
Di sebuah hotel, Selly sedang bercocok tanam dengan seorang pria yang lebih muda darinya. Hal yang pertama dalam hidupnya bercint@ dengan pria muda. Setelah bertahun-tahun dia tidak pernah di sentuh oleh Cakra membuat dia merasa kaku kembali. Tetapi sentuhan pria muda yang sedang mengungkungnya membuat dia merasakan terbang melayang.
"Yesssss Damian kau sangat pandai" Selly.
"Tante juga sangat memabukkan! Baru pertama aku mendapatkan wanita matang yang sangat seksi dan kencang.. Eummmmppphhhh" racau Damian dengan p*nggul masih menempa.
"Memangnya selama ini kau selalu mendapatkan yang bagaimana?" tanya Selly di sela-sela luapan g@ir@hnya.
"Semuanya Tante gendut, dan berkonde kadang sudah mau balsem" ucapnya dengan suara yang serak.
"Semakin cepat sayang!! Eumpppphhh Ya benar begitu terus sayang" racau Selly yang sudah di kuasai gair@h.
Saat ini wajah Cakra sudah tak di ingat lagi . Yang ada hanyalah wajah tampan yang sedang menari di atas nya dengan berpeluh keringat.
"Sayang Tante akan sampai" racaunya.
"Bersama sayang! Aku pun" ucap Damian yang tak mampu berkata apa-apa karena sesuatu di bawah sana meledak secara bersamaan.
Mereka berdua pun terkulai lemas.
"Tante sangat kuat" ucap Damian terengah.
"Kamu juga sayang sangat pandai memu@sk@n ku. Memang client mu yang lain bagaimana?" tanya Selly.
"Mereka hanya menerima saja apapun yang ku lakukan tanpa ada perlawanan beda dengan Tante yang sama-sama memberikanku kepuasan. Kadang client ku yang lain ada yang sampai pingsan karena tak kuat menghadapi ku" jawab Damian.
"Pantas saja pingsan kau kan spesialis melayani wanita yang usianya di atasmu" ucap Selly sembari mengeluarkan ponsel dari tasnya.
"Mana no rekening kamu Damian" tanya Selly.
"Aku tidak meminta bayaran padamu tan" ucap Damian sembari memandang lekat wajah Selly.
"Kau sudah melayaniku Damian! Ku harus membayar mu! Uang jajanmu nanti ku transfer" ucap Selly.
"Big no Tante! Aku tak butuh uangmu. Aku sebenarnya orang kaya tetapi aku seorang pria yang terobsesi oleh wanita yang lebih tua. Semacam odifus complex! Gairahku meningkat ketika melihat kerutan pada wajah wanita. Tante tidak perlu membayar ku cukup saling memberikan kepu@san saja bagaimana? Dan aku akan datang ketika Tante membutuhkan sentuhanku" tutur Damian.
"Apa kau tidak becanda? Kau ini tampan sayang! Pasti banyak wanita muda mengantre ingin kau tiduri tetapi kau malah memilih kami yang sudah tua" ucap Selly sembari mengelus rambut Damian dengan lembut.
Ada rasa bersalah hinggap di hatinya pada Cakra, tetapi mau bagaimana lagi selama ini Cakra selalu mendiamkannya dan tak menyentuhnya. Dia lebih memilih menyentuh j@l@ng di banding dirinya.
"Seperti yang ku katakan aku tidak menyukai wanita muda tan! Dan tubuhmu sangat enak dan kencang walau usiamu sudah matang. Aku suka ping*ulmu Tante, semua suka" ucap Damian.
"Kau terlalu berlebihan sayang" kekeh Selly.
Sesudah sama-sama membersihkan diri, keduanya keluar dari hotel dengan memakai masker di wajah masing-masing. Ketika Selly ingin memesan taksi, Damian menghentikan nya.
"Ayo pulang dengan ku tan! Aku akan mengantarmu pulang ke rumah mu" ucapnya sembari menarik tangan Selly dan membuka mobil sport miliknya. Selly pun duduk dengan anggun di sebelah Damian yang sedang mengemudikan mobilnya.
"Anak Tante berapa?" tanya Damian.
__ADS_1
"Aku belum punya anak" jawab Selly.
"Pantas masih kencang sekali" ucap Damian memuji.
"Kamu bisa saja Damian" balas Selly tersipu malu.
"Kenapa Tante mencari pelampiasan di luar? Suami masih ada kan?" tanya Pemuda itu.
"Suamiku masih ada tetapi dia tidak peduli padaku. Dia tidak pernah menyentuhku sudah hampir lima tahun dia tidak "menyiram ku"" lirihnya.
Damian hanya manggut-manggut mendengar cerita Selly.
"Kalau Tante boleh tahu apa pekerjaanmu sayang selain melayani wanita matang?" tanya Selly.
Damian kemudian memberikan kartu namanya dan hal itu membuat Selly terbelalak.
Damian Orlando Jhonson, CEO Orlando Grup. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa keuangan, properti dan pertambangan.
"Perusahaan suamiku pernah bekerja sama dengan perusahaan ini" ucapnya seakan tak percaya.
"Apa nama perusahaan suami Tante apa?" tanya Damian.
"PT. Mikarti Makmur" jawabnya.
"Oh ya aku ingat! Jadi pria tua arogan yang bernama Cakra Mikarti itu suami Tante?" tanya Damian seolah menyepelekan.
