
Cakra menjadi kelabakan karena sang papa menangkap basah aksi memalukannya.
"Papa" ucapnya terbata.
"Jadi selama ini kelakuanmu seperti pria bajingan? Pantas semua perusahaan yang aku berikan padamu semuanya hancur Cakra. Aku tahu kau selalu menghabiskan uangmu dengan memacari gadis muda kan? Dasar manusia sampah" umpat Tuan Katris.
"Pergi kau dari hadapanku" ucapnya kembali sembari menunjuk pada gadis muda yang ada disamping Cakra.
Gadis muda itu pun langsung terbirit-birit karena takut dengan Tuan Katris.
"Pa maafkan aku" ucap Cakra.
"Pulang kau sekarang" bentaknya.
ia pun terlebih dahulu berbicara dengan Ana dan Lucy agar pulang di antar supir saja karena ia akan pulang terlebih dahulu.
Lain hal nya dengan Selly. Wanita paruh baya itu sedang sangat liar dikuasai nafsu birahi.
Seakan tak ada lelahnya bagi wanita seusianya selalu menghabiskan waktu panas dengan kekasih berondongnya.
Pikiran akan sang suami, Cakra sudah seakan terhapus.
"Damian, tante sudah tidak kuat lagi...achhhhhh" ucap Selly terengah dengan aksi liar Damian.
"Aku sampai sayang" Damian menghentak semakin cepat dan tak lama tubuhnya terkulai.
Peluh bercucuran dari kedua insan manusia mengumbar hawa nafsu itu. Seakan tidak sadar bahwa malaikat maut mengawasi hidup manusia setiap jamnya.
"Tan, aku sangat puas" ucap Damian.
"Aku pun sama sayang. Kamu begitu pandai membuatku terus menjerit" balas Selly.
Mereka pun mengubah posisi dengan saling berhadapan.
"Bagaimana jika suamiku tahu" ada setitik kesedihan di wajah Selly. Mungkin bisa di sebut juga perasaan berdosa.
"Tante tenang saja. Jikapun suamimu tahu perselingkuhan yang kita lakukan, maka aku akan menikahi mu" ucap Damian sembari memeluk Selly.
Mereka berdua pun lalu mandi berdua.
Plakkkk!!!!
Plakkkkk!!!!
Plakkkkkkk!!!
Suara tamparan menggema dikediaman Cakra.
"Sudah pa sudah" ucap Cakra mengiba.
"Bagaimana Tuan, sudah hukuman untuk putra anda?" tanya bodyguard Tuan Katris yang saat ini tengah memukuli Cakra.
__ADS_1
"Tak ada yang boleh berhenti. Cambuk dia agar menjadi pria yang baik dan bertanggung jawab" titah Tuan Katris.
Plassssss!!!
Plassssss!!!
Plassssss!!!
Sebuah cambuk mendarat dipunggung Cakra.
"Sudah pa, aku tak tahan....Arghhhhhhhhh!!!! Bunuh saja aku sekalian biar papa puas" Jerit Cakra.
"Stop, hentikan. Jika kau sekali lagi begitu, aku akan membunuhmu sia*an. Obati lukamu sendiri" ucap Tuan Katris geram.
"Ayo tinggalkan dia sendiri. Kalian bisa pergi" perintah Tuan Katris.
Tuan Katris pergi bersama keempat bodyguardnya.
Kini tinggallah Cakra yang meraung kesakitan seorang diri.
Tak ada kata kejam dalam hidup Tuan Katris, hanya ada kasih sayang dan pengorbanan pada keluarganya. Tetapi jika prinsip itu di nodai maka akan membuat gelombang amarah dan berakhir kekejaman seperti yang Cakra alami.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Seseorang mengantarkan sebucket bunga keruang kerja Adinda.
"Dari siapa bunga ini, Mariska?" tanya Adinda pada pegawainya.
"Yasudah kamu bisa kembali ke meja kerjamu" perintah Adinda.
Tangannya terulur mengambil bucket bunga itu lalu menciumnya.
Dalam hati, siapa yang mengirimkan kejutan untuknya. Saat sedang menikmati harusnya bunga itu, tiba-tiba ponselnya berdering tertulis no baru di sana.
Dengan enggan, ia pun mengangkat telepon itu.
"Hallo. Siapa ini?" tanya Adinda.
Diam, tak ada sahutan hanya terdengar helaan nafas berat dari seberang telepon.
"Bagaimana kabarmu, sayang?" sebuah pertanyaan yang seketika membuat jantung Adinda bertalu kencang.
"Kau?" Adinda tak mampu mengucapkan kata.
"Ya ini aku. Aku merindukanmu Dinda! Bisakah kita bertemu" ucap pria itu.
"Jerry, seharusnya kau tidak pernah menghubungiku kembali. Kita sudah selesai" ucap Adinda dengan emosi membuncah.
