
Di Jakarta, Adinda sudah tak sabar ingin sekali bertemu mama nya. Ia ingin memeluk dan meminta maaf pada mama ya.
Tok tok tok.
Bi Omah segera membukakan pintu, dan betapa terkejutnya, yang ada di hadapannya ternyata Adinda.
"Non Dinda, alhamdulillah non pulang dengan selamat.Bbibi selalu nangis mikirin non, begitu juga dengan nyonya" lirih Bi Omah "Alhamdulillah Bi. Aku di tolong oleh mereka" jawab Adinda sembari mengenalkan mereka betiga.
Tak di sangka langkah ringkih keluar dari kamar, di lihatnya mamanya dengan badan yang kurus dan wajah pucat berbalut syal di lehernya tampak berbinar.
"Anaku Adinda. Mama rindu nak, syukur kamu pulang dengan selamat. Dan siapa mereka ini nak? tanya mama nya.
" Mereka ini yang menolong aku ma, merawat ku, dan mereka ikut pulang bersama ku ma, boleh ya mereka sementara ikut tinggal disini,?"tanya Adinda.
"Tentu boleh nak, kita hutang budi kepada mereka,.. terimaksih nak sudah menolong anak saya. Semoga kebaikan kalian di balas oleh tuhan" kata mama lirih.
"Iya sama- sama tanteu, kami senang bisa menolong anak tanteu, oh ya ,kenalkan nama saya Ferdian, ini adik saya no dua Ana, dan si bungsu kami Lucy, dan terimakasih tanteu sudah mengzinkan kami untuk ikut tinggal sementara disini" jawab Ferdian ramah.
__ADS_1
"Tak masalah. Ngomong - ngomong kalian mau di luar saja nih, ayo masuk,, Bi Omah segera masak ya ,kita kedatangan tamu istimewa,,,.." kekeh sang mama.
Melepas kerinduan antara anak dan orang tua membuat Ana sedikit sedih, ia yang tidak mendapat kasih sayang dari orang tua hanya bisa menitikan air mata nya,dan hal itu di ketahui oleh Ferdian "dek kamu kenapa,kok abang lihat kamu sedih " tanya nya heran
"gak papa bang, cuma nyesek aja liat kebersamaan ka Adinda sama orang tuanya, dan kita ...." tanpa melanjutkan bicaranya Ferdian segera memeluk adiknya.
"Sudah dek, kau kan punya abang, tak usah sedih. Sebentar lagi kita akan bahagia" jawabnya.
Malam semakin larut , Adinda tidak bisa tidur, duduklah iya di balkon kamarnya. Seketika ujung mata melihat Ferdian sedang termenung di bawah lampu taman ,,"Sedang apa dia disana, jadi serem gini, malam-malam, "gumam dalam hati.
Di temui lah oleh Adinda. Ketika itu Ferdian sedang melihat poto kakek nya di selembar kertas yang selalu dia rawat sejak kepergian nya.
"Fer, maaf aku menggangu mu, aku melihatmu disini dan aku mendengar ceritamu barusan,".
"Kamu kok disini? kamu dengar apa barusan,, maaf aku tadi belum ngantuk jadi putusin buat kesini" ucap Ferdian lesu.
"Fer, aku akan bantu kamu untuk bisa dapatin milik mu Fer. Kita lawan ketidak adilan. Kamu berhak bahagia," kata Adinda.
__ADS_1
"Aku terlalu takut, dan aku tidak yakin ," lesu Ferdian.
"Kamu harus yakin ,optimis ".
"Makasih Dinda. Besok aku akan mulai mengawasi kantor papa ku, dan boleh kan kamu menemaniku din?" tanya Ferdian yakin.
"Ayo" jawabnya.
Tak lama kemudian Ferdian spontan memeluk Adinda, dan Adinda pun merasa terpernjat, tetapi ia tak kuasa melepaskan pelukan itu, pelukan yang pertama dari seorang lelaki kecuali sang ayah, pelukan yang mengalirkan gelenyer hangat dalam relung hati nya.
"Astaga apa ini,"gumam nya dalam hati.
Sesaat sadar Ferdian melepaskan pelukannya.
"Maaf Din, aku tak ada maksud apa pun ,maafkan aku".
"Tak apa Fer" jawab nya santai.
__ADS_1
'Yasudah kita kembali ke rumah yo, aku mau istirahat ,"timpal Dinda..