Kebebasan ADINDA

Kebebasan ADINDA
Kebusukan Cakra


__ADS_3

Perjalanan jauh telah mereka tempuh dan akhirnya mereka sampai di kota. Mobil jemputan yang akan membawa mereka ke Jakarta sudah menunggu.


"Ayo kita menjemput impian kalian bertiga" seru Adinda ketika sudah ada dalam mobil itu.


"Kami siap laksanakan" jawab trio bersaudara dengan kompaknya.


¥


Di kediaman Cakra, dia sedang mengamuk dan melempar apa saja yang dia temui. Cakra sangat marah ketika dia tidak menemukan apa yang di inginkan di rumah sang papa. Selly melihat itu menjadi histeris, pasalnya guci kesayangannya yang dia beli dari Italia sewaktu dirinya berlibur ke gunung Vesuvius.



"Arggghhhhhhhhh~~Keterlaluan kamu mas! Kenapa merusak guci kesayangan ku" bentak Selly sang istri.


"Si@lan semua gara-gara anak dari mas Pratama! Kenapa mereka bisa masih hidup dan Rosid orang yang aku suruh membunuh mereka tidak berhasil. Kita akan miskin" geram Cakra sembari melempar piring keramik berukir naga ke dinding.


"Sudah hentikan! Hen-ti-kan ku bilang" ucap Selly dengan melempar air ke wajah Cakra.


"Dasar istri stres kau ya! Beraninya kau melempar air ke wajah ku" ucapnya sembari memegangi tengkuk Selly dengan kasar.


"Lepaskan aku dasar suami Binatang!" geramnya sembari mendorong badan Cakra sampai menabrak dinding. Hal itu di manfaatkan Selly untuk kabur.


"Kamu mau kemana istri si@lan? Bantu aku berdiri" Cakra terus saja berteriak.


"Tak sudi, mendingan aku pergi arisan dengan geng sosialitaku" jawabnya sembari masuk ke dalam mobil.


Di sebuah resto, Genk sosialita Selly sudah datang untuk arisan. Seperti biasa ibu-ibu di belahan dunia manapun, bergosif selalu menjadi kegiatan di segala suasana dan kondisi.


"Jeng mayang, Sudah tau ceritanya jika jeng Selly menjadi korban KDRT suaminya?" tanya jeng Pelita.


"Ho'oh tuh, kasar banget suaminya! Katanya sih gara-gara tidak punya anak sampai sekarang" jawab jeng Mayang.


"Kasian ya dia! Tapi kalau bicara sih jeng Selly selalu nutupin kebusukan lakinya!" timpal jeng Melly.


"Iya, padahal kita tahu kalau suaminya itu tukang selingkuh, mabuk-mabukan dan kasar. Saya sih kalau punya suami kaya begitu bakal langsung di buang ke laut. Mana sudah aki-aki lagi suaminya" seloroh jeng Indri.


Tak lama, Selly pun datang. Wanita yang masih terlihat cantik walau usianya tak muda lagi.


"Hai jeng maaf telat!" ucap nya sembari mendudukan bokongnya di kursi.


"Tak apa-apa jeng santai saja" jawab Jeng Indri.


Arisan pun di mulai dan tak lama selesai.


"Khusus untuk jeng Selly ada bonus spesial untuk mu! Mau gak?" tanya jeng Mayang.


"Apa itu jeng?" jawabnya.


"Arisan brondong!" ucapnya spontan.


"Apa? Tidak, tidak! Aku setia sama suamiku. Akh jeng Mayang ada-ada saja nikh" ucap Selly.


"Kita sih hanya merekomendasikan saja pada mu jeng Selly! Siapa tau kan berminat. Kita tahu kok usia-usia seperti kita ini butuh belaian dikala suami kita sudah loyo atau sibuk bekerja! Betul kan?" ucap Jeng Mayang yang di angguki oleh semua geng sosialita itu.


"Wah bagaimana ya!" Selly seperti tertantang untuk mencoba itu.


"Ya kita tidak maksa kok! Jeng kami semuanya juga punya brondong tahu. Mereka pria muda yang masih berstamina tinggi mampu memuaskan kita di ranjang, bukan seperti suami kita sudah loyo, buncit dan tidak sedap di pandang" ungkap jeng Mayang.


"Ada potonya?" tanya Selly.


"Saya punya poto brondong itu. Namanya Alex Damian. Pria keturunan Polandia! Bule jeng pasti gedong burungnya!" ucap Jeng Indri sembari memperlihatkan poto Damian yang tampan.

__ADS_1


"Tampan sekali! Ya saya mau. Tapi rahasia aman kan jeng gak ada yang ember kan disini?" tanya Selly.


