Kebebasan ADINDA

Kebebasan ADINDA
Masuk Rumasakit


__ADS_3

Brughhhhhhh, seketika tubuh Tuan Katris tumbang. Penyakit jantung nya kambuh lagi dan semua orang disana merasa terkejut, tetapi berbeda dengan Cakra yang berlalu tanpa menoleh kepada sang ayah yang sudah tersungkur sambil memegangi dadanya nyang terasa di hujan seribu samurai.


"Tolong semua Tolong, kemari cepat. Tuan Katris pingsan" ucap salah satu pengawalnya. Mendengar keributan di lantai bawah membuat seluruh pegawai di rumah itu lari ketar- ketir. "Cepat panggil ambulance sekarang Bambang" ucap Noor seorang kepala ART yang sudah senior.


¥


¥


Sementara di tempat tinggal Ferdian, Dia sedang mencari kayu bakar di hutan. Ketika sedang menebas bambu, tanpa di sengaja jempol tangannya ikut tersayat golok tajamnya. " Aucccccchhhhh~~~ Kenapa ku bisa melamun gini. Dan kenapa tiba- tiba perasaan ku gak enak gini sih, apa ada yang terjadi dengan Ana dan Lucy" ucap Ferdian gamang. Pulang lah dia dengan membawa sepanggul kayu bakar menuju gubuknya,guna memastikan keadaan kedua adiknya.


Sesampainya di rumah, Dia mendapati Ana yang sedang menangis. " Ana kamu kenapa? siapa yang buat kamu menangis? atau abang buat salah kepadamu An?" tanya Ferdian dengan risau.


" Sejak tadi pagi kak Ana menangis terus bang, aku pun bingung" ucap Lucy sembari menitikan air mata, dia bingung melihat kakaknya yang dari tadi terus saja menangis dan memanggil kata “Kakek".


"Dek ceritakan pada kami kenapa kamu seperti ini?" tanya Ferdian.


"semalam aku mimpiin kakek, kakek tengah berdiri di ujung jurang bang yang di bawahnya penuh dengan lahar panas, terus tiba-tiba, tubuh kakek di dorong oleh seseorang sampe kakek tercebur~~hikhikhik" ucap Ana dengan tangisnya.


"Sudah An, itu cuma mimpi saja. Kita do'a kan yang terbaik saja untuk kakek kita di Jakarta sana. Mungkin kita sudah takdir harus hidup di hutan seperti ini. Yang abang takutkan jika om Cakra mengetahui tempat tinggal kita disini" ucap Ferdian gusar.


" Apa kita sebaiknya pindah saja dari sini dan mencari tempat tinggal yang baru" ucap Lucy.


"Tapi kalau kita pindah dari ini, abang tidak punya uang lagi dek, uang abang habis dipakai ongkos dari Jakarta kemari" jawab Ferdian.


"Soal uang, abang tak perlu khawatir. Aku masih menyimpan uang Pemberian Tanteu Rossy. Aku sengaja membawanya, karena aku yakin kita akan membutuhkan ini bang" tutur Ana disela tangisnya.


"An kenapa bawa uang dari mereka. Bagaimana kalau Adinda mengetahui nya, bisa di kira kita maling di rumahnya" ucap Ferdi dengan raut muka yang tak suka.


"Sudah lah bang, jangan sebut nama dia lagi. Dia sudah jahat sama kita kok, dia tega usir kita. Lagian dia kan gak tahu aku di kasih uang sama mamanya. Ini sudah jadi milik kita bang. Abang jangan sok gak butuh ya bang, terima ini untuk kebutuhan kita" ucap Ana dengan sedikit nada ketus. Sambil menyodorkan uang tiga juta rupiah kepada kakanya.


"Banyak juga kak" ucap Lucy.

__ADS_1


"Banyak lah, ini uang jajan kakak dari Tante Rossy. Kamu juga sama dek, kalau kamu gak nurutin bang Ferdi untuk meninggalkan semua barang yang sudah milik kita , pasti kamu juga banyak uang" jawab Ana sedikit kesal pada kakanya.


"Huuuhhhhh, gara-gara bang Ferdi sih nyuruh aku buat taro Hp dan uang jajan itu jadi kan aku gak punya uang" ucap Lucy sembari memonyong kan bibir.


" Itu bukan milik kita dek. dan ingat ya, jangan pernah benci sama kak Dinda, biar bagaimanapun dia yang sudah bawa kita ke Jakarta, menampung kita, dan sudah mempertemukan kita dengan keluarga kita, Sudah ya dari pada kita tegang-tegangan kaya gini, meningan kita makan saja" tutur Ferdian.


¥


¥


Di rumasakit, Tuan Katris masih berbaring tak sadarkan diri. Penyakit jantung nya kali ini kambuh sangat parah. Mendengar sang papa masuk rumasakit membuat Cakra panik, dia segera datang menuju rumasakit beserta istrinya.


