
Pagi itu rona wajah Cakra terlihat sumringah. Bisa begitu karena ia akan berkencan dengan para kucing kecilnya (yesss party. Tender menang. Perawan menang dan akhh kenapa hidup ku semenyenangkan ini,) guamamnya senang. Ada yang bahagia tentu ada pula yang kecewa.
"Mas, kenapa kamu senyum - senyum sendiri. Bagi dong kebahagiaan nya untuk ku mas," sapa sang istri.
"Hmmmmzzz gak usah deh nanti kamu iri" decak Cakra.
"Kok mas gitu,aku kan istri kamu," jawabnya.
"Kamu itu gak usah banyak cakap. Urus saja wajahmu yang mulai kusam dan keriput itu Mas mu ini sudah bosan dengan wanita reot macam kamu ini. Mandul. Apa yang bisa mas harap dari kamu Selly. Kau sudah tidak bisa memberiku kepuasan di ranjang, bahkan sebentar lagi kau akan menopouse. Harus sadar hal itu " bentak Cakra.
"Mas kenapa kamu bisa bilang seperti itu, aku sudah berkorban banyak untuk mu, sampai aku melakukan subuah kejahatan yang luar biasa. Sampai sekarang hidup ku terasa tidak tenang seolah di kejar dosa masalalu" lirihnya sesak.
__ADS_1
"Diam, diam. Sekali lagi kau buka mulut, besar kemungkinan kau juga akan bernasib tragis seperti Mas Pratama" bentaknya.
Deg deg deg ,,, perasaan menjadi kacau dan Selly ketakutan.
"Dirman. buka pagar, saya mau berangkat. Sumpek rasanya selalu dekat dengan nenek penyihir ini" decak Cakra tajam sambil melirik istrinya yang sedang menangis.
.. begitu sedihnya Selly, hampir setiap pagi mendengar makian dari suaminya, entah apa yang ada di pikiran Cakra sampai setega itu kepada istrinya yang setia, sampai ia mau membantu suaminya meracuni kaka dan iparnya hanya demi sebuah harta dan jabatan keluarga.
Krinxxxx krinxxxxx krinxxxx.
Bunyi telpon seketika membuyarkan ingatannya.
__ADS_1
"Halooo, ya " sapa Selly.
"Hallo jeng, ini Tanti. bagaimana arisan siang nanti jadikan kita kumpul di caffe tulip dekat plazza konoha ya, Jeng Rima juga mau gabung. biasa lah sosialita harus banyak eksis ya jeng," seloroh wanita yang ada di telpon.
"Jadi, jadi jeng. Saya akan datang jam sekian. Pake aksesoris full berlian kan ya, baju motif macan ya, biar ngena status sosialnya" jawab Selly.
"Oke jeng. Sampai jumpa siang ea baby. By muachh muachh" timpal wanita itu.
Semua yang tampak depan mata hanyalah penghibur Selly semata. Semua tidak masuk pada batin. Hatinya terasa kosong, apalagi dengan harta yang dia miliki. Tetap saja tanpa kehadiran seorang anak tak bisa menggantikan rasa dingin di hatinya. Uang tidak membawa kebahagiaan seutuhnya, itu hanyalah hiasan, apalagi mengingat sikap suaminya yang jauh berubah membuat ia semakin di rundung duka.
"Gimana ya sekarang anak - anak dari Mas Pratama, apa mereka masih hidup. Apa mereka sudah tiada di jalanan, dan aku takut suatu saat mereka akan menuntut balas atas apa yang sudah aku dan Mas Cakra lakukan" gumamnya dalam hati.
__ADS_1