"Rahasia di jamin aman karena kita pun sama. Apalagi tuh brondong punya jeng Chika orang Honduras keturunan Afrika ukh Black Mamba jeng bukan lagi" Timpal Jeng Rahma.


"Bukan Black Mamba sih, tapi tepatnya Anaconda Amazon! Ukh gede banget saya sampe menjerit-jerit" ucap Jeng Chika.


Semua yang ada di meja itu kemudian tertawa terbahak-bahak.


"Tapi perawatan mereka mahal gak sih?" tanya Selly.


"Ya tergantung servis sih! Ada yang minta lima puluh juta satu bulan ada juga yang sekaligus minta apartemen! Tapi kita senang aja. Biarkan suami kita yang cari duit, kita mah yang senang-senang. Kita juga kan tidak tahu dia seperti apa di luaran sana" ucap Jeng Chika.


Selly pun meminta no Damian untuk di ajak berkencan.


"Oh Damian! Come to mama" gumannya dalam hati.


¥


Setelah menembus perjalanan yang sangat melelahkan, akhirnya Adinda dan trio bersaudara sampai di kediaman Tuan Katris.


Kedatangan mereka di sambut haru oleh si tuan rumah.


"Selamat datang di kediaman kakek, cucuku! Pasti kalian sangat lelah kan? Ayo masuk" perintah sang kakek.


"Kakek aku rindu pada kakek!" Seru Lucy.


"Oh sayang cucuku! Kakek pun sama merindukan kalian juga.


" Dan untuk mu, terimaksih sudah berhasil membawa ketiga cucuku. Kakek berhutang banyak padamu" ucap Tuan Katris pada Adinda.


"Siap komandan dan misi telah selesai" jawab Adinda dengan senyuman.


"Yasudah kalian pasti lelah kan? Sebaiknya mandi dan istirahat ya. Kamar kalian semua ada di atas dan sudah di bersihkan" ucap Tuan Katris.


"Yasudah. Supir Kakek akan mengantarmu pulang" ucap Tuan Katris.


Andinda pun pulang, tetapi ketika ingin masuk ke dalam mobil, Ferdian menyusulnya dan langsung mencium bibir Adinda sekilas.


Cuppp!!!


"Nanti malam aku ke rumahmu ya sayang! Jangan dulu tidur" ucap Ferdian sembari memeluk wanita tersayangnya.


"Ya aku tunggu ya! By sayang" jawab Dinda dengan mendaratkan satu kecupan di pipi Ferdian.


Tak sangka Tuan Katris melihat itu dan geleng-geleng kepala.


"Dasar anak muda! Bahaya ini, aku akan mendatangi Pak Antoni untuk melamar dia jadi calon istri cucuku" kelakar Tuan Katris.


Malam pun tiba, trio bersaudara itu di panggil ke meja makan untuk makan malam dan membicarakan masalah warisan.


Skip


Kakek akan memberikan hak kalian bertiga atas semua peninggalan ayah kalian.


Berhubung kau Ana dan Lucy masih belum mampu menjalankan semua perusahaan, maka Kakek akan memberikan tugas itu padamu Ferdian. Kau akan ku didik untuk bisa seperti ayahmu! Mulai besok kau menjabat sebagai CEO di perusahaan itu mengantikan paman mu Cakra! Dia sudah tidak punya hak atas perusahaan itu. Selama ini kakek membiarkan dia semena-mena karena kakek belum bisa menemukan kalian, tapi sekarang kalian sudah ada dan kalian lah yang wajib memimpinnya" ucap Tuan Katris bersungguh-sungguh.


"Tapi Kek, aku takut pada om Cakra. Dia itu jahat Kek. Bahkan jika Kakek tahu kebusukannya aku takut serangan jantung mu akan kembali kumat" Ferdian mengatakan itu dengan kepala tertunduk.


"Aku ingin mengetahuinya sekarang!" tegas Tuan Katris.


"Kakek sabar saja! Suatu saat juga akan tahu" jawab Ferdian.

__ADS_1


"Baiklah aku tidak memaksa! Kau jangan takut pada dia, kau ini pemilik perusahaan itu. Hadapi dia kalau bisa kelahkan dia! Ganti strategi di perusahaan kamu dan adakan perombakan untuk semua karyawan agar perusahaan yang kau jalankan bisa menjadi perusahaan yang paling maju. Aku akan memberikan buku strategi berbisnis milik ayahmu" Tuan Katris menjelaskan itu dengan semangat berapi-api.


"Baiklah kek! Aku bersedia dan akan menghadapi om Cakra" Jawab Ferdian.


Prok! Prokk! Prokk.


Suara tepuk tangan menggema di ujung pintu masuk. Cakra dan Selly datang dan memenaskan suasana rumah megah itu.


"Sudah datang rupanya keponakan om ya" ucapnya mencibir.