Dalam hatinya, tak ada kata maaf untuk seorang mantan yang telah banyak menyakitinya ditambah lagi Adinda harus menelan pil pahit kala mengetahui Jerry telah berselingkuh dan menghamili seorang wanita.
"Kenapa aku tak boleh menghubungimu, hem? Sedangkan aku, aku jujur saja tak bisa melupakanmu" suara Jerry terdengar pilu.
__ADS_1
"Persetan dengan ucapanmu Jerry. Seharusnya kau menjaga istrimu bukannya menghubungi wanita di masa lalumu" balas Adinda.
"Aku dan dia sudah bercerai. Anak kami meninggal. Aku mau kita bisa memulai ya dari awal. Aku janji akan bisa mengambil hati Om Antoni jika kau mau bersamaku lagi. Dinda please berikan aku kesempatan" ucap Jerry memelas.
"Aku tidak peduli. Tapi harus ku peringati jangan mengganggu hidupku lagi karena aku akan menikah" sesudah mengatakan itu, Adinda langsung mematikan panggilan telepon itu dan langsung memblokir no ponsel Jerry.
"Arghhhhhh si*l. Siapa bajingan yang sudah merebut Adinda ku" Jerry frustasi langsung melemparkan handphonenya ke sembarang arah.
Sementara di ruang kerja Ferdian, ia sedang marah-marah pada seluruh staf wanita yang berpakaian seksi. Matanya jengah melihat para karyawan wanita selalu mengumbar lekuk tubuhnya. Ferdian bukannya tidak merasa tegang melihat wanita-wanita seksi berseliweran di kantornya, ia juga seorang pria normal tetapi ia ingin melihat wanita tampil sopan dan ingin melihat para wanita menghargai tubuhnya sendiri.
"Sudah saya bilang jika ke kantor jangan pakai pakaian seksi. Saya jengah melihatnya. Kalian itu wanita seharusnya lebih menghargai setiap jengkal yang ada didalam tubuh kalian" ucap Ferdian kesal.
"Maaf Pak Ferdi, tetapi kantor ini sudah menerapkan itu dari sewaktu Pak Cakra masih memimpin" celetuk seorang staf pemasaran yang memakai baju sangat ketat.
"Itu kan dia. Sekarang yang memimpin perusahaan adalah saya. Saya buka atasan cabul. Saya lebih suka melihat wanita sopan dengan pakaiannya. Ingat ya, dengan memakai baju ketat seperti itu kalian lebih mirip lontong" bentak Ferdian.
"Baiklah jika begitu, kami akan memakai baju lebih sopan terhitung besok" ucap semua staf .
"Bagus, lebih baik saya melihat kalian pakai piyama dari pada melihat kalian begini. Wanita itu harus menjaga tubuhnya, paham! Satu lagi tingkatkan pekerjaan kalian dan katakan pada bawahan kalian mulai besok jangan lagi memakai pakaian kurang bahan saya jijik melihatnya" ucap Ferdian.
Sesudah mengatakan itu semua staf satu-persatu meninggalkan ruang kerja Ferdian.
Lalu mata Ferdian melihat kearah asprinya yang berpakaian seksi terlihat belahan gunung kembar bergelayut manja seakan menantang kerasnya dunia.
"Dan untuk mu Mitha, berpakaian lah yang sopan jika masih ingin bekerja dengan saya" ucap Ferdian dengan nada dingin.
"Baiklah Pak" jawab Mitha.
Niat hati ingin menggoda bosnya itu, malah tidak suka melihat dirinya.
Sore harinya, Adinda menjemput sang kekasih di kantornya. Para staf langsung menunduk memberi hormat karena mereka tahu jika Adinda kekasih Ferdian.
"Pantas Pak Ferdi tidak suka wanita seksi, lah wong pacarnya saja tidak seksi" ucap Lina seorang staf keuangan.
Ya saat itu ketika Adinda datang ke kantor Ferdian memakai stelan kantor celana bahan panjang beserta baju kemeja juga panjang. Tak ada lekuk tubuh ataupun bagian tubuh yang terbuka mengingat dirinya seorang wanita yang sedikit tomboy tidak suka berpakaian seperti itu.
"Sore my love" ucap Adinda di ambang pintu.
"Hai!!! kemarilah wanitaku, aku sangat merindukanmu" balas Ferdian sembari merentangkan kedua tangannya.
Adinda memeluk tubuh kokoh itu, menciumnya lalu duduk di pangkuan Ferdian.
"Kenapa kemari, hem?" tanya Ferdian yang semakin mengeratkan pelukannya pada Adinda.
"Aku ingin menjemputmu! Oh ya bagaimana perkembangan belajar menyetirnya?" tanya Adinda sembari mengacak-acak rambut Ferdian dengan gemas.
"Sedikit mengalami kesulitan, tetapi semuanya bisa ku atur. Mungkin seminggu lagi aku lancar menyetir" jawab Ferdian.
"Yasudah kita pulang saja" ajak Adinda.
Ferdian pun hanya mengangguk patuh.
__ADS_1