
Sore hari tiba. Saatnya Nyonya Rossy dan Tuan antoni pulang dari kantornya. Melihat keadaan rumah yang sepi membuat mereka jadi bingung sendiri, pasalnya semenjak ada trio bersaudara keadaan rumah selalu ramai dan hangat, apalagi dengan aksi lucu Lusy saat menggoda Nyonya Rossy.
"Pah mereka kemana ya kok sepi begini?" tanya Nyonya Rossy.
"Mana papa tahu ma. Apa sedang ada di taman belakang. Ayo kiylta temui mereka" ucap Tuan antoni.
Di carinya trio bersaudara itu, di taman belakang, di lantai atas, di balkon , di pos satpan dan di dapur tetapi mereka tidak di temukan membuat suami istri itu merasa panik.
Melihat majikannya sedang mencari trio bersaudara itu, Bi Omah kemudian menghampirinya.
"Tuan dan nyonya apakah sedang mencari anak - anak?" tanya Bi Omah sendu
"Ia nih bi, kemana ya mereka?" tanya Tuan antoni.
"hmmmmmmm... Anu tuan - - anu..." jawab Bi Omah dengan nada tercekat tak mampu melanjukan kata - katanya.
"Anu apa bi. Yang jelas kalau ngomong" ucap Nyonya Rossy dengan nada semu marah .
"Anu nyonya, mereka pergi tadi pagi karena di usir sama Non Dinda" jawab Bi Oma dengan terbata - bata.
"Apa? Dinda mengusir mereka Bi? kenapa bisa?" tanya Tuan Antoni dengan wajah memendam amarah.
"Sewaktu Nyonya dan Tuan berangkat bekerja, Non Dinda marah - marah kepada Ferdi dan kedua adiknya. Dia menuduh kalau Ferdi lah yang mempengaruhi Tuan supaya di jodohkan dengan Ferdi. Dan Non Dinda juga merasa iri terhadap perlakuan Nyonya dan Tuan yang sangat baik terhadap mereka" tutur Bi Omah dengan deraian air mata.
Seketika tubuh Nyonya rossy menjadi lemas. Dia tak menyanga kalau Adinda bisa melakukan hal sekejam itu terhadap orang lain, apalagi trio bersaudara itu yang menyelamatkannya dan merawatnya dari tragedi kecelakaan itu.
__ADS_1
"Adinda kenapa kamu jahat sekali kepada orang yang sudah berjasa dalam hidup mu... hikhikhik..bagaimana pah kalau Pak Katris tau fakta nya. Dan mereka sudah tidak bersama kita lagi" lirih Nyonya rossy.
"Tenangkan diri mamah. Ayo kita bicara dengan Adinda" jawab Tuan Antoni.
Tak lama tibalah di kamar Adinda. Tanpa permisi Tuan antoni masuk tanpa ketuk pintu terlebih dahulu. Melihat reaksi papanya membuat Adinda yang saat itu sedang catokan rambut merasa tersentak.
"Papa ada apa sih masuk kamar ku tanpa permisi" ucap Adinda sedikit kesal.
"Ini rumah papa jadi bebas mau ngapain itu hak papa... Jujur sama papa, kamu kenapa usir Ferdian sama kedua adiknya? apa salah mereka" tanya Tuan Antoni dengan suara menggeram.
"loh papa tau dari mana mereka pergi?" ucap Adinda datar.
"Dari Bi Omah. Katanya kamu yang ngusir mereka. Apa salah mereka hingg kamu tega mengusirnya?" ucap Tuan Antoni.
"Bi Omah jangan di percaya pah. Mereka pergi itu karena mereka gak betah tinggal disini, mereka kan orang utan jadi hidupnya betah di hutan aja." seloroh Adinda.
"Loh pah , yang anak papa itu aku atau Bi Omah sih. Heran deh" jawab Adinda asal.
"Jujur sama papa, Kenapa kamu ngusir mereka? . kamu tahu mereka itu yang sudah menyelamatkan nyawa mu, merawat mu dan membantu papa membawa mu ke rumah ini lagi. Kamu itu semacam makhluk yang tak tahu bersyukur. Mereka itu cucu seorang konglomerat, bukan orang sembarangan." kata Tuan Antoni.