"Mau apa kau kemari Cakra?" tanya Tuan Katris.


"Santai pa! Aku hanya ingin melihat ketiga keponakan ku yang sangat lucu" jawabnya dengan bibir tersungging.


"Om Cakra bagaimana kabar mu? Kami belum mati seperti yang om harapkan bertahun-tahun yang lalu" ucap Ferdian berani.


"Oh keponakan ku, hidup di hutan bagai monyet ternyata bisa mempengaruhi sifatmu menjadi urakan dan tidak sopan padaku rupanya" seloroh Cakra.


"Ya memang! Tapi sifat monyet yang tamak, culas dan serakan ada pada diri mu om" timpal Ferdian.


"Breng$ek kau berani mengataiku" Cakra maju dan mencengkram kerah baju Ferdian.


"Kau yang breng$ek! Kau tega membunuh saudara sendiri, lalu mengusir anaknya demi sebuah jabatan dan harta! Sungguh luar biasa manusia yang sangat bedebah. Tempat mu adalah neraka" geram Ferdian dengan menghempas cengkraman Cakra.


Hal itu membuat Tuan Katris sangat terkejut.


"Apa kau bilang membunuh saudara? Pratama ayahmu dan ibumu?" tanya Tuan Katris dengam mata berkaca-kaca.


"Betul itu kek! Aku saksi hidup atas kekejaman mereka berdua! tanteu Selly yang memasukan racun sianida kedalam minuman ayah dan ibu atas perintah om Cakra" ungkap Ferdian.


"Tidak! Papa jangan percaya anak ini. Dia bohong dia mengada-ada. Saya tidak pernah melakukan itu" ucap Selly dengan badan gemetar.


"Ya betul! Mana berani aku melakukan itu pa! Anak ini membuat sandiwara. Papa jangan percaya" ucap Cakra dengan wajah yang sudah di penuhi keringat sebesar biji jagung.


"Mana ada maling ngaku! Saat itu dia mengusirku tanpa memberikan uang sedikitpun. Saat itu Lucy sepanjang jalan menangis ingin menyusu dan aku tidak punya sepeserpun uang. Dia sungguh manusia yang kejam" ungkap Ferdian dengan Amarah membuncah.


"Jika kau menuduh kami berdua, mana buktinya mana?" ucap Cakra dengan nada tingi menggelegar.


"Saat ini memang aku tidak ada bukti atas kejahatan dan keberutalan kalian tapi lihat saja aku akan membuktikannya. Kau akan menerima hukumannya om! Camkan itu. Dan kalian harus ingat tuhan tidak memberikan kalian kerutunan karena itu karma sebab kau sudah menelantarkan kami" Ferdian lalu menarik kerah kemeja Cakra.


"Aku akan buat kau menjadi pesakitan dan membayar semua kesalahan pada kami" geram Ferdian.


"Awas saja kalau kau berani aku akan menghancurkan hidup kalian bertiga!" ucap Cakra dengan tatapan tajam.


"Aku tidak takut karena ku benar!" jawab Ferdian yang menghempaskan tubuh Cakra.


Mereka berdua pun pergi dari rumah itu dengan perasaan yang sangat dongkol.


"Apa benar yang kamu katakan?" tanya Tuan Katris.


"Apa kakek menemukan kebohongan pada diriku? Itu kenyataan kek! Ayah di bunuh oleh mereka dan aku di usir" ungkap Ferdian.


"Aku tidak menyangka Cakra akan seperti itu. Aku harus usut lagi kematian anaku. Tapi waktu itu hasil autopsi nya mengatakan jika orang tuamu terkena serangan jantung" Tuan Kartis berbicara sembari menahan pilu di hatinya.


"Tidak kek! Memang serangan jantung bisa membuat mulut si penderita berbusa?" tanya Ferdian kembali.


"Ya ampun kenapa aku bisa tidak sadar saat itu bahwa mulut Pratama dan ibumu di penuhi busa! Saat itu aku terlalu panik dan tidak memperhatikan itu. Ya tuhan kenapa aku sebodoh ini" ucap Tuan Katris.


"Apa kakek masih menyimpan surat keterangan autopsi orang tuaku?" tanya Ferdian.


"Masih! Aku begitu rapih menyimpan itu" jawabnya.

__ADS_1


"Aku ingin melihatnya, aku ingin tahu siapa dokter yang menautopsi orang tuaku, mengapa dia berani bersandiwara? Mudah-mudahan dokter itu masih hidup dan ingat! Aku akan mendatanginya kek!" tutur Ferdian dengan tangan terkepal.


"Baiklah nak, Kakek merestuimu. Semoga kita bisa bisa menemukan titik terang atas kematian orang tuamu ya. Kakek juga akan kembali mengadakan penyelidikan


__ADS_2