"Mas, kenapa papa bisa kambuh lagi sih jantungnya?" tanya Selly.


"Gak tahu" Jawab Cakra singkat. Dia berbohong pada istrinya jika yang menyebabkan sakit mertuanya adalah dirinya sendiri. Dia tak ingin mendengar kebawelan Selly yang pasti akan bertanya terus menerus.


"Lagian aneh deh mas, kan sekarang anak papa itu cuma kamu, Mas Pratama kan sudah mati, anak nya pun kita gak tahu dimana" ucap Selly.


"Kita harus bicara dengan Pak Antoni, Jangan biarkan papa berkumpul dengan ketiga cucunya. Kalau itu terjadi kita akan kehilangan semuanya dan kita akan masuk penjara mas" ucap Selly dengan mimik wajah ketakutan.


"Kau saja yang masuk penjara. Lagian yang meracuni mereka dulu kan kamu. Aku sih cuma di belakang layar saja...Hahaha" seloroh Cakra sambil tertawa tanpa dosa.


"Oh tidak bisa seperti itu dong mas. kamu juga harus ikut. Kamu itu dalangnya" senggah Selly geram pada suaminya.


Disela keributan di mobil, Cakra tak sengaja menabrak sesuatu.


Ckettttttttt......Brugggghhhhhhhhhh.


Diikuti suara seorang lelaki..." Aduhhhhh sakit" ucap si lelaki tadi.


kemuadian keluarlah Cakra dan Selly dari dalam mobil. Melihat seorang lelaki Tua dengan sorban dan gamis putihnya yang sedikit terkena darah terjungkal di sisi trotoar. Bukannya menolong, Cakra malah memarahi lelaki itu dengan bengis.

__ADS_1


"Bagaimana sih kamu heh. Jalan itu pake mata bukan pake dengkul. Lihat mobil saya jadi lecet begini. Saya yakin orang miskin seperti mu tak mampu ganti kerugian ini" bentak Cakra.


"Apa kamu tak salah bicara nak? saya yang kamu tabrak dan saya terluka, demi tuhan jikalau saya salah saya akan meminta maaf, tapi saya tidak bersalah dan kamu malah memaki orang tua renta seperti saya" lirih pak tua dengan wajah sabarnya.


"Sudah mas, keburu bayak orang kemari. kasih saja uang buat da berobat, bereskan masalah kita dan kita pergoli dari sini" ucap Selly dengan wajah sombongnya.


Di rogoh lah uang seratus ribuan tiga lembar dari saku jasnya, lalu di lempar ke arah wajah lelaki tua itu dengan keras dan kasar.


"Ambil uang itu dan cepat pergi" titah Cakra sembari menunjuk ke arah sana.


Melihat perlakuan Cakra padanya, membuat seketika lelaki tua itu bangkit dan menatap lekat ada Cakra dan Selly.


"Hati-hati dengan segala ucapan dan tingkah laku kalian kepada sesama manusia. Sekecil apapun dosa atau kebaikan, pasti akan di balas oleh tuhan. untuk mu ( menunjuk ke arah Cakra) hentikan penyakitmu terhadap zina dan minuman keras sesungguhnya suatu saat nanti penyakit sesungguhnya sudah akan menjadi hak mu. dan untukmu ( Menunjuk ke arah Selly) Basuh lah jiwamu dengan bertobat. Tangan mu sudah terlalu kotor sampai berani membuang hak hidup orang lain, jiwamu akan senyap. Untuk apa dunia jika kalian tidak ada keturunan. Maka harta yang selama ini kalian susah payah kumpulkan akan kembali kepada yang berhak" tutur lelaki tua itu sambil memegang tangannya yang terluka.


Degggg.. Perkataan itu membuat Cakra dan Selly seakan di sambar berjuta - juta volt listrik, Bergetar dan seakan membakar jiwanya. Menyadari semua yang di katakan lelaki tua itu benar membuat Cakra seketika merasa bergidik.


"Ayo kita masuk mobil" ucap Cakra pada sang istri.


"Ayo mas".


Tanpa meminta maaf, dia langsung tancap gas dan meninggalkan lelaki tua itu yang masih kesakitan.


" Ampuni mereka ya allah, semoga mereka bisa segera bertobat" ucapnya lirih.


Tak lama orang-orang menghampiri lelaki itu.


"Astagfirullah pak kyai. Pak kyai bisa seperti ini kenapa? Apa kita bawa saja pak kyai ke rumasakit?"


" Aku tak apa-apa. Aku hanya terjatuh saja. Bawa saja aku ke rumah ku" ucapnya.


Dibawalah lelaki tua itu ke rumahnya...

__ADS_1


__ADS_2