"Iya- iya pah aku ngaku. Aku yang mengusir mereka karena aku yakin Ferdi sudah membujuk untuk di jodohkan dengan ku. Dan aku jujurly iri sama mereka karena papa lebih sayang mereka ketimbang aku" tuturnya dengan wajah di tekuk.
"Ferdi tak mungkin meminta sesuatu yang tak mungkin menurutnya. Papa lah yang menaruh harapan besar terhadap Ferdi karena papa yakin Ferdi bisa menjagamu. Dia tak mungkin berani menyentuhmu ,tak seperti si Jerry itu yang sudah kenyang menciumi bahkan lebih dari itu padamu. Dan kamu harus tahu, papa dan mama menyayangi mereka karena kami ingin balas budi dan karena mereka yatim piatu. kamu sudah menghancurkan semuanya. Yang pintar jadi wanita, Jangan membuang berlian hanya demi batu kerikil. Paham." tutur Tuan Antoni sambil berlalu dari kamar Adinda dengan perasaan marah.
Tak menyangka akan membuat papanya marah, ada penyesalan menyeruak di hati Adinda. Dia pikir dengan kepergian trio bersaudara itu akan membuat hidupnya menjadi tenang. Nyatanya kini ia menjadi bulan - bulanan kemarahan orang tuanya.
__ADS_1
Sementara Nyonya Rossy sedang berada di kamar Ferdian. Ia melihat poto Ferdian sedang menemani Tuan Antoni seminar. Dengan memakai jas membuat aura ketampanan Ferdian terlihat. Ia membuka lemari baju yang tadi pagi masih terisi , tapi sekarang sudah kosong. Tatapannya kini tertuju pada laci lemari itu, dibukanya dan terlihat ketiga ponsel dan sejumlah uang pemberian nya waktu.
"Ya tuhan . Ferdi , Ana , dan Lucy .... Maafkan tanteu nak, kenapa kalian pergi. Kemana kalian nak... hik hik hik..." suara tangis nya terdengar sampai ruang tamu membuat Tuan Antoni mendengarnya dan langsung menghampirinya.
"Loh mama kenapa kok nangis disin mah. Are you oke?" tanya Tuan Antonie sambil memegang bahu sang istri.
"Lihat pah. Mereka meninggalkan ketiga ponsel ini dan juga uang ini. Mama takut mereka kelaparan di jalan. mereka tak ingin membawa pemberian kita, sampai baju - baju nya yang kita berikan tidak mereka bawa. Pah kita harus cari mereka" tutur Nyonya Rossy.
"Besok kita cari ya ma. Sekarang kita harus istirahat. Kepala papa rasanya mau pecah" uvap Tuan Antoni seraya membawa istrinya keluar dari kamar Ferdian.
Sementara sang pelaku utama yaitu Adinda hanya ngintip saja di belakang kursi agar tidak terlihat oleh ledua orang tuanya.
"it's oke Adinda. Tidak akan ada lagi yang akan menggangu hidupmu. Persetan dengan perjodohan itu. Dan kasih sayang papa/mama hanya untuk ku saja" seloroh Adinda dengan bibir tersungging.
Pagi seperti biasa Bi Omah Sibuk dengan pekerjaan dan kedua orang tua nya sibuk untuk berangkat ke kantor.
"Adinda belum keluar bi?" tanya Nyonya Rossy di sela - sela sarapan paginya.
"Belum nyonya. Nona Dinda sepertinya masih tidur, Wong biasanya jam segini juga belum bangun nya." jawab Bi Omah sambil terkekeh.
"Sifat dia makin sesini makin kesana pah. Mama sudah cape bicara terus. Di umur yang udah 25 tahun ia seharusnya sudah bekerja ataupun menikah ini untuk bangun pagi pun susahnya minta ampun" ucap Nyonya Rossy pada suaminya.
"Tau lah mah. Mungkin dia mau jadi pengangguran terus sampai tua." jawab Tuan Antonie ketus..
ketika sedang di omongin oleh orang tuanya, tiba - tiba Adinda pun datang menuruni tangga dengan wajah yang kusut dan rambut acak - acakan.
__ADS_1
"morning ma. morning pa. lapar pah minta rotinya ya " ucap adinda sembari mengambil roti lalu duduk di meja makan.
Melihat itu Tuan Antoni dan Nyonya Rossy hanya mampu geleng - geleng kepala.