"Perusahaan itu sudah di ambang kehancuran dan saat itu dia meminta tolong padaku agar ku memberikan suntikan dana" ucapnya.
Selly hanya manggut-manggut saja.
Tak lama sampailah di halaman rumah Selly.
"Ini rumah Tante?" tanya Damian.
"Ya rumah ku. Terimakasih sudah mengantarku pulang" ucap Selly sembari mengelus pucuk kepala Damian.
Ketika selly ingin membuka pintu mobil itu, tangan Damian menarik tubuh Selly hingga terjatuh ke pangkuan pria muda itu.
Damian seketika langsung mencium bibir Selly dengan r@kusnya dan di balas oleh Selly dengan hal yang sama. Lama berciuman akhirnya Selly keluar dari mobil itu.
Ketika memasuki rumahnya, ternyata Cakra sedang duduk menunggunya dengan tatapan marah.
"Darimana saja kau baru pulang jam sepuluh malam?" tanya Cakra sembari berdiri.
"Aku habis berlibur dengan temanku ke puncak!" jawabnya asal.
"Kenapa kau tak izin padaku, hah?" tanya Cakra dengan mencengkram rahang Selly dengan kuat.
"Singkirkan tangan kotor mu Cakra! Kau selalu memperlakukan aku seperti Binatang. Kau selalu kasar padaku! Kau juga meniduri j@l@ng tidak pernah meminta izin padaku lantas aku pun tak akan meminta izin padamu ketika kemanapun aku akan pergi dengan semua temanku. Sudahlah Cakra aku cape ingin istirahat" Selly langsung masuk ke dalam kamar tanpa memperdulikan ocehan suaminya.
__ADS_1
"Si@l@n kau ya dasar istri tidak berguna" makinya.
Pagi harinya Cakra duduk di meja makan untuk sarapan sebelum dia berangkat kantor. Rumah yang sunyi senyap seperti tidak ada kehidupan. Tidak ada tangis atau tawa seorang anak kadang membuat Cakra ataupun Selly meradang. Sebenarnya antara Cakra dan selly tidak ada masalah apapun pada daerah reproduksinya hanya saja tuhan tidak menitipkan anak dalam pernikahannya.
Selly keluar dari kamarnya dengan memakai gaun warna merah selutut dan rambut panjangnya dia biarkan terurai hal itu membuat Cakra melongo pasalnya selama ini Sang istri hanya menggunakan celana kulot dan atasan yang kentara dengan gaya wanita matang dan rambut selalu dia sanggul ayu menambah kesal tua nya.
"Kenapa kau berpenampilan seperti itu?" tanya Cakra pada sang istri.
"Kenapa dengan penampilanku? Kurasa tidak terlalu buruk kan? Masih ada sisi mudanya dalam diriku" ucapnya.
"Ya setidaknya dengan kau berpenampilan seperti itu sisi nenek-nenekmu tidak terlalu mencolok" ucap Cakra yang masih saja merendahkan sang istri.
"Terserah kau saja Cakra aku sudah muak dengan mu, muak dengan pernikahan kita yang sangat jauh dari kesan saling mengasihi" Jengah sekali hati Selly selalu mendengar olokan dan makian dari sang suami.
"Hahaha!! Muak kau bilang? Sana pergi sana! Mau kemana kau jika lepas dariku? Memang siapa yang mau memungut wanita tua yang sudah tidak berenergi lagi? Sudah kisut dan tak sedap di pandang" Makian terus keluar dari mulut pria arogan itu.
"Aku terlihat jelek di matamu belum tentu jelek di mata orang lain" ucapnya sembari berlalu meninggalkan Cakra.
"Dasar parasit, benalu yang kerjanya hanya shoping, ke salon tidak becus membantuku mengurus perusahaan" oceh Cakra.
¥
Di kantor, cakra berjalan melewati para karyawannya dengan langkah pongah! Dadanya membusung ke depan dengan wajah yang tak melihat atas, bawah, kiri dan kanan. Hanya menatap depan dan dengan bibir tak ada senyuman sedikitpun.
"Selamat pagi pak" ucap Rindu sekretaris pribadi sekaligus Ani-aninya Cakra.
"Pagi! Aku ingin sarapan" ucapnya dengan menaikan alisnya sebelah.
"Baiklah paduka" jawabnya sembari membuka tiga buah kancing bajunya.
Cakra meminum "sarapannya" seperti bayi yang kehausan.
"Cap cap cap!!" Suara decapan lidah si aki-aki pada permukaan gunung himalaya Rindu.
Sesudah lama, Cakra melepaskan diri dari sumber sarapan paginya dan menyuruh Rindu membetulkan kembali kancing bajunya.
"Apa saja jadwalku hari ini?" tanya Cakra.
"Tidak ada pak" jawab Rindu.
"Kenapa tidak ada? Bukannya hari ini ada rapat direksi?" tanyanya sedikit marah.
"Ya betul pak! Tapi rapat ini sudah ada yang memimpin" jawab Rindu dengan hati-hati.
"Apa? Siapa bedebah yang berani menggantikan hah?" tanya Cakra geram.
Tiba-tiba suara bariton menjawab.
"Aku yang mengantikan rapat hati ini, besok dan seterusnya om!" ucapnya menggelegar.
__ADS_1