber air dulu" ucap Adinda.


"Aku takut kak di luar banyak Anjing hutan" keluh Lucy.


"Ya mau bagaimana lagi, Kita sudah tidak ada persediaan air lagi. Ayo cepat sebelum malam banget" ajak Adinda pada gadis kecil itu.


Mereka pun pergi mencari mata air dengan bermodal senter saja.


Sementara Ferdian dan Ana menyusuri jalan setapak dalam pekatnya malam hutan hanya bermodal obor saja.


"Bang, aku cape" keluah Ana.


"Sebentar lagi. Ayo jangan mengeluh" ucap Ferdian.


Tak di sengaja, kaki Ana menginjak akar pohon yang runcing hingga kaki nya berdarah.


"Auwwwwwwww" pekik Ana.

__ADS_1


"Kamu kenapa?" tanya Ferdian cemas.


"Kaki ku sakit" ucapnya.


Ferdian pun memeriksa kaki sang adik dan mendapati darahnya sudah berceceran.


"Yaampun ana kaki kamu terluka parah" Ferdian sangat panik apalagi melihat wajah Ana sudah pucat.


Ferdian kemudian menyayat baju yang Ana pakai untuk membungkus lukanya.


Ana hanya menangis dan Ferdian langsung mengendong sang adik.


"Kamu selain judes berat juga ya" kelakar Ferdian.


"Bang Ferdi sakit bang" ucapnya meringis.


Di sisi lain, segerombolan orang suruhan Cakra tengah bergeriliya di hutan untuk mencari keberadaan Adinda dan Ferdian beserta kedua adiknya. Cakra sengaja menyuruh pembunuh bayaran untuk menghabisi mereka. Pikirnya jika keempat orang itu di bunuh di hutan tidak akan ketahuan polisi dan pembunuh bayaran itu bisa langsung mengubur jasad keempat orang itu.


"Robi gue haus!" ucap Rosid si ketua pembunuh bayaran itu.


"Sama bos, gue juga haus! Dari pagi kita keliling hutan ini belum juga ketemu sama target" ucapnya putus asa.


"Kalau imbalan nya tidak gede, gua mana mau keliling hutan kaya begini. Gue takut sama penunggu disini" ucap Rosid


Binatang malam saling bersahutan dan memekakan telinga.


"Bos gue takut ada kuntilanak" ucap Haris seorang pria bawahan Rosid yang berbibir dower.


"Diam loe pade!" ucap Rosid


Tanpa di duga dari arah belakang ada suara cekikikan seperti suara wanita tertawa.


"Hihikhikhikhik" suara itu semakin mendekat.


"Bang loe dengar?" tanya Haris pada Robi.


"Hei demit, gua bawa persembahan buat kalian, nikh anak buah gue yang namanya Rosid ambil sana buat loe" kelakar Rosid


"Enak aja. Nih ambil bos gue yang ***** buat loe semua" timpal Robi.


Tak di sangka ternyata suara wanita sedang tertawa itu adalah suara musang yang sedang birahi dan mendusel-dusel manja di kaki Robi.


"Kampret! Ternyata musang sialan" geram Robi.



"Kak, itu ada sungai" ucap Lucy menunjuk ke arah depan.


"Iya bener! Ayo kita ambil air sebanyak-banyaknya" aja Adinda.


"Kak, perut aku mulas pengen e'e" ucapnya.


"Iuhhhhh ada-ada saja sih kamu" Adinda mencebik.


"Udah gak kuat Kak" lirihnya.


"Yasudah kamu ke sana, kaka ambil air disini" ucap Adinda.


Lucy pun berjalan ke arah air mengalir..



"Bos, gue mau boker" ucap Rosid sembari menahan perutnya.


"Sama bos, gue juga pengen pipis udah di ujung" timpal Haris.

__ADS_1


"Sialan loe nambah-nambah kerjaan aja. Bisa gak tuh t*i di pending dulu keluarnya" geram Robi.


"Mana bisa gitu bos" ucap Rosid.


"Yaudah kita cari sungai aja" ucapnya.


Mereka pun mencari sungai terdekat untuk bersemedi.


"Bos itu sungai" ucap Rosid.


"Ya ayo buruan" timpal Robi.


"Tapi itu ada senter disana! Apa mereka para pendaki ya?" tanya Rosid pada Haris.


"Gue gak pikirin itu. Gue pingin kencing" timpalnya dengan segera berlari.



Sementara, Adinda dan Lucy sudah beres dengan kegiatannya di sungai, mereka pun segera berjalan keluar dari sungai itu.


"Kak lihat ada orang! Mereka bawa senter" ucap Lucy yang menunjuk kebarah cahaya senter.


"Itu mungkin pendaki. Yo kita samperin mereka.


Adinda dan Lucy pun berjalan menghampiri Rosid and the geng.


" Abang pendaki?" tanya Adinda dengan polosnya membuat ketiga pria itu saling pandang.


"Bukan!" jawab Rosid ketus.


"Terus kalian sedang apa disini?" tanyanya.


"Kami sedang mencari orang" jawabnya.


Merasa kenal dengan wajahnya, kemudian Rosid menyalakan ponselnya dan melihat poto yang di kirimkan oleh Cakra dan bemar saja poto itu salah satunya Adinda dan Lucy.


"Dia buruan kita" bisik Rosid pada telinga Haris.


"Ayo kita eksekusi disini saha" timpalnya.


Robi pun mengeluarkan pisau dari dalam mantelnya dan langsung di arahkan pada kedua wanita itu.


"Apa-apaan ini?" tanya Adindal dengan terkejutnya.


"Kami memang sedang mencari kalian atas suruhan Tuan kami. Ada kata-kata terakhir?" tanya Haris menyeringai.


"Gila! Siapa yang menyuruh kalian bangsat?" tanya Adinda geram.


"Tuan besar Cakra! Hahahaha" ucap Rosid dengan suara gelak tawanya.


"Lari~~" seru Adinda sembari memegang tangan Lucy.


"Mau lari kemanapun pasti kami akan menemukan kalian" teriak Rosid sembari terus mengejar kedua wanita itu.


Bukit demi bukit mereka lompati agar cepat sampai di tenda nya.


"Kak aku lelah" lirih Lucy dengan nafas tersenggal.


"Sama" jawab Adinda singkat.


Mereka berdua pun bersembunyi di belakang pohon besar.


Lama bersembunyi, tiba-tiba suara bariton memanggil mereka.


"Sedang apa kalian disini?" tanya nya

__ADS_1


Seketika adinda dan Lucy menjerit..


__ADS_2